Sifat Fisik Mineral

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Mineral“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Sifat-Fisik-Mineral

Saat kita membicarakan mengenai tanah, tentu tidak terlepas dari istilah batuan. Proses pembuatan atau asal usul dari batuan urgen untuk dipelajari. Hal ini sehubungan dengan pelajaran penyusun yang terdapat di dalam batuan tersebut. Sehingga, butuh pembahasan tentang materi penyusun batuan khususnya dalam mempelajari sifat jasmani dari mineral yang terdapat di dalam batuan.

Semua pelajaran mineral yang anda ketahui sekitar ini mempunyai susunan kimiawi tertentu dan dibentuk oleh atom – atom yang teratur. Sehingga masing-masing mineral memiliki sifat kimia ataupun fisika yang bertolak belakang antara mineral satu dengan mineral yang lainnya. Dengan mempelajari sifat – sifat tersebut, masing-masing mineral akan gampang untuk diidentifikasi rangkaian kimianya dalam batasan tertentu. Sifat – sifat jasmani mineral berupa:


Sifat Fisik Mineral

Berikut terdapat beberapa sifat fisik mineral, terdiri atas:


1. Struktur (Form)

Bentuk – format mineral dapat disebutkan kristalin bilamana mineral itu mempunyai bidang kristal yang lumayan jelas dan khas atau dinamakan dengan amorf. Kekhasan yang dipunyai mineral kristalin bisa berupa:

  • Bangun kubus: galena, pirit.
  • pimatik: piroksen, ampibole.
  • Bangun doecahedon: garnet.
  • Mineral amorf: chert, flint.

Mineral – mineral yang terdapat di alam seringkali jarang didatangi dalam format kristalin, urusan ini diakibatkan adanya gangguan dari proses – proses lain. Sehingga dalam proses pembentukannya mineral itu bergantung pada situasi lingkungannya, seringkali akan mengakibatkan format mineral kristal yang khas dapat berdiri sendiri maupun berkelompok. Kelompok mineral kristal atau agrasi mineral bisa dikelompokan menurut strukturnya, yaitu:


  • Struktur granular atau struktur butiran

Terdiri atas butiran – butiran mineral yang mempunyai dimensi yang sama atau isometrik. Berdasarkan ukuran butirannya, dapat dipisahkan menjadi penerokristalin/kriptokristalin yakni mineral yang dapat disaksikan dengan mata telanjang dan sakaroidal yakni mineral yang mempunyai ukuran sebesar gula pasir.


  • Struktur kolom

Terdiri atas format prisma panjang dan ramping. Jika format prisma tersebut lumayan panjang dan halus, maka mineral tersebut memiliki struktur fibrous atau struktur berserat. Struktur kolom sendiri dipisahkan menjadi struktur jaring – jaring (retikuler), struktur bintang (stelated) dan radier.

Artikel Terkait:  Materi Diastropisme

  • Struktur lembaran atau lameler

Terdiri atas lembaran – lembaran mineral. Individu – pribadi dari mineral yang berbentuk pipih dinamakan struktur tabuler contohnya yakni mika. Struktur lembaran dipisahkan menjadi 2 yakni struktur konsentris, tabular dan foliasi.


  • Struktur imitasi

Merupakan kumpulan mineral yang memiliki kesamaan dalam hal format dengan benda lain, laksana asikular, filiformis, membilah dan beda sebagainya. Biasanya mineral ini bisa berkelompok maupun berdiri sendiri.


2. Pecahan (Fracture)

Pecahan mineral terbagi menjadi:

  • Concoidal: pecahan yang menyusun gelombang melengkung pada permukaan pecahan, laksana pecahan botol atau kenampakan kulit kerang, contohnya yakni kuarsa.
  • Splintery/Fibrous: pecahan yang menunjukkan seperti serat. Contohnya yakni asbes, augit dan hipersten.
  • Even: pecahan yang dihasilkan format permukaan yang halus. Contohnya limonit.
  • Uneven: pecahan yang didapatkan memiliki format permukaan yang kasar. Contohnya magnetit, hematite, kalkopirite dan garnet.
  • Hackly: pecahan itu menghasilkan permukaan yang kasar, tidak tertata dan runcing – runcing. Contohnya yakni native unsur emas dan perak.

3. Kilap (Luster)

Kilap ialah kesan yang diserahkan oleh mineral ketika terkena pantulan cahaya. Kilap sendiri dipisahkan menjadi 2 yaitu:

  • Kilap Logam: Pantulan oleh cahaya menyerahkan kesan laksana logam. Kilap jenis ini biasa ditemukan pada mineral yang berisi logam atau mineral bijih laksana emas, pirit, kalkopirit dan galena.
  • Kilap Non Logam: Kilap ini tidak menyerahkan kesan logam ketika terkena cahaya. Kilap non logam dapat dipisahkan menjadi:
  • Kilap kaca atau vitreous luster: kesan yang diserahkan seperti kaca ketika terkena cahaya. Contohnya yakni kuarsa, kalsit dan halit.
  • Kilap intan atau adamantine luster: kasan yang diserahkan seperti intan ketika terkena cahaya misalnya intan.
  • Kilap sutera atau silky luster: menyerahkan kesan laksana sutera dan seringkali ditemukan pada mineral yang mempunyai struktur serat, laksana gipsum, asbes dan aktinolit.
  • Kilap damar atau resinous luster: kasan yang diserahkan seperti damar, misalnya resin dan sfalerit.
  • Kilap mutiara atau pearl luster: kesan yang diserahkan seperti mutiara atau unsur dalam dari cangkang kerang, contohnya yakni talk, muskovit, dolomit dan tremolit.
  • Kilap lemak atau greasy luster: serupa dengan sabun atau lemak, misalnya talk dan serpentin.
  • Kilap tanah: mempunyai kenampakan buram laksana halnya tanah, misalnya kaolin, bentonit, dan limonit.

4. Kekerasan (Hardness)

Ketahanan sebuah mineral terhadap goresan itulah yang disebut kekerasan dalam mineral. Untuk memahami tingkat kekerasan mineral, secara relatif dapat memakai skala Mohs yang dibuka dari angka 1 yang dengan kata lain paling lunak sampai angka 10 yang berarti mineral tersebut sangat keras. Skala Mohs meliputi:

  1. Talk
  2. Gipsum
  3.  Kalsit
  4. Fluorit
  5. Apatit
  6. Feldspar
  7. Kuarsa
  8. Topaz
  9.  Korundum
  10. Intan
Artikel Terkait:  Konsep Wilayah Dan Perwilayahan

Seperti yang anda ketahui andai skala Mohs adalah skala yang relatif. Bagi mengukur kekerasan ini, dapat memakai alat – alat simpel seperti kuku, pisau baja dan beda sebagainya, laksana pada susunan di bawah ini:

Alat Penguji[/th] [th]Derajat Kekerasan Mohs

  1. Kuku Manusia[/td] [td]2,5
  2. Kawat Tembaga[/td] [td]3
  3. Pecahan Kaca[/td] [td]5,5 – 6
  4. Pisau Baja[/td] [td]5,5 – 6
  5. Kikir Baja[/td] [td]6,5 – 7

5. Warna (Colour)

Warna pada mineral ialah kenampakan yang dapat disaksikan secara langsung andai terkena cahaya. Warna mineral dipisahkan menjadi:


  • Idiokromatik

Warna mineral akan tidak jarang kali sama atau tetap. Biasanya ditemukan pada mineral – mineral yang tidak dapat tembus cahaya (opak), laksana magnetik, pirit dan galena.


  • Alokromatik

Warna mineral tidak tetap atau bisa berubah, urusan ini tergantung dari meterial pengotornya dan seringkali dapat dimasuki cahaya, laksana kalsit dan kuarsa.


6. Cerat (Streak)

Cerat adalah warna dari mineral dalam wujud serbuk atau hancuran. Warna mineral ini dapat didapatkan jika mineral digoreskan pada unsur kasar laksana kepingan porselin atau dilaksanakan penumbukan mineral lalu disaksikan warna bubuk tersebut. Cerat bisa sama dengan warna pribumi dari mineral tetapi ada pun yang berbeda, laksana contoh

  • Pirit: berwarna keemasan, ketika digores hasil serbuknya bakal menjadi warna hitam.
  • Hematit: berwarna merah, tetapi hasil serbuk bakal berwarna merah kecoklatan.
  • Biotite: cerat tidak berwarna

7. Belahan (Cleavage)

Belahan adalah kenampakan dari mineral yang menurut kemampuannya guna membelah melewati bidang belahan yang rata dan pun licin. Biasanya bidang belahan berbentuk sejajar dengan bidang tertentu. Contoh mineral yang bisa membelah yakni kalsit. Kalsit mempunyai tiga arah belahan sementara untuk kuarsa, tidak mempunyai belahan. Belahan sendiri terbagi menjadi:

  • Belahan satu arah, contohnya: muscovite
  • Belahan dua arah, contohnya: feldspar
  • Belahan tiga arah, contohnya: halit dan kalsit

8. Berat Jenis (Specific Gravity)

Merupakan komparasi antara berat pada mineral dengan volume mineral. Untuk memahami berat jenis mineral yakni dengan teknik menimbang terlebih dahulu mineral tersebut. Selanjutnya, guna mendapatkan volume mineral, dapat dilaksanakan dengan memasukannya ke dalam air yang sedang di gelas ukur. Volume air mula atau sebelum dimasukan mineral, dikurangi dengan volume air akhir atau sesudah dimasukan mineral. Itulah jumlah volume mineral.

Artikel Terkait:  Mengapa Langit Berwarna Biru

9. Kemagnetan

Sifat dari mineral terhadap gaya magnet. Berdasarkan reaksi mineral ketika dipapar medan magnet, dipisahkan menjadi tiga jenis:


  • Ferromagnetik

Mineral – mineral ferromagnetik akan gampang untuk ditarik atau diterik dengan kuat andai ada medan magnet dari luar. Mineral ferromagnetik mempunyai sifat kemagnetan yang permanen. Contohnya yakni magnetit, pyrrhotit, isovite, symthite dan beda sebagainya.


  • Paramagnetik

Mineral – mineral paramagnetik bakal diterik oleh medan magnet melulu sementara saja. Mineral ini akan mempunyai sifat magnetik ketika berada dekat disekitar medan magnet, andai dijauhkan dari medan magnet bakal hilang sifat kemagnetannya. Contohnya yakni hematit, pirit, olivin, mineral mika dan beda – lain.


  • Diamagnetik

Mineral – mineral yang tidak bakal tertarik oleh medan magnet. Mineral diamagnetik sebetulnya sedikit menampik medan magnet, dan yang tergolong mineral ini yakni sulfur, kuarsa, calcite, ortoklas, gipsum, talk, intan dan beda – lain.


10. Sifat Dalam (Tenacity)

Merupakan sifat jasmani mineral ketika kita mematahkan, menghancurkan, membengkokkan, mencukur atau mengiris. Dan yang tergolong ke dalam sifat dalam yaitu:

  • Rapuh (brittle): gampang hancur tetapi biasa terpotong (kuarsa, pirit, kalsit)
  • Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis (emas dan tembaga)
  • Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan paling rapuh (gypsum)
  • Fleksibel: mineral dalam format lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah namun andai sudah bengkok tidak bisa kembali ke format semula (talk dan selenit).
  • Blastik: mineral dalam format lapisan tipis,saat dibengkokkan bisa kembali ke format semula andai dihentikan tekanannya (muskovit).

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Berikut 10 Sifat Fisik Mineral Beserta Penjelasannya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Juga :