Materi Kerajaan Pajang

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Pajang“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Kerajaan-Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang

Kerajaan pajang adalah kerajaaan islam yang ada di Jawa, meskipun pemerintahannya tidak begitu lama tetapi kerajaan pajang  pernah berkuasa. Kerajaan pajang mestinya muncul sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit. Karena Majapahit masih bebrkuasa maka kareajaan pajang belum begitu diperhatikan. Pada abad ke-14 Pajang sudah disebut dalam kitab Negarakertagama karena dikunjungi oleh Hayam Wuruk dalam perjalanannya memeriksa bagian Barat.

Antara abad ke-11 dan 14 di Jawa Tengah Selatan tidak ada Kerajaan tetapi Majapahit masih berkuasa sampai kesana. Sementara itu, di Demak mulai muncul Kerajaan kecil yang didirikan oleh tokoh-tokoh beragama Islam. Namun, sampai awal abad ke-16 kewibawaan raja Majapahit masih diakui.

Setelah Majapahit mengalami kemunduran atau lebih tepatnya pada akhir abad ke 17 dan awal abad ke 18 para penulis  kertasura menuliskan asal-usul kerajaan pajang. Kerajaan Pajang adalah kerajaan islam di Jawa yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Kerajaan pajang terletak di pengging yang dulunya dipimpin oleh Ki Ageng Pengging selaku Bupati. Yang kemudian dihukum mati oleh raja Demak karena dugaan ingin berontak terhadap kerajaan Demak. Setelah dewasa Jaka Tingkir mengabdikan diri ke Demak, karena kepandaiannya ia diangkat menjadi menantu oleh Sultan Trenggono.

Setelah sultanTrenggono meninggal terjadi perebutan kekuasaan ataran pangeran Sekar Sedolepan dengan Sunan Prawoto. Setelaha sunan Prawoto menjadi raja beliau berhasil dibunuh oleh Arya Penangsang anak Pangeran Sekar Sedolepan tetapi Arya Penangsang berhasil dikalahkan oleh Jaka tingkir yang kemudian dinobatkan menjadi raja dengan nama Hadiwijaya dan beliau memindahkan semua daerah kekuasaan ke Pajang. Ada tiga raja yang pernah memimpin kerajaan pajang, raja pertama adalah Hadiwijaya pendiri kerajaan Pajang itu sendiri. Yang kedua adalah Arya Pangiri anak angkat sekaligus menantunya yang awalnya memimpin Demak. Yang ketiga adalah pangeran Benawa anak kandung Hadiwijaya yang kemudain merebut  kekuasaan dari tangan Arya Pangiri.

Kerajaan Pajang dipuncak masa keemasan pada masa kepemimpinan Hadiwijaya, dimana beliau dapat membuat para Raja penting di Jawa timur mengakui kekuasaanya. Beliau berhasil memperluas daerahnya. Selain memperluas dearahnya Pajang mempunyai lumbung padi yang besar karena irigasinya berjalan lancar. Dalam aspek sosial budaya dan ekonomi Pajang mengalami kemajuan.

Dibidang sosial Budaya, kebudayaan yang semula sudah berkembang di Demak dan Jepara menyebar kepedalaman begitupun dengan agama islam yang perlahan menyebar di pedalaman dan pesisir pantai utara dan masyarakat Pajang menjalankan syariat islam dengan sungguh-sungguh. Dalam aspek ekonomi pertanian maju dengan pesat, memiliki lumbung padi yang besar bahkan Pajang sudah melakukan eksport beras melalui perniagaan bengawan solo.

Untuk aspek politik sendiri banyak sekali perselisihan karena perebutan kekuasaan, wali sanga yang dulunya berperan penting pada masa kerajaan Demak bahkan ikut menentukan keputusan politik kerajaan Demak tetapi pada masa kerajaan pajang wali sanga juga masih berperan tapi tidak begitu kental ditambah Sunan Kalijaga meminta kepada sunan kudus agar para wali tidak ikut campur karena sebagai orang tua dan penyebar agama tidak sepantasnya ikut berkelahi merebutkan kekuasaan.

Banyak sekali pihak luar yang ikut campur dengan perselisihan perebutan kekuasaan. Pajang dulunya adalah daerah Pengging, Jaka Tingkir adalah anak dari Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging yang menjadi bupati di pengging (Hendra 2012). Jadi sebenarnya Pajang dulunya adalah daerah pengging yang bupatinya adalah Ki Ageng Pengging. Ki Ageng pengging yang akhirnya dihukum mati oleh raja demak karena dianggap akan memberontak kerajaan Demak dan untuk menklukkan pengging maka dihukum matilah ki Ageng pengging.

Jaka Tingkir yang dulunya menjadi seorang  tamtam di jerajaan Demak di bawah pemerintah Pangeran trenggana, karena keahlianya ia dijadikan meenanntu oleh Sultan Demak(Marwati Djoened Poesponegoro 2010:55). Sepeninggal Sultan Trenggono, Demak mengalami kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen, saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto, putra sulung Sultan Trenggono. Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.

Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang (Aprilia Kirana, 2012). Jaka Tingkir menyuruh Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ngabei Loring Pasar, dan Juru Martani untuk menyerang Arya Penangsang.   Dengan kemenangan tersebut lalu berpindahlah kekuasaan Demak ke Pajang yang dipimpin oleh Jaka Tingkir atau Hadiwijaya (Hendra, 2012).

Keberhasilan jaka tingkir mengalahkan Arya Penangsang membawa kemujuran dalam hidupnya. Setelah ia mengalahkan Arya penangsang ia dinobatkan menjadi raja demak yang kemudian pusat pemerintahanya di pindahkan ke Pajang hingga akhirnya menjadi kerajaan  Pajang.


Silsilah Kerajaan Pajang

Berikut ini terdapat beberapa silsilah kerajaan pajang, yaitu sebagai berikut:


  1. Jaka Tingkir

Nama kecil Jaka Tingkir adalah Mas Krebet. Hal tersebut dikarenakan ketika kelahiran Jaka Tingkir, sedang ada pertunjukan wayang beber di rumahnya. Saat remaja, ia memiliki nama Jaka Tingkir. Nama itu dinisbatkan pada tempat dimana ia dibesarkan. Pada perkembangannya, Jaka Tingkir menjadi menantu dari Sultan Trenggana (Sultan Kerajaan Demak). Setelah berkuasa di Pajang, ia kemudian mendapat gelar “Hadiwijaya”. Jaka Tingkir berasal dari daerah Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Jaka Tingkir juga merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari daerah Kadilangun.

Melalui pemberontakan yang kemudian menjadi akhir dari kerajaan Demak, Jaka Tingkir berhasil mendirikan kerajaan Islam baru. Meskipun tidak lama, namun bukan berarti kerajaan ini tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap perkembangan Islam di Jawa Tengah, tepatnya di daerah pedalam Jawa Tengah. Di bawah pimpinanya, kerajaan ini mengalami beberapa kemajuan. Salah satu kemajuannya adalah usaha ekspansi wilayah kekuasaan, seperti ekspansi ke daerah Madiun.

Artikel Terkait:  Materi Pertempuran Surabaya

  1. Arya Pengiri

Saat memerintah Pajang, Arya Pengiri terkesan kurang bijaksana. Oleh sebab itu, pada tahun 1588 Pangeran Benawa atas bantuan Senopati dari Mataram mengambil alih takhta Kesultanan Pajang. Senopati sendiri merupakan anak angkat Sultan Adiwijaya. Sejak saat itu, Pajang diperintah oleh  Pangeran benawa.


  1. Pangeran Benawa

Setelah berhasil mendapatkan kembali tahta Kesultanan Pajang, pangeran benawa menyerahkan kekuasaannya kepada Senopati yang dianggap sebagai saudaranya sendiri. Namun, Senopati lebih suka tinggal di Mataram, sehingga Pangeran benawa tetap menjadi Raja Pajang.

Dalam memerintah pajang, pangeran Benawa didampingi oleh Senopati. Masa pemerintahan Pangeran Benawa tidak lama. Baru satu tahun menjadi raja, Pangeran Benawa wafat. Ada yang mengatakan bahwa Pangeran benawa tidak wafat melainkan meninggalkan Pajang untuk membaktikan diri pada agama.


  1. Gagak Bening

Sepeninggalan Pangeran Benawa, Pajang diperintah oleh gagak Bening. Gagak Bening adalah seorang Pangeran dari Mataram. Dalam pemerintahannya, Gagak Bening banyak melakukan perombakan dan perluasan istana. Pemerintahan Gagak Bening tidak berlangsung lama, hanya sampai tahun 1591.


  1. Pangeran Benawa II

Setelah Gagak Bening wafat tahun 1591, dia digantikan oleh Pangeran Benawa, cucu Sultan Adiwijaya. Ketika memerintah Pajang, Pangeran Benawa masih muda, dia dikenal dengan Pangeran Benawa II. Pada masa pemerintahannya, pajang tidak banyak mengalami kesulitan.

Pada tahun 1617-1618 Pajang mendapat dukungan dari banyak pihak untuk melepaskan diri dari Mataram. Maka Pajang kemudian menyerang Mataram. Penyerangan tersebut justru menjadi sebab kehancuran Pajang.


Kehidupan Politik Kerajaan Pajang

Pada masa Kerajaan Demak wali sanga berperan sangat penting karena mereka ikut memmbangun dan mendirikan kerajaan Demak tersebut bahkan mereka ikut menentukan kebijakan politik demak. Tetapi setelah masa kerajaan Pajang peran wali sanga masih dibutuhkan tetapi tidak terlalu kental. Dalam berita dikabarkan bahwa Sunan Kudus terlibat dalam pembunuhan Sunan Prawata yang yang dibunuh oleh Arya Panangsang.

Setelah terjadi perselisihan antara Ayapenangsang dan Hadiwijaya Dikisahkan Sunan Kalijaga memohon kepada Sunan Kudus agar para sepuh, Wali sebagai ulama dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Tidak ikut campur dalam urusan “rumah tangga” anak-anak. Biarkanlah Arya Penangsang dan Hadiwijaya menyelesaikan persoalanya sendiri (Andy Candra, 2012). Mereka hanya mengamati semua yang terjadi dan mereka hanya berkata “sing becik ketitik sing olo ketoro”.

Jadi disitu terlihat jelas bahwa mereka yang bersangkutan harus menyelesiakan permasalahan masing-masing tanpa campur aduk orang lain, karena pasti ada banyak pihak yang ingin melihat kehancuran dari mereka. Terjadi banyak perselisihan yang terjadi, dan perselisihan itu terjadi karena perebutan kekuasaan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka hanya mementingkan keinginan mereka dan apa yang mereka lakukan semata-mata hanya kerana pemikiran mereka masing-masing. Mereka hanya gila akan kekuasaan yang ingin mereka dapatkan.

Dikisahkan Sunan Kudus sebagai Guru Sultan Hadiwijaya, mengundang Sultan untuk datang ke Kudus untuk mendinginkan suasana. Pada saat itu terjadi perang mulut antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dan mereka saling menghunus keris. Konon Sunan Kudus berteriak: “Apa-apaan kalian! Penangsang cepat sarungkan senjatamu, dan masalahmu akan selesai!” Arya Penangsang patuh dan menyarungkan keris ‘Setan Kober’nya. Setelah pertemuan usai, konon Sunan Kudus menyayangkan Arya Penangsang, maksud Sunan Kudus adalah menyarungkan keris ke tubuh Sultan Hadiwijaya dan masalah akan selesai.

Tetapi setelah itu Arya Penangsang dapatdikalahkan oleh Hadiwijaya dengan cara kuda gerak rimang yang tunggangi oleh Arya penangsang di pancing oleh bkuda betina Sutawijaya melewati bengawan sore setelah di luar bengawan sore kekuatan Arya Penangsang melemah dapat dibunuh. Atas jasanya Ki Penjawi diberi tanah di Pati dan Ki Gede Pemanahan diberi tanah di Mentaok, Mataram.

Sutawijaya adalah putra Ki Gede Pemanahan dan merupakan putra angkat Sultan Hadiwijaya sebelum putra kandungnya,  Pangeran Benawa lahir. Sutawijaya konon dikawinkan dengan putri Sultan sehingga Sutawijaya yang akhirnya menjadi  Sultan Pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati, anak keturunannya masih berdarah Raja Majapahit.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang mengalami kemajuan di bidang pertanian sehingga menjadi lumbung beras dalam abad ke-16 dan 17 (Andy Candra, 2012). Kemajuan pertanian itu tidak terlepas karena pajang yang terletak di Datarann Rendah tempat bertemunya sungai pepe dan sungai dengkeng, kedua sungai tersebut berasal dari sumber mata air dari lereng gunung merapi dean bengawan solo sehingga irigasi berjalan lancar dan pertanianpun mengalami kemajuan yang pesat.

Pada masa kejayaan Demak, pajang sudah melakukan eksport beras melalui perniagaan bengawan solo. Melihat lumbung padi yang begitu besar  Demak ingin menguasai pajang dan juga mataram kerana lumbung padinya untuk membentuk negara yang agraris maritim yang ideal.


Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Pajang

Pada zaman Pakubuwono I dan Jayanegara bekerja sama untuk menjadikan Pajang semakin maju dibidang pertanian sehingga Pajang menjadi  lumbung beras pada abad ke-16 sampai abad 17, kerja sama tersebut saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kehidupan rakyat Pajang mendapat pengaruh Islamisasi yang cukup kental sehingga masyarakat Pajang sangat mengamalkan syariat Islam dengan sungguh-sungguh.

Pada pemerintahanSultan Hadiwijaya dunia kesusastraan serta kesenian yang semula sudah berkembang di Demak dan Jepara perlahan-lahan mulai menyebar di pedalaman selaian kesusastraan yang menyebar pedalaman agama islam juga memberikan pengaruh yang kuat dipedalaman dan pesisir pantai.


Maja Kejayaan Kerajaan Pajang

Masa kejayaan kerajaan Pajang terjadi pada masa pemerintahan raja Hadiwijaya atau jaka tingkir raja pertamanya. Sultan Pajang mulai melakukan perluasan kekuasaan sehingga beberapa daerah sekitarnya antara lain Jipang dan Demak sendiri mengakui kekuasaan pajang. Demikian pula ia meluaskan pengaruhnya ke daerah pesisir utara seperti Jepara, Pati, bahkan kearah barat sampai ke Banyumas. Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kekusastraan dan kesenian yang sudah maju di Demak, dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa.

Artikel Terkait:  Rangkuman Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Adalah

Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir dan menjalar tersebar ke daerah pedalaman. Pada masa pemerintahan Raja Hadiwijaya mulai banyak raja-raja kecil yang tunduk padanya selain itu ia juga memperluas daerahnya sampai madiun, aliran anak sungai solo myang besar, blora dan kediri. Pada tahun 1581, ia berhasil mendapatkan pengakkuan sebagai sultan islam dari Raja-Raja penting di Jawa Timur.

Untuk peresmiannya pernah diselenggarakan pertemuan bersama di istana Sunan Prapen di Giri, hadir pada kesempatan itu para Bupati dari Jipang, Wirasaba (Majaagung), Kediri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem,Tuban, dan Pati. Pembicara yang mewakili tokokh-tokoh Jawa Timur adalah Panji Wirya Krama, Bupati Surabaya.

Disebutkan pula bahwa Arosbaya (Madura Barat) mengakui Adiwijaya sehubunga dengan itu bupatinya bernama Panembahan Lemah Duwur diangkat menantu Raja Pajang. Dari itu semua dapat terlihat bahwa sudah ada hubungan baik antara kerajaan pajang dengan Raja-Raja di Jawa Timur dan itu berdampak baik pada kedua pihak.


Runtunya Kerajaan Pajang

Sultan Adiwijaya meninggal pada 1587. Kemudian dimakamkan di Butuh, yang terletak tidak jauh di sebelah barat taman Kerajaan Pajang. Makam itu hingga kini masih dikenal sebagai Makam Aji.

Sepeninggalan Sultan Adiwijaya pada 1587, kerajaan Pajang ditaklukan oleh negara bawahannya, mataram. Keterangan mengenai hal ini pada umumnya hanya terdapat dalam buku-buku babad, terutama Babad Tanah Jawi, yang ditulis oleh para pujangga Mataram satu abad kemudian. Mudah dipahami apabila banyak keterangan-keterangan yang lebih memihak kepada mataram, namun bahwa pertengahan terakhir abad ke-16 para sultan Pajang hanyalah berkedudukan sebagai raja bawahan dari kerajaan mataram adalah pasti.

Sesudah sultan Adiwijaya masih ada lima raja lagi yang berturut-turut memerintah di Pajang. Ahli waris pertama kerajaan Pajang ialah tiga putra menantu Sultan, yakni Raja di Tuban, Raja di Demak dan raja di Arisbaya, disamping putranya sendiri, pangeran Banawa, yang masih sangat muda ketika ayahnya meninggal dunia. Dalam hubungan ini Sunan Kudus menggunakan wibawa kerohaniannya untuk mengangkat Aria Pangiri, anak susuhunan Prawoto yang terbunuh, Raja Demak untuk menggantikan sebagai raja pajang.

Jelas usaha ini dimaksudkan untuk mengembalikan kekuasaan kesultanan Islam di jawa kepada keturunan langsung dari Demak. Namun Aria Pangiri sebagai sultan kedua di Pajang tidaklah berlangsung lama. Ia berhasil disingkirkan dan dikembalikan ke Demak oleh Pangeran Banawa dengan dukungan Senapati dari Mataram.

Menurut Babad Mataram Pangeran Banawa menyerahkan hak waris kerajaanya kepada Senapati Mataram yang dianggapnya sebagai kakak. Tetapi Senapati ingin tetap tinggal di Mataram dan ia hanya minta perhiasan emas intan kerajaan Pajang. Pangeran Banawa dikukuhkan sebagai raja Pajang di bawah perlindungannya.

Hanya setahun saja Pangeran Banawa menjadi raja kemudian ia meninggalkan kerajaan untuk membaktikan diri pada agama di Parakan (daerah Kedu utara). Oleh Senapati Pajang dipercayakan kepada seorang Pangeran muda dari Mataram, Gagak Bening. Pangeran ini banyak melakukan perombakan dan perluasan istana Pajang. Ia meninggal kira-kira tiga tahun kemudian, 1591.

Sebagai penggantinya ditunjuk putra Pangeran Banawa, cucu almarhum Sultan Adiwijaya. Pangeran Banawa II ini masih sangat muda ketika mulai memerintah. Pada masa-masa pemerintahan raja-raja mataram berikutnya seperti pada masa Panembahan Seda-ing-Krapyak, Pangeran Banawa II ini juga tanpa mengalami kesulitan yang besar dalam meemrintah.

Namun pemberontakan Pajang terhadap Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung telah mengancurkan Pajang untuk selama-lamanya. Pemberontakan ini terjadi pada 1617-1618 dan memperoleh dukungan dari pihak-pihak yang tidak puas di Mataram. Pmberontakan Pajang ini mudah dipahami pula, karena secara ekonomis Pajang senantiasa ditekan, dahulu oleh Demak dan sekarang oleh Mataram. Menurut catatan VOC pemberontakan itu terjadi pada masa musim kering yang luar biasa hebatnya yang berlangsung dari tahun 1618-1624.

Sebagai hukuman atas pemberontakan yang berupa tidak mau menyetorkan hasil berasnya kepada Mataram, sawah-sawah di Pajang yang padinya sedang menguning dibakar habis oleh pasukan Mataram. Para petani yang terlibat dalam pemberontakan itu kemudian diangkut secara paksa ke Mataram. Tenaga mereka dimanfaatkan dalam pembangunan kraton baru di Plered yang letaknya 1 km sebelah timur laut ibukota Mataram yang lama. Sesudah itu Pajang tidak lagi berarti baik politik ataupun ekonomi.


Peninggalan Kerajaan Pajang

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan pajang, yaitu sebagai berikut:


  • Masjid Laweyan

Masjid-Laweyan

Masjid leweyan ini di bangun sekitar tahun 1546, masjid ini didirikan oleh djoko tingkir di kerajaan pajang. Masjid ini di bangun dengan unsur tradisional jawa, eropa, cina dan islam.dan di sampingnya terdapat makam-makam kerabat kesultanan yaitu makam ki ageng henis, ki ageng henis adalah penasehat spiritual kerajaan pajang. Beliau merupakan keturunan Majapahit dari silsilah raja brawijaya. Ruang masjid di bagi menjadi tiga bagian yaitu ruang induk (utama) dan serambi yang di bagi menjadi serambi kanan dan serambi kiri.


  • Bandar Kabanaran

Bandar-Kabanaran

Kyai Ageng Henis bermukim di Laweyan dengan mengemban misi dakwah Islam. Beliau juga menyajikan cara pembuatan teknik batik kepada penduduk setempat. Sejak itu di dunia perdagangan dan perindustrian semakin ramai. Untuk mendukung arus lalu lintas perdagangan yang semakin padat,dan banyak pelabuhan atau bandar di selatan Kampung Laweyan yang berada di tepi Sungai Kabangan dan ditimur Masjid Laweyan. Pelabuhan itu dikenal dengan nama Bandar Kabanaran, yang menghubungkan Kerajaan Pajang, Kampoeng Laweyan dan Bandar Besar Nusupan di tepi Sungai Bengawan Solo.


  • Pasar Laweyan

Pasar-Laweyan

Laweyan adalah sebuah kabupaten di sebelah barat kota Surakarta. Daerah ini dikenal dengan populasi mayoritas sebagai pedagang batik. Nama Laweyan sendiri digunakan untuk merujuk pada kelompok-kelompok tertentu yang dikenal sebagai orang kaya atau wong Nglawiyan. Tentu saja, judul itu terkait dengan kelompok ini karena daerah tersebut merupakan tempat tinggal pengusaha batik Jawa dan juga pusat perdagangan batik.

Nama Laweyan sendiri memiliki pendapat bahwa itu berasal dari kata Lawiyan, yang berarti ali-bukan (shift), yang adalah Ngaliyan pada awal pengucapannya, yang akhirnya menjadi kata Lawiyan. Lawiyan sendiri adalah tempat di mana orang-orang dari desa Nusupan pindah. Mereka bergerak untuk menghindari bencana banjir Bengawan Sala, yang sebelumnya dikenal sebagai Bengawan Nusupan atau Bengawan Semanggi.

Artikel Terkait:  Anggota BPUPKI

Desa Nusupan di Kerajaan Pajang menjadi pelabuhan yang memainkan peran yang sangat penting. Namun, karena sering banjir, ia pindah ke Lawiyan. Sejak itu, Wong Nglawiyan disebut oleh Sala sebagai kelompok orang kaya. Setelah itu, Lawiyan berkembang sangat cepat. Ini bisa dilihat pada munculnya pengusaha batik pertama bernama Sarekat Dagang Islam, yang didirikan oleh Kyai Haji Samanhudi.

Pasar Laweyan sendiri tidak jauh dari Bandara Kabanaran. Pasar ini dulunya adalah pusat perdagangan utama di Bandar Kabanaran. Masyarakat sekitar masih menggunakan pasar Laweyan untuk transaksi komersial. Namun, tidak ada warisan sejarah spesifik yang menjelaskan evolusi pasar.


  • Makan Para Bangsawan Pajang

Makan-Para-Bangsawan-Pajang

Warisan yang tak kalah penting adalah kompleks makam bangsawan kerajaan Pajang. Ada 20 kuburan di kuburan ini, salah satunya adalah makam Ki Ageng Henis, yang merupakan salah satu pelopor dalam pendirian Kerajaan Kerajaan Pajang. Kuburan dikunjungi oleh banyak wisatawan setelah layanan di Masjid Laweyan.

Kita harus mengetahuinya bersama, Ki Ageng Henis adalah anak Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo Sendiri terkenal dengan kisah ajaibnya yang mampu menangkap kilat. Ki Ageng Selo sendiri melayani Sultan Hadiwijaya atau lebih akrab dengan Joko Tingkir. Karena layanannya yang luar biasa, ia kemudian menerima wilayah kekuasaan di wilayah Laweyan, dan ini adalah cikal bakal Masjid Laweyan.


  • Makam Joko Tingkir

Makam-Joko-Tingkir

Joko Tingkir, juga dikenal sebagai Mas Karebet, memiliki nama asli Sultan Hadiwijaya. Joko Tingkir adalah pendiri dan juga raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah Pajang dari tahun 1549 hingga 1582.

Hanya sedikit orang yang tahu lokasi makam Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja pertama dan pendiri kerajaan Pajang. Itu tidak sama dengan makam raja-raja Solo dan Yogyakarta, yang dikenal banyak orang dan selalu penuh sesak dengan peziarah dari dan sekitar.

Kuburan Jaka Tingkir berada jauh di desa-desa terpencil. Lebih khusus lagi, makam ini sangat membutuhkan, Gedongan, Plupuh, Dusun II, Gedongan, Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kompleks pemakaman Jaka Tingkir disebut Makam yang Diperlukan, yang ditandai dengan keberadaan bangunan masjid yang disebut Masjid-Diperlukan.

Ini adalah informasi yang dapat saya berikan mengenai warisan kerajaan Pajang yang bersejarah. Jika kita mengetahui sejarah kerajaan Indonesia, kita pasti akan menghargai dan tahu betapa luar biasanya perjalanan bangsa ini. Jika kita tahu ceritanya, kita juga bisa mengambil pelajaran untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari.


  • Kesenian Batik Laweyan

Kampung Batik Laweyan adalah salah satu wisata yang dikelola langsung oleh pemerintah tunggal. Ini berfungsi untuk membuat wisatawan asing dan lokal antusias dengan seni batik. Desa ini adalah pusat batik di kota Solo dan telah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Pajang pada tahun 1546.

Kampung Laweyan sendiri dibuat dengan konsep yang terintegrasi, yaitu dengan menggunakan tanah dengan luas sekitar 24 hektar, yang kemudian dibagi menjadi tiga blok. Di desa batik ini ada ratusan pengrajin batik yang berdagang dengan produk batik motivasi mereka. Contoh motif seperti Truntum dan Tirto Tejo ditawarkan dengan harga berbeda.

Orang-orang yang tinggal di desa Laweyan telah tinggal di bidang kain sejak abad ke-14, dan pada saat itu orang-orang di desa Laweyan dianggap sebagai produsen kain berkualitas tinggi, karena mereka masih dibuat di cara tradisional. Oleh karena itu, nama Laweyan juga menjadi nama panggilan untuk komunitas ini, karena Lawe memiliki makna utas dalam bahasa Jawa.

Profesi menjadi batik dari generasi ke generasi, dan daerah ini akhirnya berkembang pada awal abad ke-20, yang dapat dicapai oleh seorang pengusaha bernama Samanhudi memperkenalkan teknik batik yang lebih modern, yaitu batik cap. Dengan diperkenalkannya teknik ini, proses pembuatan batik menjadi lebih efisien. Industri batik di Laweyan juga berkembang sangat cepat.

Namun, industri batik mengalami kemunduran lagi karena adanya tekanan batik. Batik printing tentunya memiliki harga yang lebih murah dan proses pembuatan yang lebih cepat. Ini membuat industri batik menjadi kemunduran yang luar biasa.

Kebangkitan Laweyan sebagai pusat batik kembali pada tahun 2004. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa angka-angka berkumpul di wilayah Laweyan tahun ini untuk membahas masalah masa depan yang dihadapi industri batik di Laweyan. Sejak itu, kegiatan bisnis di Laweyan telah meningkat. Mereka mengubah teknik penjualan di mana Laweyan menjadi tidak hanya tempat produksi, tetapi juga tempat wisata.

Para tamu yang datang juga akan lebih bahagia karena mereka tidak hanya bisa membeli batik, tetapi juga melihat proses pengolahan batik dan bahkan membuat batik. Penunjukan Laweyan sebagai tujuan wisata semakin didukung, karena area Laweyan ditetapkan sebagai cagar budaya.


Daftar Pustaka:

  1. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta. Raja Grafindo. 2011
  2. Graaf dan Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta. Pustaka Grafiti Pers 1985
  3. Huda Nor. Islam Nusantara. Yogyakarta. Ar-Ruz Media. 2013
  4. Pratanto, Eko. Sejarah Indonesia. Jakarta: PT. Bina Sumber Daya. 2010
  5. Triyono Suwito. Sejarah. Bandung. Titian ilmu. Tanpa Tahun

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Kerajaan Pajang: Sejarah, Silsilah, Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya, Masa Kejayaan, Runtuh dan Peninggalan

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: