Materi Pertempuran Laut Aru

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Pertempuran Laut Aru“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Jalannya-Pertempuran-Laut-Aru

Latar Belakang Pertempuran Laut Aru

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua.Namun demikian, Pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua Negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an.

Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu 1 tahun.

Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957.

Sebagai kelanjutan, pada17 Agustus1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956. Pada tangga l6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.


Belanda, Ternyata Ingkari KMB

Setelah satu tahun lebih berlalu, sejak penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, faktanya Kerajaan Belanda telah mengingkari isi persetujuan KMB yang menyangkut masalah Irian Jaya. Usaha- usaha untuk mengadakan perundingan secara bilateral telah dilakukan oleh pihak Indonesia agar Belanda mau membicarakan masalah “penyerahan” Irian Jaya sesuai isi persetujuan KMB. Namun, semua usaha tersebut ternyata telah menemui kegagalan karena pihak Belanda memang tidak bersedia untuk berunding dan membahas masalah sengketa yang belum diselesaikan.

Maka, sejak tahun 1954, pada setiap tahun secara berturut-turut, Pemerintah Indonesia membawa masalah Irian Jaya di dalam acara Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Namun, upaya Indonesia inipun selalu menemui kegagalan, karena tidak pernah memperoleh tanggapan yang positif dari sebagian besar anggota PBB. Bahkan, pada tahun 1957, saat Menlu RI berpidato dalam sidang Majelis Umum PBB yang menegaskan sikap Indonesia akan menempuh “jalan lain” (short war) untuk menyelesaikan sengketa Irian Jaya dengan Belanda, PBB pun tidak berhasil untuk menyetujui sebuah resolusi. Karena, usulan resolusi yang disponsori oleh 21 negara, termasuk Indonesia, tidak dapat memenangkan 2/3 jumlah suara yang dipersyaratkan.

Upaya diplomasi Indonesia di forum PBB, ternyata belum mampu mengubah pendirian negara-negara pendukung Belanda. Justru, negara-negara Barat terkesan makin teguh pendiriannya dalam mendukung sikap Belanda, seiring dengan adanya Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Sehingga, secara langsung telah membuat pihak Kerajaan Belanda makin tidak memiliki niat dan kesediaan untuk menyerahkan Irian Jaya kepada Indonesia, bahkan untuk sekedar membicarakannya pun Belanda sudah tidak mau lagi.

Bagi Indonesia, pembebasan Irian Jaya merupakan suatu tuntutan nasional yang bersifat mutlak dan didukung oleh semua partai politik dan semua golongan, tanpa kecuali. Karena, hal ini didasarkan atas Pembukaan UUD 1945, yaitu “Untuk membentuk suatu pemerintahan Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Sedangkan, Irian Jaya adalah bagian mutlak dari tumpah darah Indonesia. Itulah sebabnya, meski pergantian Kabinet sering terjadi, namun tidak ada satu pun Kabinet yang pernah beranjak dari tuntutan nasional tersebut.

Mengingat jalan damai atau pendekatan diplomasi yang ditempuh selama delapan tahun tidak membawa hasil, maka sejak tahun 1957 Pemerintah Indonesia benar-benar mulai menempuh “jalan lain”. Aksi-aksi untuk pembebasan Irian Jaya dilancarkan di seluruh tanah air, antara lain dengan cara menggelar demonstrasi besar-besaran oleh berbagai lapisan masyarakat, dan pengambil-alihan aset milik perusahaan Belanda di Indonesia oleh kaum buruh dan karyawan. Untuk mencegah terjadinya anarkisme dan memenuhi tuntutan aspirasi dari rakyat, maka pengambil- alihan tersebut akhirnya dilakukan dan dibawah kendali oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) selaku Penguasa Perang Pusat, untuk kemudian diserahkan langsung kepada pemerintah.7

Akibat dari aksi-aksi tersebut, berdampak pada hubungan antara Indonesia dan Belanda yang menjadi kian tegang dan memburuk. Puncaknya adalah pada saat pemerintah Indonesia memutuskan secara resmi hubungan diplomatik dengan pemerintah Belanda pada tanggal 17 Agustus 1960. Indonesia menganggap Belanda sudah tidak lagi memiliki itikad baik untuk mematuhi isi persetujuan KMB yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Sepertinya, kesabaran Indonesia melalui jalan diplomasi atau pendekatan yang baik-baik antar kedua bangsa dan negara yang berdaulat dianggap sudah tidak lagi efektif.


Pembentukan Komando Mandala

Pembentukan-Komando-Mandala

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doormanke Papua bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:

  1. Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
  2. Korps Mariniers
  3. Marine Luchtvaartdienst
Artikel Terkait:  Sejarah Kerajaan Negara Daha Lengkap

Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, dimana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantry 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuana.

Selanjutnya, pada tanggal 2 Januari 1962, diadakan rapat Dewan Pertahanan Nasional dan Gabungan Kepala Staf serta Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat. Hasil dari rapat tersebut, Presiden RI/Pangti ABRI/Panglima Besar Koti Pembebasan Irian Barat mengeluarkan Keputusan No. 1 tahun 1962, yang intinya adalah sebagai berikut :

  • Membentuk Provinsi Irian Barat gaya baru, dengan putra Irian sebagai Gubernurnya, dengan ibukota Kotabaru (kini bernama Jayapura, dulu pada zaman Belanda bernama Hollandia).
  • Membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Jaya, yang langsung memimpin kesatuan-kesatuan ABRI dalam tugas merebut Irian

Sesuai dengan Trikora, maka kesiapsiagaan di semua bidang terus diperkuat. Antara lain, sistem gabungan Kepala Staf diubah dan pimpinan  Angkatan Bersenjata langsung dibawah Panglima Tertinggi. Angkatan Udara RI meresmikan pembentukan Komando Regional Udara (Korud) I – IV.

Adapun susunan Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat adalah sebagai berikut :

  1. Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat : Presiden/Panglima Tertinggi
  2. Wakil Panglima Besar : Jenderal A.H. Nasution
  3. Kepala Staf : Letnan Jenderal Achmad Yani.

Sedangkan susunan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat adalah sebagai berikut :

  1. Panglima Mandala : Mayor Jenderal Soeharto
  2. Wakil Panglima I : Kolonel Laut Subono
  3. Wakil Panglima II : Letkol Udara Leo Wattimena
  4. Kepala Staf Umum : Kolonel Achmad

Panglima Komando Mandala dilantik pada tanggal 13 Januari 1962, dengan menaikkan pangkat Brigjen Soeharto menjadi Mayjen, sekaligus merangkap sebagai Deputy KASAD untuk wilayah Indonesia bagian timur. Komando Mandala Pembebasan Irian Barat bermarkas di Makassar.


Jalannya Pertempuran Laut Aru

Jalannya-Pertempuran-Laut-Aru

Sebagai tindak lanjut dari Instruksi di atas, maka Panglima Mandala menyusun suatu strategi, yang disebut dengan strategi Panglima Mandala. Untuk mencapai strategi tersebut, setelah memperhitungkan kemampuan Angkatan Bersenjata pada umumnya, sesuai dengan kajian staf Gabungan Kepala Staf, maka pelaksanaan penyelesaian tugas adalah sebagai berikut :

  1. Fase Infiltrasi (Sampai akhir 1962)

Infiltrasi dilakukan dengan cara menyusupkan 10 kompi di sekitar sasaran- sasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas secara de facto, yang cukup ulet sehingga tidak dapat dihancurkan secara bagian demi bagian oleh kekuatan musuh. Justru, kesatuan-kesatuan infiltran (para penyusup) ini harus dapat menundukkan dan mengembangkan penguasaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Jaya.


  1. Fase Eksploitasi (Awal 1963)

Eksploitasi dilakukan dengan mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan, dan menduduki semua pos-pos pertahanan musuh yang penting.


  1. Fase Konsolidasi (Awal 1964)

Konsolidasi dilakukan dengan mendudukkan kekuasaan RI secara mutlak di seluruh wilayah Irian Jaya.


Misi Infiltrasi Dimulai, Sang Pahlawan Gugur

Misi-Infiltrasi-Dimulai

Pada tahap paling awal, misi infiltrasi dilakukan dengan menyusupkan pleton tugas ke Irian Barat (Vlakte Hoek), yang personelnya kebanyakan berasal dari Irian yang telah dilatih oleh ADRI. Sementara itu, ALRI juga mendapat tugas untuk membawa pleton tugas ini, setelah sebelumnya AURI pun telah mengantar satgas yang lain ke Letfuan. Saat awal infiltrasi ini, misi penyusupan lebih merupakan sebuah task force, dan belum menjadi sebuah operasi gabungan. Karena, pada saat itu koordinasi antar Angkatan dapat dikatakan masih kurang baik.

Untuk melaksanakan operasi infiltrasi ini, Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) mengerahkan 4 (empat) kapal perang jenis MTB (Motor Torpedo Boat), yaitu KRI Harimau, KRI Matjan Tutul, KRI Matjan Kumbang dan KRI Singa. Kolonel Laut Soedomo, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Operasi MBAL ditunjuk sebagai Komandan Eskader. Akan tetapi, pada saat pelaksanaan operasi, Komodor Josaphat Soedarso, – atau Yos Soedarso, – saat itu menjabat sebagai Deputi I Operasi KASAL ternyata juga ikut serta dalam operasi dengan menaiki KRI Matjan Tutul.

Keikutsertaan Komodor Yos Sudarso secara langsung dalam operasi infiltrasi ini sebenarnya merupakan suatu ketidaklaziman dalam suatu operasi militer. Mengingat, dari segi kepangkatan Komodor Yos Soedarso memiliki pangkat setingkat lebih tinggi di atas Kolonel Soedomo, yang menjadi Komandan Eskader dalam operasi. Komodor adalah pangkat yang setingkat dengan Laksamana Pertama, atau perwira tinggi AL bintang satu. Saat itu, Kolonel Soedomo berpendapat bahwa keikutsertaan Komodor Yos Soedarso secara langsung dalam operasi infiltrasi dapat mengacaukan chain of command (rantai komando) dalam sebuah operasi militer.

Namun, dikarenakan semangat bertempur yang sangat tinggi dimiliki oleh Komodor Yos Soedarso, maka beliau tetap saja ikut serta secara langsung dalam operasi infiltrasi. Saat itu, Komodor Yos Soedarso berkata kepada Kolonel Soedomo, “Kalau kamu ikut, aku juga akan ikut”. Selanjutnya, Kolonel Soedomo menjelaskan bahwa Komodor Yos Soedarso bertekad akan menancapkan bendera merah putih secara langsung dengan tangannya sendiri di atas tanah Irian Jaya. Komodor Yos Soedarso juga akan membawa segenggam tanah langsung dari asalnya, Irian Jaya, untuk ditunjukkan kepada anggota Dewan.

Persiapan keempat KRI untuk melaksanakan operasi segera dimulai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Karena operasi ini dipersiapkan untuk mengangkut pasukan, maka diputuskan bahwa persenjataan utama yang merupakan andalan kapal perang jenis MTB ini, yaitu Torpedo 12 inchi, terpaksa harus “dikorbankan” atau dipreteli terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar kapal memiliki ruang yang lebih besar sehingga dapat mengangkut pasukan lebih banyak dan sejumlah perahu karet untuk melakukan pendaratan. Sebuah keputusan yang kemudian berakibat fatal saat mereka terpaksa harus berhadapan dengan kapal perang milik musuh di tengah lautan.

Artikel Terkait:  Asal Usul dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Misi operasi ini bersifat sangat rahasia agar tidak diketahui oleh pihak musuh, dalam hal ini angkatan perang Kerajaan Belanda. Sehingga, untuk keperluan pengisian bahan bakar dan tambahan logistik lainnya dalam perjalanan dari Tanjung Priok ke Irian Jaya, keempat KRI harus melakukannya di saat tengah malam hari. Mereka tidak diperkenankan untuk berlabuh di semua pelabuhan yang dilewati. Bahkan, mereka pun dilarang menggunakan radio komunikasi untuk berkomunikasi dengan pihak lain, kecuali dengan sesama KRI MTB peserta operasi (taktik radio silent).

Dari keempat KRI itu, ternyata KRI Singa tidak dapat melanjutkan perjalanan sebelum mencapai perairan Irian Barat dikarenakan adanya kerusakan mesin. Sementara itu, sekitar pukul 17.00 waktu setempat, ketiga KRI lainnya terus melanjutkan perjalanan dengan formasi KRI Harimau berada di depan, kemudian KRI Matjan Tutul di tengah dan KRI Matjan Kumbang di belakang. Kol. Soedomo bersama Kol. Mursyid dan Kapten Tondomulyo sebagai kapten kapal berada di KRI Harimau. Sedangkan Komodor Yos Soedarso bersama kapten kapal Wiratno berada di KRI Matjan Tutul.

Hari Senin malam, menjelang pukul 21.00 waktu setempat, tanggal 15 Januari 1962 di perairan Laut Aru, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan ketiga kapal KRI. Tanda blips tidak bergerak, yang berarti kapal-kapal perang Belanda itu dalam keadaan berhenti, siap menanti. Ketiga KRI tetap saja melaju ke depan. Lalu, dua pesawat intai maritim AL Belanda jenis Neptune dan Firefly melintas, sambil menjatuhkan flare (merah menyala terang) yang tergantung pada parasut. Keadaan menjadi terang benderang dalam waktu yang cukup lama.

Tepat pada posisi 4,49 derajat Lintang Selatan dan 135,2 derajat Bujur Timur, ketiga KRI dihadang oleh tiga kapal perang AL Kerajaan Belanda. Dua kapal perang jenis Fregat Hr.Ms. Eversten dan Korvet Hr.Ms. Kortenaer mencegat di sebelah kanan KRI. Sementara satu kapal perang lagi, yakni jenis Destroyer Klas Province Hr. Ms. Utrecht berada di sebalah kiri KRI.

Tiba-tiba, kapal perang Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Soedomo memerintahkan untuk memberi tembakan balasan. KRI Matjan Tutul pun mengikuti untuk melakukan tembakan balasan, namun tidak mengenai sasaran. Selanjutnya, kapal musuh berhasil menembakkan tepat ke arah sasaran mengenai lambung kapal dan ruang kendali KRI Matjan Tutul.

Akibatnya, beberapa anggota pasukan, termasuk kapten kapal Wiratno mengalami luka cukup serius. Dalam keadaan darurat inilah, komando KRI Matjan Tutul kemudian diambil alih langsung oleh Komodor Yos Soedarso.

Untuk beberapa saat lamanya, kontak senjata masih terus berlanjut, yang memperlihatkan suatu pertempuran antara dua kekuatan AL yang tidak seimbang. Ketiga KRI tidak membawa senjata andalannya, yakni Torpedo yang telah dilucuti sebelum berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok. Senjata yang ada hanya berupa senapan mesin anti pesawat terbang, dengan senjata ukuran 12,7 mm dan meriam ukuran 40 mm. Senjata ini tidak akan dapat menjangkau target kapal-kapal perang Belanda, yang dilengkapi dengan persenjataan yang jauh lebih kuat, dengan  meriam berukuran 4,7 inchi (12 cm).

Kol. Soedomo menyadari keadaan yang semakin genting sebagai akibat dari situasi pertempuran yang tidak seimbang. Menurutnya, bertahan dengan formasi apapun dipastikan akan percuma dan ketiga KRI pasti akan mengalami kekalahan. Oleh karena itu, selanjutnya ia memerintahkan ketiga KRI untuk berputar ke kanan arah 239 derajat. Maksudnya adalah jelas untuk menghindar dari sasaran tembakan kapal musuh yang jauh lebih kuat.

KRI Harimau dan KRI Matjan Kumbang berhasil berbalik arah, dan berusaha segera menghindar. Namun, KRI Matjan Tutul justru melakukan manuver dengan tetap bergerak lurus ke depan, agak sedikit ke kanan untuk berusaha mendekati kapal Belanda Fregat HR. Ms. Eversten. Manuver ini dipandang sangat berbahaya oleh kapal musuh, karena dianggap sebagai pertanda KRI Matjan Tutul akan meluncurkan senjata andalannya, yakni Torpedo, yang sebenarnya sudah tidak ada lagi. Maka, tak pelak lagi, untuk selanjutnya KRI yang kini dikomandoi oleh Komodor Yos Soedarso itu langsung dihujani banyak tembakan oleh ketiga kapal perang Belanda.

Dalam kondisi yang sangat genting seperti itu, Komodor Yos Soedarso terus memerintahkan anggotanya agar terus maju.23 Akibatnya, ketiga kapal perang Belanda makin berkonsentrasi untuk terus menembaki KRI Matjan Tutul yang telah banyak terkena tembakan, dengan kondisi ruang kendali yang sudah rusak. Namun demikian, melalui radio, Komodor Yos Soedarso masih tetap memerintahkan anggotanya untuk terus bertempur. Perintahnya yang lantang “kobarkan semangat pertempuran” terus saja beliau teriakkan hingga KRI Matjan Tutul itu kemudian telah benar-benar tenggelam sebagai akibat terkena banyak tembakan.

Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 25 ABK KRI Matjan Tutul dan Komodor Yos Soedarso sendiri dinyatakan telah gugur. Sedangkan sisa ABK yang selamat, kemudian ditawan oleh tentara Belanda. KRI Matjan Tutul telah melakukan  manuver yang membahayakan bagi dirinya sendiri hingga tenggelam, namun telah berhasil menyelamatkan kedua KRI yang lainnya. KRI Harimau dan KRI Matjan Kumbang berhasil menghindar dan lolos dari sergapan musuh, kemudian dapat kembali ke pangkalannya dengan selamat.

Tenggelamnya KRI Matjan Tutul sempat menimbulkan kontroversi, baik terkait dengan “kenekadan” KRI ini untuk terus maju bertempur, maupun mengenai koordinasi dan dukungan dari sesama Angkatan yang lainnya. Meski sempat terjadi kesalahpahaman antar angkatan terkait peristiwa tersebut, khususnya antar ALRI dan AURI, namun pada akhirnya Presiden Soekarno mampu meredamnya dan justru berhasil mengubah keadaan. Peristiwa Pertempuran Laut Aru telah dijadikan oleh Presiden Soekarno sebagai bagian dari perjuangan dengan semangat heroik, kepahlawanan. Teriakan Komodor Yos Soedarso “kobarkan semangat pertempuran” kemudian dimanfaatkan secara maksimal untuk memperoleh kemenangan secara politis dan psikologis menuju kemenangan peperangan dalam merebut kembali kedaulatan atas Irian Jaya.

Artikel Terkait:  Prasasti Peninggalan Kerajaan Singasari

Akhir Pertempuran Laut Aru

Pada mulanya, Belanda menganggap sepele dan bahkan terkesan mencemoohkan atas segala usaha dan persiapan yang dilakukan oleh Komando Mandala dalam merebut Irian Barat. Belanda beranggapan bahwa pasukan Indonesia tidak akan mungkin dapat memasuki ke wilayah Irian. Suatu anggapan yang jelas-jelas sangat meremehkan atas kemampuan dan kekuatan militer Indonesia saat itu.

Namun, pada beberapa bulan kemudian fakta-fakta baru menunjukkan suatu kenyataan yang sebaliknya. Infiltrasi makin diintensifkan, terutama melalui udara, setelah melalui laut telah banyak diketahui oleh musuh dan terkendala oleh faktor alam, antara lain oleh gelombang laut yang tinggi. Sementara itu, terkait dengan perkembangan terakhir dari upaya diplomasi yang terjadi, maka jadwal penyelesaian tugas operasi militer berdasarkan tahapannya yang telah ditetapkan, menjadi tidak dapat diikuti lagi. Jadwal target operasi militer harus dipercepat hingga enam bulan, yang membuat pelaksanaan operasi menjadi kian intensif lagi.

Pada tanggal 18 dan 20 Maret 1962 telah berhasil didaratkan 4 peleton sukarelawan di pulau-pulau Gag, Waigeo dan Sansapor. Tanggal 23 Maret berhasil mendaratkan para sukarelawan di Sungai Jera. Tanggal 24 April dilakukan Operasi Banteng Ketaton dengan menerjunkan Tim Garuda Merah di sekitar Fak-fak dan Garuda Putih di sekitar Kaimana. Selain itu, Operasi Serigala mendaratkan pasukannya di sekitar Sorong dan di sekitar Teminabuan. Pada tanggal 15 Mei Detasemen Pelopor Brimob Polisi didaratkan di Fak-fak. Operasi Naga ini menerjunkan 214 orang.

Selanjutnya, pada tanggal 1 Agustus 1962 dilancarkan Operasi Jatayu yang bertugas menerjunkan pasukan-pasukan untuk memperkuat kesatuan yang lebih dahulu didaratkan. Diantaranya adalah pasukan Elang di Sorong, pasukan Gagak di sekitar Kaimana dan pasukan Alap-Alap di sekitar Merauke. Tanggal 7 Agustus Detasemen Pelopor 1232 Brimob didaratkan melalui laut dengan sasaran Pulau Misool. Dengan sasaran yang sama, kemudian disusul oleh Pasukan Raiders dari Kodam XV pada tanggal 9 dan 12 Agustus 1962. Dengan demikian, hingga tanggal 15 Agustus 1962, Indonesia telah berhasil menyusupkan sekitar 10 kompi pasukan.

Sementara itu, operasi penentuan yang bernama Operasi Jaya Wijaya telah dipersiapkan pula oleh pihak Indonesia. Operasi ini direncanakan untuk melaksanakan serangan terbuka dalam merebut daerah Irian Jaya. Operasi Jaya Wijaya dengan target date bulan Agustus tahun itu juga, direncanakan terbagi atas : Operasi Jaya Wijaya I untuk merebut keunggulan di udara dan di laut. Operasi Jaya Wijaya II untuk merebut Biak, Operasi Jaya Wijaya III untuk merebut Hollandia (Jayapura) dari laut, Operasi Jaya Wijaya IV untuk merebut Hollandia dari udara. Untuk melaksanakan operasi tersebut, Angkatan Laut Mandala dibawah Kol. Laut Soedomo membentuk Angkatan Tugas Amfibi 17 yang terdiri atas tujuh gugus tugas. Sedangkan Angkatan Udara membentuk enam kesatuan tempur baru.

Adanya peristiwa pertempuran di Laut Aru, kemudian ditambah dengan keberhasilan sejumlah misi infiltrasi yang telah mendaratkan banyak pasukan dan sukrelawan di beberapa tempat di Irian Barat telah mengubah pandangan Belanda terhadap kemampuan operasi militer Indonesia. Jatuhnya sejumlah daerah ke tangan pasukan Indonesia, antara lain di Teminabuan, misalnya, telah berhasil untuk memaksa Belanda agar bersedia duduk di meja perundingan guna menyelesaikan sengketa Irian Barat. Hal ini dikarenakan oleh posisi Belanda yang kian sulit, saat negara-negara lain yang sebelumnya selalu mendukungnya di forum PBB, kini mulai semakin mengerti bahwa Indonesia tidak dalam posisi main-main dalam masalah sengketa Irian Barat.

Ditambah lagi, ketika Amerika Serikat pun ternyata mulai melakukan tekanan kepada Belanda untuk bersedia berunding dengan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk dapat mencegah agar Uni Soviet dan Amerika Serikat tidak terseret dalam konfrontasi langsung di wilayah Pasifik barat daya, dengan memberikan bantuan bagi pihak-pihak yang bersengketa dalam soal Irian Barat. Maka, pada tanggal 15 Agustus 1962, suatu perjanjian antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda berhasil ditandatangani di New York, yang kemudian dikenal dengan Perjanjian New York. Perjanjian ini didasarkan atas prinsip-prinsip yang pernah diusulkan oleh Ellsworth Bunker, yang setahun lalu sempat ditolak oleh pihak Belanda.

Hal terpenting dari Perjanjian New York adalah mengenai penyerahan pemerintahan di Irian dari pihak Kerajaan Belanda kepada PBB. Untuk kepentingan tersebut, PBB membentuk United Nations Temporary Excecutive Authority (UNTEA), yang pada gilirannya nanti akan menyerahkan pemerintahan di Irian Barat itu kepada pihak Republik Indonesia, sebelum tanggal 1 Mei 1963. Sedangkan di pihak Indonesia diwajibkan untuk mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Barat sebelum akhir tahun 1969, dengan ketentuan bahwa kedua belah pihak, yakni Indonesia dan Belanda, akan menerima apapun hasil dari Pepera tersebut.


Daftar Pustaka:

  • Anwar,H.rosihan soekarno, tentara, PKI ,jl. Plaju No.10 Jakarta : yayasan obor Indonesia , 2006

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Latar Belakang Pertempuran Laut Aru: Pembentukan, Jalannya, Infasi dan Akhir

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: