Materi Samudra Hindia

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Samudra Hindia“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Karakteristik-Samudra-Hindia

Sejarah Samudra Hindia

Perdagangan, pada zaman dahulu bangsa Eropa seperti Inggris, Belanda dan Portugis, memiliki wilayah jajahan disepanjang kawasan samudra hindia. Di wilayah jajahan tersebut, mereka mendirikan Bandar-bandar perdagangan. Barang-barang yang diperdagangkan berupa rempah-rempah, sutra, dan hasil bumi kawasan timur. Pengangkutan barang-barang dagangan dari wilayah jajahan ke eropa memerlukan waktu yang cukup lama karena jauhnya jarak yang ditempuh melalui samudra hindia sebagai lalu lintas perdagangan yang utama, mengitari tanjung pengharapan, dan memasuki kawasan samudra atlantik.

Namun, dengan dibukanya terusan suez yang selesai pada tahun 1869, pelayaran dari eropa ke Timur Jauh dan Astralia menjadi singkat dan cepat. Adanya terusan terusan tersebut mengakibatkan perluasan wilayah perdagangan. Mereka melakukan perdagangan hingga ke Bandar-bandar seperti Aden, Bombai, Zanzibar dan Singapura. Selain Bandar-bandar tersebut, pelabuhan utama samudra hindia adalah calkutta, Colombo, Rangoon (Yangon) di Asia, Durban, dan Dar-Es-Salaam di Afrika, Serta Perth di Auatralia. Pada akhir abad ke-20, peran samudra hindia semakin penting karena adanya minyak bumi. Minyak bumi sebagai salah satu sumber alam yang bernilai tinggi, dihasilkan dari timur tengah, kawasan teluk Persia dan indonesia.

Penelitian ilmiah terhadap samurda Hindia berawal pada abad ke-19. Penelitian ini diperkarsai oleh bangsa Inggris dengan pelayaran Challenger yang berlangsung dari tahun 1872-1876. Kemudian diikuti oleh bangsa Austria, Jerman dan Belanda. Mereka mengadakan eksplorasi oseanografis pada akhir abad ke -19. Penelitian-penelitian terus berlanjut, beberapa Negara bergabung dan bersama-sama melakukan penelitian tentang kondisi samudra dan cuaca, yang dimulai dari tahun 1959 hingga tahun 1969.

Sejarah Samudra hindia pertama kali dilalui oleh pelaut bagsa portugis fasco da gama. Pada tahun 1497, ia melakukan perjalanan mengitari tanjung pengharapan melalui samudra hindia menuju india. Pada tahun 1521, Juan Sebastian del Cano menyebrangi samudra ini dari timur ke barat dengan kapal Victoria. Juan adalah pemimpin kapal pertama yang melakukan perjalanan yang mengelilingi dunia setelah magellen meninggal dunia. Usaha melintasi samudra hindia juga dilakukan oleh kapten james cook.

Diantara tiga samudra terbesar di dunia samudra hindia merupakan samudra pertama yang ramai di layari manusia karena samudera Hindia lebih tenang dibanding Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Pada 2500 tahun sebelum Masehi, para pelaut Mesopotamia (wilayah Irak/Iran) sudah berlayar mengarungi samudera Hindia menuju daratan India untuk berdagang.

Dengan memanfaatkan bergantinya angin muson, para pelaut Indonesia pernah mengarungi samudera Hindia menuju Madagaskar di Afrika. Tahun 1405-1433, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming di China menjelajahi samudera Hindia hingga mencapai pantai timur Afrika. Keberhasilan ini lalu diikuti oleh pelaut Eropa lainnya untuk berlayar menuju Asia melalui Samudera Hindia.


Peta Samudra Hindia

Peta-Samudra-Hindia


Letak Astronomis dan Geografis Samudra Hindia

Samudra Hindia, samudera terkecil di antara tiga samudera besar di dunia, terletak di sebelah utara antartika, disebelah selatan benua asia, dan di antara benua Afrika dan Australia. Batas di sebelah utara terbentang dari pantai semenanjung arab, mulai tepi benua Asia sampai semenanjung malaka. Di sebelah selatan, batas Samudera ini menjadi satu dengan Samudera Selatan (Antartika) pada Konvergensi Antartika, sekitar 52° LS. Luas Samudera Hindia sekitar 75 juta km², lebar sekitar 9.980 km, yang menyempit ke arah utara; kedalaman rata-rata 4000 m, dan kedalaman maksimum hampir 7600 m. Kedalaman rata-rata samudera hindia, tidak termasuk laut-laut yang terletak di sepanjang perbatasan samudera, berkisaran antara 3914 m sampai 3980 m, bagian terdalam terdapat di palung sunda (7434 m), di sebelah selatan pulau Jawa.

Jajaran Semenanjung malaka, sumatera, jawa, timur, Australia, dan tazmania , merupakan batas samudera hindia dan samudera pasifik. Batas berakhir pada 147° BT yang membentang ke antartika. Di wilayang konvergensi antartika, sekitar 50° LS, terjadi pertemuan antara perairan dingin antartika dan perairan tropis samudera hindia. Batas antara samudera hindia dan samudera atlantik terletak di tanjung pngharapan (27° BT). Namun secara alami tidak ada pemisah di antara kedua samudera

Artikel Terkait:  Lapisan Atmosfer dan Fungsinya

Fisiografi samudera ini terdapat beberapa ambang (punggung bukit dasar laut) dan Plato dasar laut yang umumnya melajur dari utara ke selatan. Ambang Carlsberg membentang dari teluk Aden ke selatan dan bersambung dengan ambang Hindia barat daya (South West Indian Ridge) Plato dasar laut Cagos Lakadewa melajur dari muara S.Indus dan S.Gangga ke selatan dan bersambung dengan ambang hindia tengah (Mid-Indian Ridge) di basin Hindia tengah. Ambang terpanjang disamudera ini adalah ambang 90 timur (ninety-east Ridge) yang panjangnya 4.960 km.

Penamaan tersebut diberikan karena letak ambang itu hamper sejajar dengan garis bujur 90° BT. Ambang tersebut melajur dari sebelah utara Kep. Nicobar kearah selatan, hingga bertemu dengan ujung barat ambang patah (Broken Ridge) disekitar 32°LS. Ambang-ambang lain yang terdapat di samudra ini adalah ambang Atlantik-Hindia yang terletak di selatan Kep. Edward, dan Ambang Hindia Tenggara (Southeast Indian ridge). Plato dasar laut disamudra ini menyangga samudra, hindia

Pulau-pulau Maladewa, Seychelles, Cagos, Lakadewa, dan Kep. Kerguelen. Plato dasar laut Mozambique dan plato dasar laut madagaskar terletak diselatan P. Madagaskar, sedangkan plato dasar laut Maskarena terletak disebelah timurnya. Kepulaunan Cocos disebelah timur laut merupakan salah satu pulau karang disamudera ini. Lebih jauh keselatan terdapat pulau-pulau vulkanis, yaitu P.Prince Edward, Kep. Crozet serta Kep. Reunion dan Kep. Mauritius disebelah timur Madagaskar.


Batas Wilayah Samudra Hindia

Berikut ini terdapat beberapa batas wilayah samudra hindia, terdiri atas:

  1. Sebelah utara: kawasan Asia Selatan.
  2. sebelah selatan adalah benua Antartika.
  3. Sebelah barat adalah Jazirah Arab dan benua Afrika.
  4. Sebelah timur adalah Semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, dan Benua Australia.

Karakteristik Samudra Hindia

Berikut ini terdapat beberapa karakteristik samudra hindia, terdiri atas:

  • Sebagian besar wilayahnya berada di belahan bumi selatan .
  • Seluruh wilayahnya digaris bujur timur.
  • Sebagai penyedia air hujan bagi gejala alam angin muson untuk wilayah Asia dan Australia.
  • Menjadi sumber hujan bagai negara-negara Asia selatan, Asia tenggara serta bagian timur Benua Afrika
  • Memiliki arus yang tenang dan jarang terjadi badai sehingga aman untuk   pelayaran dunia.
  • Terdapat beberapa palung seperti Palung Jawa ( 7.450m), Palung Weber ( 7.440m), Palung Diamantina (7.102m).
  • Pada dasar samuderanya berbatasan dengan pusat-pusat tubrukan antara lempeng Asia dan lempeng Samudera sehingga menjadi pusat gempa bagi negara-negara seperti Indonesia, India, Afganistan dan Iran.

Iklim Samudra Hindia

Sebagian besar samudera hindia beriklim tropis, khususnya ditengah dan diutara. suhu permukaan perairan berbeda-beda. Pada bulan January, suhu berkisar diantara 21°-27°C pada belahan bumi utara, dibelahan bumi selatan berkisar antara 27°-29°C pada bulan yang sama, suhu disekitar wilayah Tel.persia dan laut Merah adalah 16°C.

Dibelah bumi selatan, suhu berkisardari 13°C di sebelah selat Australia dan Afrika hingga 27°C di Khatulistiwa pada bulan juli, suhu di belahan bumi utara sekitar 27°C. Adakalanya suhu di Laut Merah dan Teluk Persialebih dari 32°C. Oleh karena itu, sebagian besar kawasan ini beriklim tropis, maka hampir seluruh permukaannya tidak ditutupi oleh es dan tidak berkabut tebal yang dapat membahayakan pelayaran. Disamping itu tidak didapati suhu yang berbeda jauh antara bulan January dan July sebagaimana yang terjadi disamudera Atlantik dan samudera Pasifik.

Angin dan Arus. Terdapat tiga wilayah angin di samudera Hindia, yaitu di wilayah angin barat, wilyah angin musim, dan wilayah angin pusat tenggara. Angin barat mendominasi bagian selatan samudera. Angin ini bertiup terus-menerus dari barat ketimur. Didaerah ini sering terjadi badai, biasanya berupa badai Frontal.

Bagian utara samudera didominasi aleh angin musim, pada musim dingin, angin musim menjahui benua asia dan menuju Afrika setelah melalui india, berlangsung dari bulan Oktober- April; misalnya angin musim timur laut yang kering. Konvergensi tropis aga bergeser keselat khatulistiwa. Sebaliknya, angin musim barat daya yang bertiup dari laut arab dab Teluk Benggala serta melewati india, menuju Asia pada musim panas.dekat zona Konvergensi intertropis yang terbentang diatas asia selatan, angin musim ini seringkali membawa hujan.

Di sebagian besar kawasan tropis belahan bumi selatan bertiup angin pasat tenggara. Hanya bagian-bagian yang menghadap arah angin yang menerima hujan yang dibawa angin pasat tenggara. Berputaran bumi menyebabkan angin ini bertiup kearah barat laut.

Artikel Terkait:  Materi Lempeng Bumi

Disepanjang konvergensi intertropis sering terjadi siklon tropis, meskipun selang derajatnya tidak berjarang jauh dari garis Khatulistiwa. Misalnya, siklon di laut arab dan teluk benggala muncul dua masa musim (Mei-Juni dan Oktober-November). Adakalanya siklon tersebut melanda kawasan lepas Pantai Austaraia barat laut dan dekat Madagaskar. Bentuk siklon dapat bermacam-macam namun sebagian besar berupa badai lemah. Akibat dari badai lemah ini terjadilah mendung dan hujan yang berkepanjangan. Badai lemah dapat juga berkembang menjadi topan.

Samudra Hindia mempunyai dua system sirkulasi dua arus utama, satu dibelahan bumi utara dan satu lagi dibelahan bumi selatan. Arus–arus dikawasan ini bergantung pada system angin. Belahan bumi selatan mempunyai arus yang berlawanan dengan arah jarum jam. Arus ini berlangsung sepanjang tahuan, pada 10° LS. Disebelah selatan Khatulistiwa, arus Khatulistiwa selatan mengalir kebarat dengan bantuan angin pasat tenggara. Kemudian membelok keselatan dekat Afrika dan menghasilkan arus Agulhas serta arus-arus lainya.

Arus Agulhas bergabung dengan arus Monzambique yang mengalir keselatan dan melintasi selat Monzambique di lepas pantai timur Afrika selatan. Arus angin Barat yang terdapat pada lintang geografis yang menyebabkan terjadinya angin barat yang bergerak ketimur menuju ke Australia setelah melintasi bagian selatan Samudera Hindia. Arus ini bergabung dengan arus Khatulistiwa selatan dekat dengan kawasan Khatulistiwa.

Dibelah bumi utara, terjadi arus angin barat pada musim panas, bergerak secara jarum disekitar laut arab dan teluk benggala. Pada musim dingin, arus ini berubah menjadi arus musim timurlaut, yang berlawanan dengan arah jarum jam. Miaslnya, arus Somali yang mengalir di laut arab pada musim panas dan berbalik menjadi arus musim Timur laut.


Gejala Alam Samudra Hindia

Ternyata, selain El Nino, Indonesia juga mendapat ancaman kekeringan dan curah hujan tinggi karena penyimpangan suhu muka laut di lautan Hindia. Fenomena ini disebut sebagai Indian Ocean Dipole Mode (IOD) yang pertama kali ditemukan oleh Toshio Yamagata tahun 1999.

Kekeringan yang melanda Indonesia selalu dihubungkan dengan gejala El Nino. Namun berdasarkan penelitian Jamstec (Japan Agency for Marine Earth Science and Tecnology) yang dimotori Prof. Yamagata terlihat ada fenomena kelautan lain yang dampaknya sama yaitu Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Positif di lautan Hindia. Sedangkan IOD Negatif serupa dengan gejala La Nina di lautan Pasifik equator.

Tahun 1997-1998 Indonesia mengalami kekeringan yang dahsyat karena kemarau sangat panjang dari bulan Juni hingga Februari tahun berikutnya yang mengakibatkan beberapa luasan tanaman perkebunan di beberapa provinsi di Sumatera mati, sedangkan seharusnya El Nino sudah melemah berdasarkan pengamatan. Hal tersebut menyadarkan ada pengaruh lain dan perlunya penelitian lebih lanjut, terlihat bahwa ada pennurunan suhu muka laut di Samudra Indonesia setelah El Nino meluruh. Lalu terbukti gejala El Nino diikuti oleh gejala lain yang selanjutnya dikenal sebagai IOD Positif.

Berdasarkan penelitian, biasanya IOD dimulai pada bulan Mei atau Juni, mencapai puncak pada Oktober dan berakhir sekitar November dan Desember Periode IOD Positif berulang setiap 4-5 tahun sekali sedangkan El Nino setiap 3-7 tahun (Erma, 2008). Akibatnya, jika pada kondisi normal Indonesia masuk hujan sekitar Oktober dengan angin baratan bertiup yang mengandung banyak uap air, akan mengalami perpanjangan musim kemarau dengan arah angin berbalik pula dari arah timur yang kering.

IOD adalah penggabungan model iklim atmosfer dan lautan yang berpusat di wilayah tropik lautan Hindia, keadaan IOD berpengaruh kepada konveksi udara di Indonesia dan juga endapan regionalnya. Pada saat IOD Positif, ditandai dengan pendimginan permukaan air laut barat daya Sumatera sampai selatan Jawa yang cukup drastis dan sebaliknya pemanasan di pantai Timur Afrika (Sea Surface Temperature Anomaly atau SSTA), menimbulkan tekanan tinggi di Sumatera sampai Jawa yang mengakibatkan terjadi aliran massa udara ke wilayah barat (Afrika) dengan tekanan yang lebih rendah sehingga massa udara menumpuk dan memicu cuaca buruk.

Di dalam laut gejala ini mendorong gelombang Kelvin sepanjang equator bergerak ke Timur berlawanan arah angin yang menuju ke barat, pada akhirnya mengangkat thermocline (lapisan air yang menjadi batas massa air laut panas dan dingin di bawahnya) di barat daya Sumatera dan Selatan Jawa, lapisan air di bawah naik ke permukaan, air di permukaan terdorong ke barat, suhu air laut di permukaan menjadi lebih dingin atau sampai turun drastis. Dinginnya suhu muka laut mengurangi penguapan dan pertumbuhan awan berkurang, dapat dikatakan zona konveksi (daerah pembentukan awan-awan berpotensi hujan) bergeser ke arah barat (Afrika) sehingga kondisi cerah atau sedikit awan di Sumatera dan Jawa, kebalikannya di wilayah Afrika.

Artikel Terkait:  Pengertian Penggundulan Hutan

Serupa dengan El Nino sesuai dengan namanya yang berarti dua kutub di lautan Hindia, IOD dipresentasiikan oleh perbedaan suhu permukaan laut (SST) lautan Hindia bagian barat di pantai timur Afrika (wilayah 50º-70º BT dan 10ºLU-10ºLS) dengan lautan Hindia bagian timur di perairan barat daya Sumatera dan selatan Jawa (90º-110º BT dan 0º-10º LS) yang dijadikan sebagai dipole mode index (DMI), juga diteliti dengan perbedaan tekanan udara antara Capetown (Afrika) dan Padang (Indonesia) akibat interaksinya (MSJ and Yamagata, 2003). Hal inilah yang disebut dengan dua kutub samudra hindia.


Kehidupan Mahluk hidup atau Organisme di Samudera Hindia

Yaitu sebagai berikut:


  1. Cumi-cumi Jenis Baru Ditemukan di Samudra Hindia

Para ilmuwan menemukan spesies baru cumi-cumi di Samudra Hindia. Penemuan itu dilaporkan International Union for the Conservation Nature Senin kemarin (15/11/10). Species cumi itu sendiri termasuk dalam famili chiroteuthid.

Spesies yang ditemukan memiliki ukuran panjang sekitar 70 cm serta memiliki organ yang mampu memancarkan cahaya untuk menakuti mangsanya. Menurut laporan IUCN, spesies itu ditemukan di bagian dasar laut yang terjal. Sejauh ini, telah ditemukan sejumlah 70 spesies cumi-cumi dalam ekspedisi tersebut. Keseluruhan spesies cumi-cumi itu mewakili 20 persen dari spesies cumi-cumi yang ada di dunia.

“Selama 10 hari ini, para ilmuwan bekerja dengan mikroskop untuk mengidentifikasi berbagai jenis ikan, cumi dan makhluk laut menarik lainnya,” ungkap Alex Rogers, ahli biologi kelautan dari Zoological society of London. Carl Gustaf Lundin, Pemimpin IUCN Global Marine Programme mengatakan bahwa penemuan spesies baru ini tidak hanya akan memuaskan para ilmuwan yang bekerja di lapangan. “Penelitian ini juga berguna bagi pengelolaan ekosistem di Samudra Hindia serta ekosistem laut dalam secara global.”Penemuan spesies cumi-cumi itu merupakan bagian dari ekspedisi penelitian menggunakan kapal riset yang tahun lalu mengarungi Samudra Hindia untuk mengumpulkan sejumlah 7000 sampel makhluk hidup hingga kedalaman 1200 meter.


  1. Makhluk Aneh dan Misterius Ditemukan di Samudera Hindia

Ilmuwan Inggris menemukan beragam hewan aneh di bagaian dalam Samudera Hindia. Seperti dikutip IbTimes, para ilmuwan telah menjelajah dan mengambil sampel ‘Lembah Naga’ di bagian barat daya Samudera Hindia, disaba mereka menemukan kepiting Yeti, Ketimun Laut, dan Siput laut yang hidup di sekitar corong uap gunung api bawah laut. Menurut Dr. Jon Copley, ahli biologi kelautan di University of Southampton, yang menjadi pemimpin ekspedisi tersebut, hewan hewan di daerah ini cukup unik.

“Kami menemukan jenis baru Kepiting Yeti. Kepiting Yeti ini berbeda dengan jenis lainnya di mana hanya ada dua di dunia,” ujar Copley. Selain itu, tim ini juga menemukan Ketimun Laut dan beberapa jenis baru siput laut lainnya. Corong laut gunung api bawah laut ini kaya mineral, karena suhu di wilayah ini tergolong panas, maka hewan-hewan di sekitarnya cukup tahan panas.

Ekspedisi ini bermulai dari Cape Town, Afrika Selatan, sejak 7 November dan kembali pada 21 Desember. Tim meneliti ‘Lembah Naga’ selama tiga hari dan berhasil mengambil ratusan sampel 17 makhluk berbeda. “Sama seperti pada abad ke-19, saat para ilmuwan ke pualu Galapagos. Di sana ilmuwan menemukan banyak hewan jenis baru. Seperti itulah hal yang kami alami di lokasi penelitian,” pungkas Copley.


Daftar Pustaka:

  • Ensiklopedia Geografi (geografi Australia oseania), Jakarta: PT. Intermasa. 1990
  • Ensiklopedia Geografi (dunia benua dan samudra), Jakarta: PT.Lentera abadi. 2006

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Karakteristik Samudra Hindia: Sejarah, Peta, Letak, Batas, Iklim, Gejala dan Kehidupan

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: