Materi Kristalografi

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Kristalografi“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Kristalografi

Dalam mempelajari ilmu tentang planet bumi tentu ada kupasan mengenai struktur, komposisi, sejarah sampai proses penciptaan bumi. Pada ilmu geologi, akan tidak sedikit dipelajari tentang seluk beluk planet bumi lebih mendalam. Dimulai dari format penampakan bumi, relief permukaan bumi di daratan maupun di lautan dan beda sebagainya. Semua tersebut penting guna diketahui, oleh karena tersebut mempelajari mengenai proses pembentukan bumi akan meningkatkan pengetahuan mengenai ilmu geologi.

Seperti yang anda ketahui, andai materi dasar dari planet bumi ialah batuan. Batuan – batuan itu berisi sekian banyak macam bagian dan mineral, sampai-sampai setiap batuan tidak mempunyai kandungan yang sama antara batuan yang lain. Berbicara tentang mineral yang ada di batuan, tidak lengkap andai kita tidak memahami sifat jasmani mineral yang terdapat di masing-masing batuan. Salah satu mineral yang ada di batuan membetuk kristal – kristal yang merangkai batuan. Ilmu yang memperlajari tenang gambar dan format dari kristal disebut Kristalografi, adalahsalah satu cabang ilmu geologi.


Pengertian Kristalografi

Kristalografi adalah cabang dari mineralogi yang terfokus pada sistem kristal. Sedangkan kristal sendiri ialah suatu padatan yang secara esensial mempunyai suatu pola difraksi tertentu. Dapat disebutkan jika kristal ialah padatan yang dibentuk oleh atom berulang tiga dimensional serta bisa difraksikan oleh sinar X. Secara simpel kristal adalah zat padat yang terdiri atas rangkaian atam dan molekul yang teratur. Hal ini dapat disaksikan dari permukaan kristal yang berupa bidang datar dan rata, mengekor suatu pola tertentu. Bidang yang tampak rata pada krital ini disebut muka kristal.

Artikel Terkait:  Dampak Negatif Pertambangan Terhadap Lingkungan

Untuk menciptakan atau menilai bidang muka kristal tidaklah sembarangan, mesti dilaksanakan pemotongan pada sumbu – sumbu kristal supaya posisi letak dan arahnya cocok dengan standar yang berlaku. Di dalam kristal, ada sumbu kristal yang berupa garis bayang-bayang lurus, menjebol kristal melalu titik pusatnya. Satuan guna sumbu kristal tersebut ialah parameter.


Bentuk Kristal

Terdapat sejumlah tahap guna menjadi suatu batuan kristal, dan masing-masing tahap yang terjadi pada batuan kristal akan dominan pada sifat – sifat dari kristal. Tahapan tersebut juga paling bergantung dari bahan dasar dan situasi lingkungan kristal tersebut berasal. Fase – fase atau langkah pembentukan kristal secara umum yaitu:


1. Fase cair ke padat

Pada fase ini cairan yang adalah bahan dasar pembentukan kristal merasakan proses pembekukan atau pemadatan sehingga menyusun batuan kristal. Proses ini sangat diprovokasi oleh evolusi suhu lingkungan. Kristal yang berasal dari bahan cair, seringkali terjadi dalam skala luas, dapat jadi kerena hal alam maupun hal industri.


2. Fase gas ke padat (sublimasi)

Pembentukan kristal dapat dapat berasal dari evolusi gas dalam urusan ini uap menjadi padatan, tanpa mesti melewati tahap cair terlebih dahulu. Bentuk kristal yang dihasilkan seringkali berukuran lebih kecil dan pun berbentu rangka. Kristal yang didapatkan adalahhasil dari proses sublimasi gas – gas yang memadat dampak dari evolusi lingkungan. Gas – gas ini berasal dari kegiatan gunung api, lantas gas – gas itu membeku sebab adanya evolusi suhu.


3. Fase padat ke padat

Proses pembentukan kristal ini seringkali terjadi pada agregat kristal di bawah pengaruh dari desakan dan pun temperatur. Hanya strukturnya saja yang berubah tetapi unsur – bagian kimia di dalamnya tetap. Pada proses ini batuan kristal telah terbentuk sebelumnya dampak dari suhu dan tekanan, sampai-sampai kristal itu berubah format dari segi bagian – unsur jasmani saja.

Artikel Terkait:  Cara Mengatasi Kerusakan Lingkungan Akibat Pertambangan

Sistem Kristalografi

Untuk memudahkan dalam memahami format kristal, dibuatlah pengkelompokkan yang lebih sistematis. Pengkelompokkan ini menurut komparasi panjang, letak atau posisi, jumlah dan nilai sumbu tegak. Berdasarkan sifat simetrinya, format kristal dipecah menjadi bidang simetri dan sumbu simetri. Dari bidang dan sumbu simetri tersebut, krital dikelompokkan menjadi 32 ruang belajar kristal. Pengkelompokkan ini menurut jumlah bagian simetri yang ada pada kristal.


1. Sistem Isometrik

Sistem ini dikenal dengan sebutan sistem kristal kubus atau kubik dengan jumlah sumbu pada kristal sejumlah 3 dan saling tegak lurus antara satu dengan yang lainnya. Perbandingan ketiga sumbu mempunyai panjang yang sama. Kerena mempunyai panjang sumbu yang sama, sudut kristalografi yang diciptakan sebesar 90o, urusan ini diakibatkan setiap sumbu berada pada posisi tegak lurus.

Sistem isometrik dipecah menjadi 5 ruang belajar yaitu, tetaoidal, gyroida, diploida, hextetrahedral, dan hexoctahedral. Beberapa mineral yang menggunakan sistem kristal isometrik yakni galena, emas, flourite, pyrite, dan halite. Sistem isometrik adalah sistem yang sangat simetri dalam ruang 3 dimensi.


2. Sistem Tetragonal

Sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing – masing sumbu saling tegak lurus. Hanya satu sumbu mempunyai ukuran lebih panjang atau lebih pendek dibandingakan dengan dua sumbu yang lain. Pada sistem tetragonal dipecah menjadi 7 ruang belajar yaitu, piramid, bipiramid, bisfenoid, trapezohedral, ditetragonal piramid, skalenohedral, ditetragonal bipiramid. Contoh dari mineral sistem tetragonal yakni rutil, autunite, leucite, scapolite, pyrolusite.


3. Sistem Hexagonal

Pada sistem ini ada 4 sumbu kristal dimana di antara sumbu tegak lurus terhadap ketiga sumbu yang lain. Ketiga sumbu tersebut menyusun sudut 120o terhadap sumbu satu dengan yang lainnya. Tidak melulu itu, ketiga sumbu mempunyai panjang yang sama, sementara sumbu yang tersisa memilliki ukuran lebih panjang. Contoh dari mineral pada sistem hexagonal yakni quartz, hematite, corundum, apatite, calcite.


4. Sistem Trigonal

Sistem ini memiliki nama lain yakni Rhombohedral, beberapa berpengalaman berpendapat andai sistem ini masuk ke dalam sistem kristal hexagonal, sebab teknik penggambarannya lumayan sama. Hanya saja ada perbedaan yakni sistem trigonal, sesudah terbentuk bidang datar berupa segienam, kemudian disusun segitiga dengan teknik menghubungkan dua titik sudut di mana titik tersebut melalui satu titik sudutnya. Sistem ini terbagi menjadi 5 ruang belajar yaitu, trigonal piramid, tigonal trapezohedral, ditrigonal piramid, ditrigonal skalenohedral dan rombohedral. Contoh dari mineral sistem ini yakni cinnaber dan tourmaline.

Artikel Terkait:  Daerah Penghasil Nikel di Indonesia

5. Sistem Orthorhombik

Sistem ini pun dikenal dengan sebutan sistem Rhombis, mempunyai 3 sumbu simetri kristal saling tegak lurus antara satu dengan yang lainnya. Masing – masing sumbu memiliki panjang yang berbeda. Pada sistem orthorhombik dipecah menjadi 3 ruang belajar yaitu piramid, bipiramid, dan bisfenoid. Contoh dari mineral ini yakni stibnite, aragonite, chrysoberyl dan witherite.


6. Sistem Monoklin

Monoklin sendiri memiliki makna yaitu melulu ada satu sumbu yang oleng dari tiga sumbu yang ada. Di samping itu, ketiga sumbu itu tidak memiliki panjang yang sama. Salah satu sumbu berukuran pendek dan di antara yang beda mempunyai ukuran yang panjang. Sistem monoklin ini terbagi menjadi 3 kelas, sfenoid, doma dan prisma. Contoh mineral ini yakni azurite, gypsum, epidot, colemanite, malachite.


7. Sistem Triklin

Sistem ini ada 3 sumbu simetri di mana antara satu sumbu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus dan pun ketiga sumbu tidak mempunyai panjang yang sama. Contoh dari mineral pada sistem ini yakni albite, labradorite, kaolinite, dan anortoclase.


Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang 7 Sistem Kristalografi: Pengertian Beserta 3 Bentuknya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Juga :