Peninggalan Kerajaan Aceh

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Peninggalan Kerajaan Aceh“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Kerajaan Aceh adalah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi tersebut. Aceh, Indonesia. Kerajaan Aceh terletak di sisi utara pulau Sumatra dengan ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh sultan pertamanya bernama sultan Ali Mughayat Syah yang diangkat pada 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau 8 September 1507.

Kerajaan Aceh dibentuk oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya, kerajaan didirikan di atas kerajaan Lamuri, yang kemudian disatukan dengan beberapa kerajaan sekitarnya termasuk Pedir, Daya, Lidie dan Nakur karena berhasil ditundukkan oleh Aceh Kerajaan. Setelah itu wilayah Pasai pada 1524 menjadi bagian dari kedaulatan Kerajaan Aceh yang kemudian diikuti oleh Aru.

Kepemimpinan Kerajaan Aceh selalu mengubah kepemimpinan, di mana Kerajaan dipimpin oleh Ali Mughayat Syah serta Kerajaan pertama sampai 1528, kemudian digantikan oleh putra sulungnya, sultan Salahuddin yang berkuasa sampai 1537 dan kemudian digantikan oleh sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahar yang berkuasa sampai 1571.

Itu adalah sejarah singkat pendirian Kerajaan Aceh serta para perintis sultan berdirinya Kerajaan Aceh. Dengan sejarah panjang kerajaan ini, tentu saja ada juga banyak peninggalan bersejarah dalam bentuk masjid, benteng dan peninggalan lainnya.


Peninggalan Kerajaan Aceh

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan aceh, yaitu sebagai berikut:


  1. Masjid Agung Baiturrahman

Masjid-Agung-Baiturrahman

Masjid Agung Baiturrahman adalah masjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh, prov. Aceh, Indonesia. Masjid ini bisa dikatakan sebagai simbol agama, semangat, budaya dan perjuangan rakyat Aceh. Masjid ini juga dimasukkan sebagai salah satu bangunan yang selamat ketika Tsunami Aceh terjadi pada tahun 2004.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1612 ketika di bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda. Namun, ada juga pendapat bahwa masjid itu dibangun lebih awal ketika di bawah kepemimpinan sultan Alaidin Mahmudsyah pada 1292.

Ketika penjajah Belanda melancarkan serangan terhadap Kesultanan Aceh pada 10 April 1873, orang-orang Aceh menjadikan masjid ini sebagai benteng pertempuran dan menyerang pasukan Belanda dari dalam masjid. Pasukan Belanda bahkan lebih agresif dan serangan mereka dengan menembakkan api ke atap masjid yang terbuat dari jerami yang menyebabkan masjid terbakar.

Sebagai permintaan maaf, Jenderal Van Swieten yang merupakan tokoh militer Belanda berjanji kepada para pemimpin setempat untuk membangun kembali sebuah masjid yang telah rusak. Akhirnya, pada 1879 Belanda membangun kembali masjid Baiturrahaman Raya yang merupakan bentuk permintaan maaf dan juga niat untuk mengurangi kemarahan rakyat Aceh.

Pembangunan gedung dimulai pada 1879 dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh teungku Qadhi Malikul Adil yang kemudian juga ditunjuk sebagai Imam Masjid Agung Baiturrahman. Setelah proses pembangunan dilakukan, masjid akhirnya selesai pada tanggal 27 Desember 1882 pada masa kepemimpinan sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah.

Ketika pembangunan selesai, banyak orang Aceh menolak untuk beribadah di masjid Baiturrahman karena dibangun oleh Belanda yang dulunya musuh. Namun, kali ini telah dilupakan dan Masjid Baiturrahman Raya telah menjadi kebanggaan bagi masyarakat Aceh.


Desain Bangunan

Pada awalnya, masjid Baiturrahma dirancang oleh arsitek Belanda Gerrit Bruins yang kemudian diadaptasi oleh L.P. Luijks bertugas mengawasi pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh seorang kontraktor bernama Lie A Sie. Desain yang digunakan adalah gaya Kebangkitan Mughal yang menampilkan kubah besar yang dilengkapi dengan menara.

Bagian dalam masjid dihiasi dengan dinding dengan pilar dengan relief, jendela kaca patri dari Belgia, lantai marmer dan tangga dari Cina, bangunan batu yang berasal dari Belanda, lampu hias perunggu dan pintu kayu berdekorasi.

Artikel Terkait:  Isi Perjanjian Giyanti

  1. Masjid Kuno Indrapuri

Masjid-Kuno-Indrapuri

Masjid Indrapuri adalah bangunan candi yang berasal dari kerajaan Hindu Lamuri pada abad ke-12 M dan juga digunakan sebagai tempat pemujaan dewa sebelum masuknya Islam. Masjid ini terletak di tepi sungai Krueng (Aceh) di distrik Indudeuri, Kab. Aceh Besar. Bangunan ini dibangun di atas tanah yang memiliki luas 33.875 meter persegi dengan ketinggian 4,8 MDPL.

Masjid ini diperkirakan pertama kali dibangun pada 1207 Hijriah / 1618 M yang dibangun di atas reruntuhan bekas kuil pra-Islam. Ada sejarah yang menyatakan bahwa masjid Indrapuri didirikan oleh Sultan Iskandar Muda, sultan Aceh yang memerintah dari 1607 hingga 1636 Masehi.

Sebelumnya, sebelum masjid didirikan, daerah ini adalah salah satu kuil dan juga digunakan sebagai benteng kerajaan Lamuri. Perlu kita ketahui bersama, Lamuri sendiri adalah kerajaan gaya Hindu-Budha yang diyakini telah berjaya di ujung Pulau Sumatra sebelum masuk dan mengembangkan Islam. Keberadaan candi ini diperkirakan telah berdiri sejak abad ke 10 Masehi.


Arsitektur Masjid

Masjid Indrapuri kuno dibangun menggunakan campuran batu dan tanah liat. Ketika masjid dibangun, Sultan Iskandar Muda memasang 36 pilar untuk mendukung bangunan masjid.

Di pilar masjid, masih terlihat jelas ukiran khas zaman kerajaan kuno. Masjid ini juga memiliki atap seperti piramida dengan komposisi 4 atap dari bawah ke tepi, dan ini adalah ciri khas masjid tradisional Aceh.

Bangunan masjid dengan struktur 4 atap tidak hanya desain, tetapi juga mengandung makna yang berarti bahwa empat tingkat melambangkan 4 tingkat pengetahuan dalam Islam. Ke 4 tingkat pengetahuan mulai dari syari’ah, tarikat, esensi dan ma’rifat.


  1. Situs Sari Gunongan

Situs-Sari-Gunongan

Taman Sari Gunongan adalah peninggalan kesultan Aceh yang berada di jalan Teuku Umar, kel. Banyak, sedikit. Baiturrahaman, kota Banda Aceh, prov. Aceh. Menurut catatan sejarah taman serbuk sari Gunongan pertama kali dibangun oleh sultan Iskandar Muda dengan maksud untuk memohon permaisuri bernama Pahang putri yang kadang-kadang merindukan kota kelahirannya.

Haruskah kita semua tahu, menikahi putri Sultan Iskandar Muda Pahang Kesultanan Aceh diturunkan setelah negara Pahang di Malaysia pada 1615 adalah putri M. Sultan Pahang sebagai istri keduanya setelah putri Tsani Reubee, Pidie. Karena desis Iskandar Young dalam pemerintahan, putri Pahang sering merasa kesepian dan selalu diingatkan akan kampung halamannya di Pahang.

Sebagai seorang suami, sultan Iskandar Young tahu kesepian ratu Pahang. Untuk membuat kaisar bahagia, sultan akhirnya mendirikan gunung kecil sebagai bukit mini yang menyerupai bukit yang mengelilingi kastil Phang saat berada di Pahang.

Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan para pekerja untuk membangun bukit, dan bahkan orang-orang berpartisipasi dalam bangunan dengan memutihkan bangunan dengan kapur selama proses konstruksi. Untuk tujuan ini adalah punggungan gunung kecil yang indah. Sisi bukit juga dibangun dengan taman dan pepohonan dan masih dikenal sebagai Sari Gunongan.


  1. Pintu Khop

Pinto-Khop

Gerbang Khop adalah gerbang kecil yang menyerupai kubah, yang memiliki fungsi untuk menghubungkan taman Sari Gunongan dengan istana. Gerbang Khop juga digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi putri Pahang setelah berenang. Pintu ini tidak terlalu jauh dari Gundongan yang juga terletak di kompleks Taman Phang Putroe atau Pahang putri.

Pintu Khop juga bisa disebut sebagai pintu mutiara keagungan atau kedewasaan. Pintu itu sendiri memiliki panjang 2 meter dan lebar 3 meter, di mana bahan dasar pintu ini adalah kapur. Salah satu aturan untuk mematuhi gerbang ini adalah bahwa hanya keluarga kerajaan yang bisa melewati gerbang ini.

Gerbang Khof berdiri sangat indah dan megah dengan genangan air bersih dan jernih, tempat air muncul dari Daroy Krueng atau dikenal sebagai sungai Darul Ashiqi. Area di mana pintunya memiliki luas cukup luas 4.760 meter persegi saat ini dikelola dan digunakan sebagai taman rekreasi wisata oleh kota Banda Aceh.

Artikel Terkait:  Kerajaan Gowa Tallo

  1. Benteng Indra Patra

Benteng-Indra-Patra

Benteng Indra Patra adalah bangunan benteng bergaya Hindu yang terletak di kabupaten ini. Aceh Besar, Aceh. Benteng ini pada awalnya difungsikan sebagai bangunan pertahanan melawan serangan musuh yang menyerang wilayah Aceh.

Kita perlu tahu bersama dengan bangunan benteng ini yang didirikan pada masa kerajaan Lamuri, di mana kerajaan Lamuri adalah kerajaan bergaya Hindu di wilayah Aceh sebelum masuknya kerajaan Islam. Pada abad ke-17, ada banyak kegiatan perdagangan antar negara dan banyak melibatkan berbagai pihak eksternal seperti Tamil, Arab, Siam dan juga India.

Benteng Indra Prata sendiri terletak di daerah Ladong, kecamatan. Aceh Besar dan jaraknya sekitar 19 Kilometer dari kota Banda Aceh. Benteng ini memiliki luas 70 x 70 meter, yang awalnya memiliki 3 bangunan benteng, tetapi saat ini hanya ada dua bangunan benteng dan dua stupa.

Ketika kerajaan Hindu runtuh, benteng ini masih berfungsi sebagai benteng dari serangan musuh ketika kepemimpinan sultan Iskandar Muda dan Laksamana Malahayati.


  1. Makam Sultan Iskandar Muda

Makam Sultan Iskandar Muda terletak di sebelah Meuligoe Aceh, kediaman resmi gubernur Aceh dan juga bersebelahan dengan museum Aceh. Makam ini sebelumnya tidak diketahui di mana keberadaannya dihilangkan oleh pasukan Belanda selama perang Aceh.

Kemudian, hanya pada 19 Desember 1952 lokasi makam sultan Iskandar Muda dapat ditemukan kembali, karena instruksi dari mantan permaisuri salah satu sultan Aceh bernama Pocut Meurah.

Ketika tabuk kepemimpinan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda dari 1607 hingga 1636, ia membawa kesultanan Aceh ke puncak kejayaan. Ini terbukti pada abad ke-17, kesultanan Aceh masuk ke peringkat kelima di antara kerajaan Islam terbesar di dunia. Pada saat itu, Kesultanan Aceh menjadi tempat perdagangan internasional dengan kapal-kapal asing yang mengangkut tanah dari Asia ke Eropa.

Tidak hanya raja yang dikenal karena mampu membawa kesultanan Aceh ke puncak kejayaan, Sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana bahkan untuk keluarganya sendiri. Ini dia buktikan dengan memancung putranya bernama Meurah Pupok di depan umum karena pelanggaran serius.


  1. Meriam Sri Rambai

Meriam Sri Rambai

Salah satu bukti bahwa kerajaan ini benar-benar mencapai puncak kejayaannya pada masanya adalah peninggalan bersejarah peralatan militer, meriam Sri Rambai. Meriam Sri Rambai saat ini ditetapkan menuju laut di Benteng Cornwallis, George Town, Penang, Malaysia.

Senjata ini merupakan senjata kebanggaan dari sultan Iskandar Muda yang juga digunakan oleh Francis Light pada tahun 1786 M yang digunakan untuk mempertahankan Pulau Penang dari berbagai serangan musuh yang ingin menguasainya.

Meriam ini sendiri dibuat pada zaman Ottoman Sultan Selim II yang mengirim teknisi dan pembuat senjata dari Turki ke wilayah Aceh. Dengan didatangkannya teknisi ini, Aceh kemudian menyerap dan belajar bagaimana membuat meriam sehingga mereka dapat memproduksi meriam mereka sendiri yang terbuat dari kuningan yang kemudian digunakan untuk mempertahankan kerajaan Aceh dari berbagai serangan musuh.

Di bagian belakang meriam ada ukiran yang ditulis dalam bahasa Jawi yang berbunyi:

Tahanan Sulthan kami Sri Sulthan Perkasa Alam Johan Sovereign memerintahkan Orang Kaya Sri Maharaja untuk menjadi Panglima Tertinggi dan Laksamana Kaya dan Orang Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor Sanat 1023 H (1613 M).


  1. Pedang Aman Nyerang

Pedang-Aman-Nyerang

Di masa lalu, ada seorang penduduk bernama Nyerang, di mana ia memiliki pedang yang telah ditangkap oleh pasukan Belanda. Aman Nyerang memutuskan untuk hidup mengembara di hutan selama kurang dari 20 tahun. Namun, pada 3 Oktober 1922 tempat persembunyian yang aman akhirnya ditemukan oleh pasukan Belanda dan dia terbunuh.

Setelah terbunuh, letnan Jordans, seorang prajurit tentara Belanda, membawa pedang ke Belanda. Sampai kematiannya, letnan Jordans meminta putrinya untuk mengembalikan pedang yang dibawanya kembali ke Aceh dan disimpan di tempat seperti museum Aceh.

Kemudian, pada tahun 2000 Letnan Jordans meninggal dan putrinya membawa pesan terakhir ayahnya untuk mengembalikan pedang Aman Nyerang ke Aceh. Pedang itu dikembalikan melalui pengelolaan Yayasan Peucut Fund di Belanda kepada gubernur Aceh dan ini terjadi pada 14 Maret 2003.

Artikel Terkait:  Latar Belakang Gerakan Non Blok

  1. Mata Uang Emas Aceh

Mata-Uang-Emas-Aceh

Seperti kita ketahui, posisi Aceh terletak pada jalur pelayaran dan perdagangan yang sangat strategis, sehingga membuat berbagai komoditas perdagangan dari seluruh Asia berkumpul di Aceh. Dengan ini, dorong kerajaan Aceh untuk menciptakan mata uang mereka sendiri.

Koin adalah pilihan mata uang Aceh, di mana koin mengandung 70% emas murni dan dicetak lengkap bersama dengan nama raja-raja yang memimpin Aceh. Karena kandungan emasnya yang tinggi, mata uang Aceh ini banyak dicari oleh orang-orang dan merupakan salah satu warisan kerajaan Aceh yang mencapai hari yang mulia.


  1. Kerkhoff Peutjoet

Kerkhoff-Peutjoet

Kerkhof Peutjoet adalah pemakaman seorang tentara Belanda yang tewas dalam perang Aceh. Kompleks penguburan ini tersebar di hampir semua wilayah Indonesia dan salah satunya terletak di kota Banda Aceh.

Kita perlu tahu bersama, pada masa penjajahan di masa lalu kerajaan Aceh yang dibantu oleh rakyatnya sangat gigih melawan dan melawan Belanda. Rakyat Aceh rela mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk mempertahankan tanah air mereka. Dengan perlawanan ini sejak lama, banyak korban di kedua sisi kerajaan Aceh dan tentara Belanda jatuh.

Pada pemakaman ini ada sekitar 2000 tentara yang dimakamkan, baik dari tentara Belanda dan juga Batak, Jawa, Ambon, Madura dan beberapa tentara lain yang termasuk dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda.

Makam Kerkhoff adalah kuburan militer Belanda di luar Belanda dengan ukuran terbesar di dunia. Dalam sejarah perang Belanda, perang Aceh adalah perang paling pahit yang dirasakan oleh Belanda, bahkan pengalaman pahit mereka pada saat perang Napoleon.

Sampai sekarang, kuburan ini masih dirawat oleh orang-orang Aceh dan merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Aceh yang paling banyak dikunjungi.


  1. Sungai Darul Ashiqi / Krueng Daroy

Sungai-Krueng-Daroy

Sungai ini memiliki fungsi untuk mengalirkan air ke gerbang Khof yang dikelilingi oleh kolam, sumber air kolam berasal dari sungai Darul Ashiqi. Sungai ini bukan sungai yang terbentuk secara alami tetapi sungai yang sengaja dibuat, yang panjangnya sekitar 5 km dari pegunungan Mata le yang terletak di kec. Darul Imarah, kab. Aceh Besar.


  1. Cap Sikureung

Cap-Sikureung

Stempel Sikureung adalah stempel atau stempel para sultan yang memimpin Aceh. Perangko ini adalah perangko resmi yang digunakan oleh sultan dan sultanah Aceh yang fungsinya adalah untuk meratifikasi suatu perintah atau mandat. Dalam bahasa Aceh, Cap Sikureung berarti Cap Nine.

Memberi nama ini, berdasarkan bentuk prangko yang memuat nama-nama sultan yang berjumlah sembilan orang dan sultan yang memerintah pada saat itu namanya tertulis di tengah-tengah prangko.


  1. Hikayat Prang Sabi

Hikayat-Prang-Sabi

Saga Prang Sabi adalah suatu bentuk peninggalan sejarah dari kerajaan Aceh dalam bentuk karya sastra. Kisah ini menceritakan tentang jihad. Karya sastra ini ditulis oleh para sarjana Aceh yang berisi nasihat, undangan, dan seruan untuk menegakkan agama Tuhan daripada campur tangan orang-orang kafir. Inilah yang membakar semangat juang rakyat Aceh yang tidak takut mati dalam mengusir penjajah.


Daftar Pustaka:

  1. Ari L, Dwi, dan Leo Agung. 2004. Sejarah Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Media Tama
  2. Heru P, Eko dkk. 2006. Sejarah Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : CV Sindhunata.
  3. Amiruddin M, Hasbi. 2006. Aceh dan Serambi Mekkah. Banda Aceh : Yayasan PeNA

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang 13 Peninggalan Kerajaan Aceh, Penjelasan Beserta Gambar

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: