Materi Sejarah Kelas 12 PKI Madiun

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Pemberontakan PKI Madiun“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Pemberontakan-PKI-Madiun

Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah salah satu partai besar yang muncul pada tahun awal kedua abad ke-20. Kemunculan partai ini memiliki sejarah panjang dalam masa pergerakan nasional di Indonesia. Partai ini berdiri dengan menggunakan nama PKI pada tahun 1920. Namun sebelumnya gerakannya sudah terlihat jauh sebelum organisasi ini terbentuk. Organiasasi yanSebabg bersifat “radikal” di Hindia Belanda pada waktu itu adalah ISDV ”INdische Sosiale Democratie Veereningen” pada tahun 1913.

Organiasi yang didirikan oleh Sosialis Belanda ini, Sneevlit. Pada mulanya bergerak sebagai partai buruh kereta api yang menolak sistem out-sorsing. Kemudian partai ini mulai mendapat simpati dari anggota SI (sarekat Islam) yang bersifat Progesis, di antaranya adalah Semaun, Darsono yang pada akhirnya mendirikan memisahkan diri dari SI, karena menganggap Organiasi tersebut tidak progresif serta lebih bersifat Kooperatif terhadap pemeritah kolonial.

Di Eropa pada tahun 1917 telah meletus revolusi di Rusia dan mendirikan republic yang berhaluan Komunis Aliran Komunis ini mudah mendapat perhatian dari bangsa yang terjajah, karena dalam menifes dari komunis Rusia yang dikeluarkan apada tahun 1919 telah dinyatakan bahwa pembebasan-pembebasan Negara-negara yang terjajah, hanya dapat tercapai dengan pembebasan kaum buruh di Eropa. Jadi nasib atau kekuasaan dari kaum buruh ditegaskan ada erat sangkut-pautnya dengan pembebasan dari bangsa-bangsa yang terjajah.

Perkembangan kaum buruh pada periode ini memang sangat revolusioner, hal ini memang menjadi salah satu semangat jaman. Yang saat itu dalam kondisi persiapan untuk melakukan konsolidasi.Kepercayaan PKI untuk segera melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial karena diakibatkan oleh semangat partai yang serupa di di Rusia yang merupakan basis Komunis di dunia. Pergerakannya di Indonesia menjadi organiasasi masa yang besar dan berpengaruh pada saat itu.Karena sebagian besar simaptisan partai ini adalah para kaum buruh dan petani yang merupakan kelas tertindas saat itu.Kaum buruh pada masa kolonial memang memilki kuantitas yang besar, mengingat intensifnya pemerintah dalam membangun perusahaan di Indonesia.

Buruh tersebut ada yang menjadi pegawai perusahaan, semisal buruh kereta api, pos, dsb. Namun juga terdapat buruh yang bersifat lepas, semisal buruh pabrik tebu, pelabuhan yang mereka datang dengan sendirinya tanpa adanya pelatihan atau keahlian dalam bidang tersebut.

PKI dalam kongresnya pada tahun 1920 di Semarang mengambil 2 keputusan penting, yaitu:

  1. Keputusan yang menyatakan dengan tegas bahwa PKI di Indonesia menggabungkan diri kepada Comunistische Internationale yang dengan singkat di sebutkan Comitern.
  2. Pada kongres ini di putuskan ingin bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda dengan mengirimkan wakil wakilnya di dalam Badan Perwakilan.

Dengan disetujuinya perjanjian Renville maka wilayah Republik Indonesia semakin berkurang dan semakin sempit, ditambah lagi dengan blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 23 Januari 1948 Amir Syarifuddin menyerahkan mandatnya kepada presiden Republik Indonesia. Presiden kemudian menunujuk Moh. Hatta suntuk menyusun kabinet. Hatta menyusun kabinet tanpa campur tangan golongan sayap kiri atau sosialis.

Partai Komunis Indonesia (PKI) pada awal tahun 1923 sudah memilki banyak pengikut dari berbagai golongan masyarakat yang ada, terutama masyarakat kelas bawah.Dalam perkembangannya PKI mulai melakukan tindakan otensif terhadap pemerintah kolonial.Peristiwa tersebut terjadi dan meletus di Banten pada tahun 1925-1926.Yang meluas kebeberapa daerah sekitarnya. Peristiwa ini dilatarbelakangi tindakan kerusuhan yang terjadi antara pemrintah, sararan pemerontakannya adalah pegawai-pegawai kolonial yang bertugas diwilayah tersebut.

Terjadi pula serangan terhadap bupati yang bersifat kooperatif .dalam periswita ini, peminpin pemberontakan adalah orang-orang besar atau ulama yang ingin menumpas kekafiran. Sehingga dalam kasus ini tema yang diangka adalah perang melawan orang kafir, yang diindentikan dengan orang-orang kolonial Eropa.


Sebab-Akibat Pemberontakan PKI Madiun

Sebab-Akibat-Pemberontakan-PKI-Madiun

Tidak lama setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 18 September 1948 terjadi peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok orang dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemerdekaan yang seharusnya dihiasi dengan pembangunan Bangsa, justru malah dikacaukan oleh sekelompok orang yang tidak paham tentang arti kemerdekaan Indonesia. Kelompok yang satu ini lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada kepentingan nasional yang seharusnya lebih diperhatikan untuk kemajuan bangsa.

Pemahaman komunisme tumbuh dibenak orang-orang PKI, sedangkan rakyat biasa seperti para petani, buruh dan lain sebagainya tidak tahu apa arti dari paham politik tersebut. Mereka mengikuti para aktivis PKI hanya karena ikut-ikutan dan bukan karena pemahaman yang baik tentang komunisme tersebut.

Peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh PKI ini diawali dengan kesepakatan perjanjian Renville, di mana Negara Indonesia berada dalam posisi yang sangat dirugikan. Kerugian pertama yaitu adanya penyempitan kekuasaan wilayah Indonesia dan hal ini semakin memperlemah posisi Indonesia, karena pada saat itu posisi Negara Indonesia terkurung oleh kekuasaan Belanda.

Kerugian kedua yang terjadi di Indonesia adalah hancurnya sektor perekonomian, dimana masyarakat Indonesia sangat lemah dalam bidang perekonomian karena di blokade oleh Negara Belanda. Kerugian ketiga yang dirasakan oleh Negara Republik Indonesia adalah konflik antara Amir Syariffuddin dan kelompok yang kontra terhadap hasil perjanjian Renville, dimana kelompok ini didominasi oleh Partai Nasional Indonesia dan Masyumi.

Tidak lama setelah perjanjian Renville, pada bulan Januari 1948, Amir Syariffuddin lengser dari jabatannya, dan lengsernya Amir Syariffuddin disikapi dengan rasa kecewa oleh Muso. Setelah Amir Syariffuddin turun dari jabatannya, Mohammad Hatta ditunjuk untuk membentuk kabinet, dan pada pembentukan kabinet tersebut, Mohammad Hatta mengajak Masyumi, PNI, dan Sayap kiri untuk bergabung dan bersama-sama membangun kabinet koalisi dengan proporsi wakil yang seimbang. Dalam perundingannya, Sayap Kiri tidak menolak tawaran tersebut untuk terlibat dengan kabinet koalisi Hatta.

Namun, Sayap Kiri menginginkan kedudukan yang lebih strategis dan lebih dominan dengan mengajukan pengaturan penempatan kedudukan bagi wakil-wakilnya. Amir Syariffuddin menggalang kekuatan dengan kelompok sosialis lainnya seperti, Partai Komunis Indonesia (PKI), Pemuda Sosial Indonesia (PESINDO), Partai Sosialisasi Indonesia (PSI), dan partai buruh. Kelompok tersebut diberi nama perjuangan Front Demokratik Rakyat (FDR).

Artikel Terkait:  Dampak Agresi Militer Belanda 1

Tujuan Pemberontakan PKI Madiun

Tujuan-Pemberontakan-PKI-Madiun

Tujuan pertama yang dilakukan oleh PKI adalah dengan melakukan propaganda kepada masyarakat untuk mempercayai akan pentingnya Front Nasional. Lewat Front Nasional tersebut dilakukan penggalangan kekuatan revolusioner dari masyarakat tani, buruh, dan golongan rakyat miskin lainnya dengan memanfaatkan keresahan sosial yang terjadi di antara masyarakat tersebut. PKI berencana bahwa setelah upaya tersebut dilakukan, maka selanjutnya PKI akan berkoalisi dengan tentara.

PKI beranggapan bahwa tentara Indonesia harus memiliki sikap yang sama seperti tentara merah yang berada di Uni Soviet. Tentara yang dipilih oleh PKI harus memiliki pengetahuan di bidang politik dan dibimbing oleh opsir-opsir politik, serta harus memiliki pemikiran anti penjajahan. Sebagian besar tentara yang bergabung dengan PKI adalah tentara yang mempunyai rasa sakit hati akibat adanya program Rasionalisasi dan Reorganisasi oleh kabinet Hatta dan secara kebetulan mereka juga menemukan persamaan tujuan dengan PKI.

Pemberontakan yang dilakukan oleh PKI di Madiun di mulai pada jam 03.00 setelah terdengarnya tembakan pistol tiga kali sebagai tanda dimulainya gerakan non-parlementer oleh kelompok komunis, kemudian disusul dengan adanya gerakan pelucutan senjata. Selanjutnya, kesatuan PKI menguasai tempat-tempat penting yang berada di kota Madiun, seperti tempat penyimpanan uang rakyat (Bank), Kantor Polisi, Kantor Pos, dan Kantor Telepon. Setelah itu, para pasukan PKI melanjutkan aksinya dengan menguasai Kantor Radio RRI dan Gelora Pemuda yang akan digunakan sebagai alat untuk mengumumkan ke seluruh penjuru negeri mengenai penguasaan kota Madiun yang nantinya akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

PKI juga mengumumkan pendirian Sovyet Republik Indonesia dan pembentukan pemerintahan Front Nasional. Proklamasi ini diumumkan oleh Supardi, seorang tokoh FDR dari PESINDO dengan diiringi pengibaran bendera merah. Dengan adanya proklamasi tersebut, maka kota Madiun dan sekitarnya dinyatakan resmi sebagai daerah yang merdeka dan tidak lagi menjadi bagian dari Indonesia.

Pada tanggal 18 September 1948, PKI menyatakan bahwa berdirinya Soviet Republik Indonesia tersebut bertujuan untuk mengganti Pancasila (Dasar Negara Indonesia) dengan komunis. Namun, ketika Sovyet Republik Indonesia diumumkan,  Amir Syariffuddin dan Muso yang selanjutnya ditunjuk sebagai Presiden dan Wakil Presiden, mereka malah berada luar di kota Madiun. Organisasi-organisasi yang sudah dipersiapkan untuk menjalankan pemberontakan tersebut antara lain:

  • Kelompok yang di pimpin oleh Sumantoro (PESINDO)
  • Pasukan Divisi VI Jawa Timur dipimpin oleh Kolonel Djokosujono, dan Letkol Dahlan.

Waktu itu, panglima Divisi VI Jawa Timur adalah seorang Kolonel bernama Sunkono. Selain itu, ada juga sebagian Divisi Penembahan Senopati yang dipimpin oleh Letkol Sutojo dan Letkon Suadi. Dalam gerakan ini, organisasi PKI telah melakukan pembunuhan terhadap dua orang pegawai pemerintah dan menangkap empat orang anggota militer. Perebutan wilayah ini berlangsung dengan lancar, dan selanjutnya mereka mengibarkan bendera merah di depan Balai Kota.

Anggota komunis yang dipimpin oleh Sumarsono, Dahlan, dan Djokosujono dengan cepat telah menguasai daerah-daerah yang berada di kota Madiun, karena sebagian besar tentara yang berada di kota tersebut tidak melakukan perlawanan terhadap pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut. Di sisi lain, pertahanan kota Madiun sebelumnya memang lemah sehingga dengan cepat sudah dikuasai oleh Pasukan Brigade 29.121. Pada jam 07.00 pagi, PKI telah berhasil menguasai kota Madiun dengan sepenuhnya.


Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun

Peristiwa-Pemberontakan-PKI-Madiun

Pada tahun 1947 terjadi perubahan dalam strategi gerakan komunis internasional yang dipimpin oleh Stalin. Strategi komunis yang menganjurkan front persatuan antara semua kekuatan anti fasis ditinggalkan dan diganti dengan strategi baru yang secara tegas membagi dunia dalam dua kubu, yakni kubu imperialis yang anti demokrasi dipimpin oleh amerika serikat dan kubu Anti imperialis yang demokratis di pimpin oleh uni soviet.

Pergantian strategi itu dijalankan dengan pembentukan biro informasi komunis yang lazim disebut dengan cominform pada tanggal 22 september 1947 di warsawa. Perubahan ini sontak membuat para Negara anggota komunis segera berganti haluan.

Sementara itu di Indonesia, Amir Syarifudin seorang menteri yang merangkap sebagai menteri pertahanan menyusun sebuah konsep tentara merah Uni Soviet. Keinginan dan bayangan Amir Syarifudin akan terwujudnya konsep tentara merah harus kandas karena konsep itu langsung ditolak secara mentah oleh Jendral Soedirman dan Jendral Oemar Soemoharjo. Kedua Jendral itu langsung menjelaskan bahwa Tentara Republik Indonesia (TRI) adalah tentara rakyat dan tentara pejuang, bukan tentara model asing apalagi model tentara merah.

Konsep itu ditolak namun Amir Syarifuddin sebagai menteri pertahanan masih memiliki wewenang untuk tetap melanjutkan konsep tersebut. Dia menciptakan pendidikan politik tentara yang menjadi lembaga yang memberikan pendidikan politik atau sejenis komisaris Dalam angkatan bersenjata politik di Negara-negara komunis.Tujuan dari perpolit adalah untuk menanamkan pengaruh komunis dalam kalangan anggota tentara.Untuk melancarkan tujuannya anggota perpolit diberikan pangkat dalam militer.

Pada bulan Juli 1947 Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk melebur TRI dan lascar-laskar lainnya menjadi satu dan berganti nama menjadi TNI. Penggabungan ini tentunya sangat merugikan bagi kepentingan-kepentingan komunis. Oleh karena itu orang-orang komunis tetap melakukan usaha untuk tetap memiliki kekuatan persenjataan yang berada langsung dibawah pengaruh komunis.

Untuk mewujudkan itu, pada bulan agustus 1947 Amir Syarifuddin membentuk TNI masyarakat dan Direktorat Jendral Angkatan Laut di Lawang dengan pimpinan Atmadji. Atmadji adalah bekas sekertaris Gerindo.Direktorat ini membentuk tentara Laut Republik Indonesia (TLRI).Melalui organisasi-organisasi tersebut kaum komunis berusaha mewujudkan keinginannya untuk membentuk angkatan bersenjata.

Namun mimpi hanya menjadi mimpi, usaha Kaum komunis untuk menguasai TNI dibawah pengaruh mereka dapat digagalkan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman dan kepala stafnya Letnan Jendral Oerip Soemoharjo.Kegagalan itu seakan menjadi cambuk bagi kaum komunis. Gagal menguasai melalui jalur kekuatan orang-orang komunis merubah strategi mereka yakni dengan mencoba menguasai TNI melalui jalur parlementer.

Artikel Terkait:  Peninggalan Kerajaan Singasari

Pada akhir desember 1947. Z baharuddin, anggota KNIP dan kawan Separtai Amir Syarifuddin menyampaikan pada pemerintah Mosi Rasionalisasi Angkatan perang yang berisi sebagai berikut:

  1. Rasionalisasi dalam kesatuan angkatan perang
  2. Menteri pertahanan bertanggung jawab penuh terhadap masalah anggkatan perang, baik dalam hal organisasi maupun dalam hal siasat

Mosi ini diajukan dengan tujuan untuk menguasai Angkatan perang sebagaimana telah lama diidam –idamkan oleh kaum komunis.Dengan mengigat kondisi angkatan perang saat itu, tampaknya mosi ini sangat cukup simpatik dan rasional. Partai-partai lain rupanya setuju dengan mosi itu karena mereka tidak memahami apa yang menjadi tujuan kaum komunis yang sesungguhnya.

Setelah persetujuan Renvile yang dihasilkan oleh Kabinet Amir Syarifuddin ditolak oleh KNIP, cabinet Amir syarifuddin jatuh. Peristiwa ini merupakan titik balik dari gerakan kaum komunis dalam segi politik maupun dari segi militer. Dengan jatuhnya Amir syarifuddin rencana kaum komunis mengalami kemunduran. Memang rasionalisasi masih dilanjutkan oleh cabinet selanjutnya, namun dengan konsepsi yang sangat berbedadari konsepsi komunis.Konsepsi baru ini justru mencegah berkembangnya kekuatan golongan-golongan komunis.Konsep itu adalah Re-Ra yang digawangi oleh Moh Hatta.

PKI tentu saja tidak setuju dengan Re-Ra. Mereka menghimpun kekuatan untuk menghentikan dan menolak Re-Ra. PKI mengadakan penyusupan dibeberapa partai dengan tujuan dapat menanamkan ideology mereka.Keberhasilan ditandai dengan terpecahnya partai sosialis yang dipimpin oleh Sutan Sjahir menjadi dua kubu, kubu pro komunis dan kubu kontra komunis. Bukan hanya PKI, Amir Syarifuddin juga mengumpulkan kekuatan golongan kiri untuk menentang Re-Ra. Semua partai yang pro akan komunis bergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Pada saat suasana sedang bergejolak akibat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh FDR, datang seorang tokoh komunis muda bernama Suripno, ia datang dari kongres pemuda di Praha, ia datang dengan membawa seorang sekretaris bernama Suparto, yang ternyata orang tersebut adalah Muso, seorang tokoh pelarian dari Indonesia dan melarikan diri ke Moskow sejak 1926.

Dan kembali ke Indonesia pada tahun 1935, namun kemudian ia melarikan diri kembali ke Moskow pada tahun 1936. Sejak awal kedatangannya ia lalu mengambil alih pimpinan kaum komunis Indonesia dan mencetuskan konsepsinya dengan nama “Jalan Baru Republik Indonesia”, yang berisi:

  • Hanya boleh ada satu partai yang berlandaskan Marxisme-Lenimisme, oleh karenanya partai-partai yang berada dibawah naungan FDR, harus rela dijadikan partai yang tugasnya hanya membantu urusan politik PKI.
  • Partai Komunis harus menyelenggarakan Front Persatuan Nasional, yang dipimpin oleh Muso sendiri, konsepsi ini dengan patuh dilaksanakan oleh Amir Syarifudin, Setiadjit dsb., sehingga semua partai dibawah FDR semuanya tergabung kedalam PKI.

Pada tanggal 1 September 1948, Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) pertama dibentuk dengan Muso sebagai ketuanya menggantikan Sardjono, ia mengangkat Mr. Amir Syarifudin sebagai sekretaris urusan pertahanan, Suripso menangani urusan luar negeri, M.H. Lukman seorang tokoh muda PKI diangkat sebagai Pemimpin Sekretariat Agitrasi Dan Propaganda (AgitProp). Tokoh lainnya seperti Aidit dipercaya untuk menangani urusan perburuhan, dan Njoto diangkat untuk menjadi Wakil PKI dalam badan pekerja KNIP.

Semua tokoh-tokoh yang telah dipilih oleh PKI, kemudian melakukan Pidato-pidato ke daerah-daerah, seperti di Yogyakarta, Solo, Sragen dan Madiun, dalam orasinya mereka menggembar-gemborkan tentang janji-janji muluk PKI, dan juga dengan nada yang membakar emosi massa, bahkan Muso didepan rakyat berpidato dengan nada mengancam kepada pegawai pemerintah dan tokoh yang berasal dari luar PKI, aksi-aksi mereka ini bertujuan untuk menurunkan derajat pemerintah RI, dan SOBSI melaksakan pemogokan di Delangu.

Aksi kerusuhan lainnya kemudian menyusul, misalnya di Solo yang diwarnai dengan penculikan, pembunuhan dan teror bersenjata. Banyak tokoh yang menentang kemudian dibunuh seperti Kolonel Soetarto dan  dr. Muwardi.

Pasukan-pasukan yang menentang re-ra karena hasutan PKI kemudian  melakukan serangan-serangan terbuka, terutama setelah TLRI dan Pesindo bergabung didalamnya, pada tanggal 18 September 1948 mereka kemudian melakukan serangan kepada TNI, yang pada waktu itu Fokus perhatian TNI sedang berada di Solo. PKI dibawah pimpinan Sumarsono dan Kolonel Djokosujono melakukan perebutan kekuasaan di Madiun dan memproklamirkan berdirinya “Soviet Republik Indonesia”.

Pada tanggal 19 September 1948 Muso membentuk Front Nasional, yang mengakibatkan pasukan TNI terdesak dan kemudian menyingkir keluar dari Madiun. Dalam hal ini tentunya apa yang telah PKI lakukan menyalahi Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dan dengan singkat pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin oleh Muso ini telah menguasai beberapa sektor penting seperti Kantor-kantor pemerintahan, Markas Teritorial Komando Madiun, Kantor Pos dan Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT), dalam aksinya mereka dengan membabi buta, penyiksaan dan pembunuhan diluar batas kemanusiaan, mereka membantai habis orang-orang baik dari golongan pemerintah maupun rakyat biasa yang menolak dan kontra dengan PKI.  Kolonel Djokosujono kemudian diangkat menjadi “Gubernur Militer”, dan dengan singkat PKI menguasai Madiun, Kabupaten Purwodadi, dan Kecamatan Cepu.

Setelah peristiwa ini pemerintah RI kemudian melakukan perundingan dan pidato yang isinya mempersilahkan rakyat untuk memilih, antara Muso dengan rencana pembentukan Soviet Indonesia-PKI ataukah memilih Soekarno-Hatta sebagai pemimpin RI yang sah pada waktu itu, dan rakyat kemudian memilih Soekarno-Hatta, pemerintah kemudian mengambil langkah sigap dengan mengerahkan pasukan TNI untuk menumpas PKI dan seluruh antek-anteknya, baik yang berada di wilayah territorial maupun yang diwilayah pedalaman yang terlibat dengan PKI.


Tokoh Pemberontakan PKI Madiun

Tokoh-Pemberontakan-PKI-Madiun

Tokoh Tokoh yang terlibat dalam PKI :

  1. Musso (Tokoh utama dan Pemimpin pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 )
  2. Amir Syarifuddin (Pemimpin FDR)
  3. Kolonel Dahlan (Pemimpin Brigade 29 )

Tokoh tokoh yang ditugaskan dalam penumpasan PKI di madiun :

  • Tentara dari Jawa Tengah dipimpin oleh Kolonel Gatot Subroto.
  • Tentara dari Jawa Timur dipimpin oleh Kolonel Sungkono.
  • Mobil Brigade Karesidenan Surabaya.
  • Mobil Brigade Besar Jawa Tengah.
  • Mobil Brigade Besar Jawa Timur dipimpin oleh KP. I M. Yasin.

Para pimpinan Mobrig dalam penumpasan PKI Madiun :

  1. KP. I M Yasin : Pimpinan Operasi
  2. KP. II Soetjipto Joedodiharjo : Pengendali Operasi
  3. IP. I Soetjipto Danoekusumo : Komandan Operasi
  4. PIP. I Imam Bachri : Komandan Batalyon
  5. PIP. I Abdul Rahman : Wakil Komandan Batalyon
Artikel Terkait:  Masa Penjajahan Inggris Di Indonesia (1811-1816)

Para Komandan Kompi Mobrig :

  1. PIP. II Sutopo : MBK Surabaya
  2. PIP. II Yusuf Jayengrono : MBK Surabaya
  3. PIP. II Kusnadi : MBK Surabaya
  4. PIP. II Sukadi : MBB Jawa Timur
  5. PIP. II Wirato : MBB Jawa Timur

Upaya Penumpasan Pemberontakan PKI Madiun

Upaya-Penumpasan-Pemberontakan-PKI-Madiun

Pemberontakan PKI yang terjadi di kota Madiun mendorong Presiden Republik Indonesia untuk melakukan tindakan tegas terhadap PKI. Presiden RI, Ir. Soekarno memusatkan seluruh kekuasaan yang berada di bawah komadonya. Ketika beliau mendengar berita bahwa kota Madiun telah dikuasai oleh sekelompok pemberontak dari PKI yang dipimpin Muso, maka pemerintah langsung mengadakan Sidang Kabinet Lengkap yang berlangsung pada tanggal 19 September 1948 dan diketuai secara langsung oleh Ir.

Soekarno. Hasil sidang tersebut mengambil keputusan antara lain:

  • Bahwa peristiwa yang terjadi di kota Madiun yang digerakan oleh PKI adalah suatu pemberontakan terhadap Pemerintah Indonesia dan memberikan instruksi kepada alat-alat Negara dan Angkatan Perang untuk memulihkan keamanan Negara.
  • Memberikan kekuasaan penuh terhadap Jenderal Sudirman untuk melaksanakan tugas pemulihan keamanan dan ketertiban di Madiun dan daerah-daerah lainnya.

Setelah Peresiden memberikan Komando kepada Angkatan perang untuk memulihkan keamanan di kota Madiun, dengan segera Angkatan Perang mengadakan penangkapan terhadap provokator yang membahayakan Negara dan diadakan penggerebegan di tempat-tempat yang dianggap perlu untuk diamankan. Untuk melaksanakan intruksi presiden tersebut dengan sebagik-baiknya, maka Markas Besar Angkatan Perang segera menunjuk dan mengangkat Kolonel Sungkono, Panglima Divisi VI Jawa Timur sebagai Panglima Pertahanan Jawa Timur yang selanjutnya mendapat tugas untuk memimpin pasukan dari arah timur untuk menumpas Pemberontakan yang dilakukan oleh PKI Musso dan mengamankan kembali seluruh daerah di Jawa Timur dari ancaman pemberontak.

Setelah mendapat perintah tersebut, Kolonel Sungkono segera memerintahkan Brigade Surachmad untuk bergerak menuju kota Madiun. Pasukan tersebut dipimpin oleh seorang Mayor bernama Jonosewojo.  Pembagian pasukan terdiri atas Batalyon Sabirin Mucthar bergerak menuju Trenggalek terus ke Ponorogo, Batalyon Gabungan yang dipimpin oleh Mayor Sabaruddin bergerak melalui Sawahan menuju Dungus dan Madiun, sedangkan Batalyon Sunarjadi bergerak melalui Tawangmangu, Sarangan, Plaosan.

Selain itu, pasukan Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Sadikin juga berusaha untuk menguasai Madiun. Untuk tugas operasi ini, Divisi Siliwangi mengerahkan kekuatan dari 8 Batalyon, yang di antaranya adalah: Batalyon Achmad Wiaranatakusumah, Batalyon Lukas (Pengganti dari Batalyon Umar), Batalyon Daeng, Batalyon Nasuhi, Batalyon Kusno Utomo (dipimpin Letkol Kusno Utomo yang juga memegang dua Batalyon), dan Batalyon Sambas yang kemudian diganti dengan Batalyon Darsono, Batalyon A. Kosahi Batalyon Kemal Idris.

Di sisi lain, pasukan penembahan Senopati yang dipimpin oleh Letkol Selamet Ryadi, Pasukan Perang Pelajar yang dipimpin oleh Mayor Achmadi, dan pasukan dari Banyumas yang dipimpin oleh Mayor Surono. Batalyon Kemal Idris dan Batalyon A. Kosashi yang di datangkan dari Yogyakarta bergerak dari arau utara dengan tujuan Pati. Batalyon Daeng bergerak dari Utara menuju Cepu dan blora.

Batalyon Nasuhi dan Batalyon Achmad Wiranatakusuma bergerak ke arah selatan dengan tujuan Wonogiri dan Pacitan. Batalyon Lukas dan Batalyon darsono bergerak ke arah Madiun. Sedangkan untuk pasukan Panembahan Senopati bergerak ke arah utara dan Pasukan Tentara Pelajar yang dikomandoi oleh Mayor Achmadi bergerak ke Madiun melalui Sarangan.

Musso yang melarikan diri ke daerah Ponorogo akhirnya tertembak mati oleh Brigade S yang di pimpin oleh Kapten Sunandar pada tanggal 32 Oktober 1948. Penembakan ini terjadi sewaktu Kapten Sunandar sedang melakukan patroli. Sedangkan pada tanggal 20 November 1948, pasukan Amir Syariffuddin yang berusaha menuju Tambakromo terlihat sangat menyedihkan. Banyak diantara pasukan Amir ingin melarikan diri, tetapi warga selalu siap untuk menangkap mereka. Banyak mayat para pemberontak ditemukan karena kelaparan atau sakit, dan akhirnya Amir Syariffuddin menyerahkan diri beserta sisa pasukannya pada tanggal 29 November 1948.

Gerakan Operasi Militer yang dilancarkan oleh pasukan yang taat dan patuh kepada pemerintah Republik Indonesia berjalan dengan singkat. Hanya dalam waktu 12 hari, Madiun beserta daerah-daerah di sekitarnya dapat dikuasai kembali, tepatnya pada tanggal 30 September 1948. Setelah Madiun dapat direbut kembali oleh pasukan TNI, keamanan kota Madiun-pun mulai terkendali dan setiap rumah yang berada di sekitarnya mengibarkan bendera Merah Putih.


Dampak Pemberontakan PKI Madiun

Dampak-Pemberontakan-PKI-Madiun

Terjadinya pemberontakan di kota Madiun membuat keamanan di daerah tersebut tidak stabil sehingga meresahkan warga yang berada di daerah tersebut. Akibat pemberontakan tersebut, aktivitas warga biasa seperti petani dan buruh terganggu. Kelancaran untuk membangun bangsa pada saat itu menjadi terganggu dan hal ini merugikan masyarakat Indonesia. Dampak lain yang disebabkan oleh pemberontakan PKI yakni, banyaknya korban jiwa yang baik dari anggota TNI maupun anggota PKI, tidak sedikit pasukan kedua pihak yang terluka dan mati.

Pasukan PKI juga banyak yang meninggal karena kelaparan dan penyakit. Pemberontakan PKI ini melibatkan setidaknya 8 Batalyon dan pasukan Militer Indonesia yang harus bertempur melawan para pemberontak yang sebetulnya juga merupakan rakyat Indonesia.


Daftar Pustaka:

  • Menteri /sekertaris negara republik Indonesia.30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949. Jakarta: Tirta pustaka.
  • Susatyo, Rachmat. Pemberontakan PKI-Musso di Madiun 18-30 September 1948. Bandung: Koperasi ilmu pengetahuan sosial, 2008
  • Dr. A.H. Nasution, Sedjarah Perdjuangan Nasional Indonesia, Jakarta: Mega Book Store, 1966
  • Dimjati, Muhammad. Sedjarah Perdjuangan Indonesia, Widjaja, Jakarta: Widjaja, 1951
  • Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta: Sinar Bahagia 1984
  • IPS, Hal : 249-250, Penerbit : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional,
  • Penulis :Sutarto.dkk, Percetakan PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri-Solo
  • Herimanto. Sejarah – Pembelajaran sejarah interaktif. Solo : Platinum 2014

Demikian Penjelasan Materi Diatas.

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: