Materi Romusha

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Romusha“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Latar-Belakang-Romusha

Romusha adalah sebuah kata Jepang yang berarti semacam “serdadu kerja” yang tenaganya dibutuhkan demi kepentingan Perang Pasifik yang dialami Jepang melawan tentara sekutu pada Perang Dunia 2.

Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990:248), romusha asal kata dari bahasa Jepang yang berarti kuli atau tenaga kerja. Lebih lanjut diterangkan Romusha adalah nama barisan pekerja Jawa yang tidak termasuk bagian ketentaraan akan tetapi umumnya dipekerjakan di garis belakang dari berbagai medan pertempuran.

Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1984:2934), romusha adalah tenaga kerja paksa di dalam pendudukan Jepang yang dipekerjakan di sarana strategis demi kepentingan pertahanan Jepang dan mengalami perlakuan lebih buruk dari pada kerja rodi zaman Belanda. Dalam bahasa Jepang, romusha berarti “pahlawan kerja”. Romusha di Indonesia dipakai untuk menyebut tenaga kerja paksa di zaman pendudukan Jepang (1942-1945).

Baca Juga : Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia Belanda

Para romusha dipekerjakan untuk kepentingan membangun pertahanan pasukan Jepang. Romusha adalah rakyat yang dikerahkan oleh militer Jepang untuk membuat jalan, jembatan, rel kereta api dan sebagainya dalam Perang Dunia II di wilayah pendudukannya; banyak diantara mereka yang mati karena penderitaan.

Apapun artinya, romusha adalah orang-orang yang dipaksa kerja berat di luar daerahnya, selama pendudukan Jepang bagi kepentingan tercapainya kemenangan akhir. Waktu itu setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya dibawah usia 30 tahun untuk berangkat menjadi romusha. Tenaga- tenaga tersebut didatangkan dari Jawa sebagai pulau yang paling padat penduduknya untuk dikirim dan dikerahkan ke proyek-proyek tentara Jepang di Jawa dan pulau-pulau lain bahkan hingga ke Singapura dan Thailand.


Latar Belakang Romusha

Latar-Belakang-Romusha

Romusha (rōmusha: “buruh”, “pekerja”) adalah panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha. Mereka dikirim untuk bekerja di berbagai tempat di Indonesia serta Asia Tenggara. Jumlah orang-orang yang menjadi romusha tidak diketahui pasti – perkiraan yang ada bervariasi dari 4 hingga 10 juta. Salah satu bentuk represi yang dilakukan oleh pemerintah jepang yaitu pengurasan tenaga kerja dengan menciptakan romusha sebagai tenaga kerja paksa.

Tujuan Jepang melakukan tanam paksa atau Romusha yaitu, untuk persiapan perang Asia Timur Raya serta memenuhi kebutuhan tentara jepang, untuk lebih jelasnya lagi akan di bahas sebagai berikut: Pada mulanya tugas-tugas yang dilakukan itu bersifat sukarela dan pengerahan tenaga tersebut tidak begitu sukar dilakukan karena orang masih terpengaruh oleh propaganda “untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya”.  Hampir semua pemuda desa  dijadikan romusha untuk diperjakan membuat lapangan terbang, tempat pertahanan, jalan, gedung, dll.

Bukan hanya di Indonesia saja tetapi mereka banyak yang dikirim ke Birma, Thailand dan Malaysia untuk keperluan yang sama yaitu membuat tempat pertahanan dan memperlancar trasportas Pemerintah jepang terus melancarkan kampanye pengerahan romusha yang diberi sebutan “ perajurit ekonomi “ atau “ pahlawan kerja “ yang digambarkannya sebagai orang yang sedang menjalani tugas suci guna memenangkan perang Asia Timur Raya. Pada waktu itu pemerintah berhasil mengerahkan romusha keluar jawa sebanyak 300.000 orang, sedangkan sekitar 70.000 orang dalam keadaan yang menyedihkan.

Artikel Terkait:  Materi Pemberontakan DI/TII

Masuknya Jepang ke Indonesia, awalnya disambut gembira oleh para pejuang kemerdekaan waktu itu. Jepang dianggap sebagai saudara, sesama Asia yang membantu mengusir Kolonial Belanda. Namun, sesaat setelah Jepang mendarat di Hindia Belanda (Indonesia-saat ini), ternyata Jepang berbuat yang tak kalah licik dan bengisnya. Jepang berupaya menghapus pengaruh kultural barat yang telah hinggap di Hindi Belanda, dan yang kedua Jepang mengeruk sumber sumber kekayaan alam startegi yang ada di tanah air kita. Pasokan sumber sumber ala mini digunakan untuk membiayai perang Jepang dengan Sekutu di Asia Timur dan Pasifik.

Baca Juga : Pendudukan Jepang

Luasnya daerah pendudukan Jepang membuat Jepang memerlukan tenaga kerja yang begitu besar. Tenaga kerja ini dibutuhkan untuk membangun kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Tenaga tenaga kerja ini diambilkan dari penduduk Jawa yang cukup padat. Para tenaga kerja ini dipaksa yang popular di sebut denga Romusha.

Jejaring tentara Jepang untuk menjalankan romusha hingga ke desa desa. Dalam catatan buku ini, setidaknya ada 300.000 tenaga romusha yang dikirim ke berbagai negara di Asia Tenggara, 70.000 orang diantaranya dalam kondisi menyedihkan da berakhir dengan kematian.

Para romusha juga melibatkan kaum perempuan. Mereka dibujuk rayu di iming iming mendapatkan pekerjaan, namun mereka di bawa ke kamp kamp tertutup untuk dijadikan wanita penghibur (Jugun Ianfu).

Romusha juga melibatkan tokoh tokoh pergerakan waktu itu. Mereka dipaksa oleh Jepang untuk menjadi tenaga tenaga paksa tersebut. Diantara para romusha yang berasal dari tokoh pergerakan adalah Soekarno dan Otto Iskandardinata. Mereka berdua dipaksaan tentara pendudukan Jepang untuk membuat lapangan udara darurat.

Jepang melakukan rekruitmen calon calon romusha, pola tingkatan, serta alokasi tenaga kerja paksa ini. Basis paparannya melihat praktik romusha dan proyek proyeknya di Gunung Madur dan sekitar Banten. Namun pada saat yang sama, Jepang berhasil memanipulasi keberadaan romusha ini ke dunia internasional. Untuk menyamarkan keberadaan romusha, Jepang memperhasul istilah romusha dengan “pekerja ekonomi” atau pahlawan pekerja.
Pada pertengahan tahun 1943, para romusha semakin di eksploitasi oleh Jepang.

Karena kekalahan Jepang pada Perang Pasifik, Romusha ini digunakan sebagai tenaga swasembada untuk mendukung perang secara langsung. Karena disetiap angkatan perang Jepang membutuhkan tenaga tenaga kerja paksa ini untuk mengefisiensikan biaya perang Jepang. Pada situasi seperti ini, permintaan terhadap romusha semakin tak terkendali.

Jika kita melihat angka tahunnya, proyek romusha di Indonesia berjalan dalam tempo dua tahun. Bukanlah waktu yang pendek untuk menghasilkan penderitaan dan kematian sebagaimana yang terungkap dalam data diatas. Barulah pada tahun 1945, Hindia Belanda merdeka menjadi Indonesia, serta mengakhiri proyek dan impian kolonialisasi Jepang.

Romusha yang diperkejakan di proyek-proyek, antara lain pembuatan jalan, jembatan, barak-barak militer, berlangsung selama satu sampai tiga bulan. Lebih dari tiga bulan merupakan masa kerja romusha yang diperkejakan di proyek-proyek diluar keresidenan mereka. Tidak hanya keluar Jawa, bahkan romusha dikirim ke luar Indonesia, seperti Birma, Muang, Thai, Vietnam dan Malaysia.


Pelaksanaan Romusha Di Indonesia

Pelaksanaan-Romusha-Di-Indonesia

Tenaga romusha diperoleh dari desa-desa di Jawa yang padat penduduknya melalui program Kinrohosi/kerja bakti. Pada awalnya mereka melakukannya dengan sukarela, lambat laun karena terdesak perang Pasifik maka pengerahan tenaga diserahkan pada panitia pengerahan (Romukyokai) yang ada di setiap desa. Waktu itu setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya untuk berangkat menjadi romusha. Namun bagi golongan masyarakat kaya seperti pedagang, pejabat, orang-orang Cina dapat menyogok pejabat pelaksana pengerahan tenaga atau dengan membayar kawan sekampung yang miskin untuk menggantikannya sehingga terhindar dari kewajiban untuk menjadi romusha.

Artikel Terkait:  Materi Sejarah Kelas 12 PKI Madiun

Mula-mula tugas yang dilakukan bersifat sukarela dan tidak begitu jauh dari tempat tinggal penduduk, namun lama-kelamaan pengerahan tenaga kerja berubah menjadi paksaan. Di tempat-tempat mereka bekerja, mereka diperlakukan secara kasar. Kesehatan tidak dijamin, makanan tidak cukup, serta pekerjaan yang sangat berat. Bahkan, untuk pakaian para romusha hanya menggenakan celana dari karung goni untuk menutupi auratnya. Bahan karung goni sendiri merupakan bahan yang tidak nyaman dikenakan dan menjadi sarang kutu.

Dengan keadaan yang sedemikian rupa tentu saja menjadi sarang bagi penyakit, sehingga banyak diantara romusha yang meninggal ditempat kerjanya karena sakit, kekurangan makan serta kecapaian ataupun kecelakaan. Berita buruk ini kemudian tersebar dan menjadi rahasia umum, sehingga banyak orang yang takut menjadi romusha.

Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia itu, sejak tahun 1943 Jepang melancarkan kampanye baru, yang mengatakan bahwa romusha adalah “prajurit ekonomi” atau “pahlawan pekerja”. Mereka digambarkan sebagai prajurit-prajurit yang menunaikan tugas-tugas sucinya untuk angkatan perang Jepang dan sumbangan mereka terhadap usaha perang itu mendapat pujian setinggi langit.

Pengerahan romusha tidak lain karena motivasi Jepang untuk memenangkan perang. Motivasi ekspansi Jepang ke selatan adalah faktor ekonomi, khususnya ketertarikan Jepang dalam bidang eksploitasi sumber-sumber ekonomi padi, minyak tanah, batu bara, karet dan barang-barang krusial lainnya di daerah-daerah baru yang dikuasainya untuk mendukung peperangan. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa Jepang tidak memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup guna menghadapi perang jangka panjang melawan sekutu.


Tujuan Romusha

Tujuan-Romusha

Pulau Jawa menyimpan sumber daya yang melimpah dan dapat dimanfaatkan adalah penduduknya. Penduduk tersebut dimanfaatkan tenaganya sebagai sumber daya penting selain sumber alam, maka jutaan orang dimobilisasi sebagai romusha untuk melakukan pekerjaan berat di dalam dan luar pulau Jawa bahkan sampai ke luar wilayah Indonesia.

Pada awalnya romusha dipekerjakan sebagai tenaga produktif di perusahaan-perusahaan, kedudukannya seperti buruh biasa. Kebijakan mobilisasi mereka ke luar Jawa dimaksudkan untuk menciptakan produktivitas akibat pengurangan produktivitas pertanian dan perkebunan di Pulau Jawa. Memasuki pertengahan tahun 1943, kebijakan pengerahan romusha berubah menjadi usaha eksploitasi. Pengambilan dan penempatan romusha oleh Angkatan Perang dilakukan dengan serius. Ada empat alasan mengapa eksploitasi romusha dilakukan.

  1. Pertama, kondisi perang Pasifik semakin memburuk bagi Jepang.
  2. Kedua, adanya tuntutan memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada) bagi setiap Angkatan Perang di daerah pendudukan.
  3. Ketiga, adanya motivasi ekonomi yang merupakan tujuan utama imperialisme Jepang ke Indonesia.
  4. Keempat, Jepang kekurangan tenaga dalam peran mensukseskan Perang Pasifik yang sedang dijalaninya guna untuk membuat kubu-kubu pertahanan, lubang-lubang pertahanan, lapangan-lapangan udara, rel kereta api, pertambangan batu bara, perkebunan jarak sebagai minyak dan sebagainya.

Mulai saat itu tenaga romusha bukan hanya diperlukan untuk eksploitasi ekonomi, tetapi juga diperlukan untuk proyek-proyek yang secara langsung berkaitan dengan perang. Pada taraf ini permintaan terhadap romusha menjadi tak terkendali. Di setiap desa dan wilayah, laki-laki dan perempuan usia produktif diinventarisir oleh kepala desa atau kepala wilayah dan kemudian mereka dikenai kewajiban kerja tanpa terkecuali.


Dampak Romusha Bagi Bangsa Indonesia

Dampak-Romusha

Romusha memberikan akibat yang mendalam bagi bangsa indonesia meskipun Jepang menjajah Indonesia hanya seumur jagung apa yang dikatakan oleh ramalan Joyoboyo, atau lebih tepatnya 3 ½ tahun jepang menjajah indonesia yaitu pada tahun 1942-1945 tetapi dalam waktu yang sesingkat itu memumbuhkan dampak yang sangat mendalam bagi bangsa indonesia karena pada waktu itu sangat menderita dengan adanya romusha rakyat indonesia hidup bagaikan tulang tanpa daging pakaian compang-camping kelaparan dimana-mana atau rakyat indonesia dibawah titik nadir masyarakat yang terbelakang, miskin, teringgal untuk lebih khusus lagi akan dipaparkan dampak dari Romusha sebagai berikut:

Artikel Terkait:  Peninggalan Kerajaan Kediri

  1. Bidang Ekonomi

Keadaan ekonomi di Indonesia mengalami kemerosotan. Penyebabnya antara lain adalah sebagai berikut:

  • Para penyuluh pertanian bukan tenaga-tenaga ahli pertanian.
  • Hewan-hewan yang berguna bagi pertanian banyak yang dipotong.
  • Kurangnya tenaga kerja petani karena banyak yang dijadikan romusha.
  • Banyaknya penebangan hutan liar.
  • Kewajiban menyerahkan hasil bumi.

  1. Bidang Sosial dan Budaya

kepala-kepala desa dan camat yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan itu sering menunjukkan untuk menjadi romusha dipilih orang–orang yang tidak mereka sukai atau dipilih orang yang ditakuti oleh masyarakat desa setempat. Berjuta-juta rakyat menderita kelaparan dan serba kekurangan. Dijalankannya program kerja tanam paksa romusha lebih menambah hancurnya perasaan ketentraman masyarakat jawa.

Pengaruh buruk dari sistem romusha itu masih ditambah lagi oleh pelaksanaan setempat yang memungkinkan dapat dibelinya pengecualian atau kewajiban menjadi romusha. Tentu saja hal itu dapat dilakukan oleh golongan masyarakat kaya.


  1. Dampak Bagi Pekerja

Para tenaga kerja yang disebut romusha kebanyakan meninggal karena kekurangan makan, kelelahan, malaria dan terjangkit penyakit. Selain itu juga karena kerasnya pengawasan dan siksaan Jepang yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan. Dibarak-barak romusha tidak tersedia perawatan dan tenaga kesehatan. Seakan-akan telah menjadi rumus bahwa siapa yang tidak lagi kuat bekerja maka akan mati. Sebagai mana alam pemikiran jepang, bahwa bukan manusianya yang diperhitungkan melainkan tujuannya yaitu “menang perang”.


Daftar Pustaka:

  • Balai Pustaka, 2001. Kamus Besar Bahasa indonesia.jakarta: Balai Pustaka.
  • Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13. 1994. Jakarta : PT Cipta Adi Pustaka
  • Beasley. 2003. Pengalaman Jepang. Jakarta : yayasan obor Indonesia
  • Moedjanto, G. 1993. Sejarah Indonesia Abad Ke-20 1 Dari Kebangkitan Nasional Sampai Linggajati. Yogyakarta : Kanisius.
  • Nasution, A.H. 1977. Sekitar perang kemerdekaan Indonesia jilid 1. Bandung : angkasa.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta : Balai Pustaka.
  • Post, Peter and Elly Touwen-Bouwsma. 1997. Japan, Indonesia and the War. Leiden: KITLV Press.
  • Ricklefs, 2005.Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta : Ikrar Mandiri Abadi.
  • Seminar Sejarah Nasional V. 1990. Subtema Sejarah Perjuangan. Jakarta : Depdikbud Sewaka. 1955 . Coret-Coret Dari Zaman ke Zaman. Bandung
  • Suhartono. 1994.  Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908 – 1945  , Yogyakarta : Pustaka Pelajar
  • Sumarmo, AJ. 1990. Pendudukan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Semarang : IKIP Semarang Press.
  • Soewarso, Ibnu. 1986. Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia  , Surakarta : Widya Duta Surakarta
  • Suhartono. 2001. Sejarah Pergerakan Nasional. Pustaka pelajar: Yogyakarta
  • Tim Penyusun Master. 2003. Sejarah: Kelas 2 SMU. Klaten: PT. Macanan Jaya Cemerlang.
  • Wheeleer, keith.1986. Perang Di Kedalaman Pasifik. Jakarta : Tira Pustaka
  • Wirjosuparto, Sutjipto. 1961 . Sejarah Indonesia Jilid II Abad XVII Sampai Sekarang. Jakarta :  Indira
  • Yamin, Muhammad. 1956. Atlas Sejarah.Jakarta : Djembatan

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Latar Belakang Romusha: Sejarah, Pelaksanaan, Tujuan dan Dampak

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: