Krisis Ekonomi Terparah Di Dunia

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Krisis Ekonomi “. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Krisis-Ekonomi-Terparah-Di-Dunia

Perekonomian yang maju di antara standar untuk sebuah negara guna dapat disebutkan berhasil. Namun dalam sejarah dunia terdaftar bahwa terdapat sebuah peristiwa yang mengakibatkan krisis ekonomi dan

terjadi di sebanyak negara bahkan dominan hingga penjuru dunia.

Dan berikut susunan krisis ekonomi terparah yang pernah terjadi di dunia sepanjang sejarah, ayo disimak!


Krisis Ekonomi Terparah Di Dunia

Berikut ini terdapat beberapa krisis ekonomi terparah di dunia, antara lain:


1. Krisis Ekonomi Yang Melahirkan Revolusi Prancis (1789-1799)

Saat Raja Louis XV meninggal dunia, kekuasan Prancis di berikan kepada Louis XVI yang adalah cucu dari Louis XV. Selama masa pemerintahan Louis XVI, Prancis tidak sedikit mengalami bancana.

Berdasarkan keterangan dari sejarah, Raja Louis XVI tercebur ke dalam tiga perang besar yaitu Perang Suksesi Austria, Perang Kemerdekaan Amerika, dan Perang Tujuh Tahun dalam satu waktu. Raja Louis XVI sebetulnya pintar dan berani untuk mengerjakan perubahan yang dirasakan perlu.

Salah satu format kebijakannya yaitu dengan mendongkrak pajak. Akan namun kenaikkan pajak tidak selesai untuk semua kaum bangsawan dan malah membawa kerajaan ke arah kehancuran.

Bagaimana tidak, saat tersebut semua harga makanan naik, penyakit merajalela, kelaparan meningkat, dan pengangguran tinggi. Hal tersebut menciptakan rakyat menjadi kesal untuk para kaum bangsawan.

Hingga kesudahannya rakyat menyerahkan perlawanan dan menjadi perang keempat guna pemerintahan Raja Louis XVI. Peristiwa itu lebih dikenal dengan nama Revolusi Prancis dan diduga revolusi itu menghabiskan ongkos sekitar lebih dari US$ 6 miliar.

Artikel Terkait:  Proses Terbentuknya Fosil

2. Krisis Ekonomi Di Kekaisaran Ottoman (1853-1923)

Menjelang akhir abad ke-19, menurut keterangan dari Tsar Nicholas I mencerminkan Kekaisaran Ottoman sebagai suatu bangsa yang tidak dapat mengikuti pertumbuhan kekuatan di daratan Eropa. Hal ini tampak dari teknik pengelolaan bangsa yang masih menerapkan teknik Abad Pertengahan, laksana tidak adanya kereta api, masih tidak sedikit ditemukan industri kecil, serta pajak melulu berlaku guna penduduk kurang mampu yang bermata pencaharian sebagai petani.

Pada tahun 1853, Kekaisaran Ottoman secara perlahan mulai mengembangkan segala format infrastruktur tetapi tidak terlampau maju lantaran situasi keuangannya yang terbatas serta tidak hendak berhutang untuk negara-negara di Eropa.

Hingga akhirnya menyimpulkan untuk mengerjakan peminjaman modal untuk Prancis dan Inggris ketika terjadi Perang Krimea. Akan namun Kekaisaran gagal menunaikan bunga sebesar £200 juta di tahun 1875 dan menjadikan provinsi Mesir dikuasai oleh Inggris pada tahun 1883 sebagai pembayaran utang publik.

Kondisi perekonomian Kekaisaran Ottoman tidak mengindikasikan perkembangan yang baik sampai Perang Dunia I. Akibatnya satu per satu tidak sedikit wilayah jatuh ke tangan Inggris dan Prancis untuk menunaikan hutang pemerintah karena pada dasarnya Ottoman sudah paling bergantung pada kedua negara tersebut.

Sampai kesudahannya di tahun 1923 tidak sedikit wilayah Kekaisaran Ottoman yang sudah diduduki oleh sekutu menjadikan bangsa ini sah bubar dan mulai terbentuk Republik Turki sebagai penggantinya.


3. Kepanikan Bank (1907)

Kepanikan Bank ini terjadi dampak pasar saham Dow merasakan penurunan parah sampai lebih dari 50% bila dikomparasikan tahun sebelumnya. Hal tersebut diakibatkan karena adanya over-ekspansi dan spekulasi pasar yang buruk, bahkan menurunnya pasar saham terjadi dua kali yaitu pada bulan Maret dan Oktober.

Tentunya menyebabkan hilangnya keyakinan terhadap bank serta disusul oleh bangkrutnya Bank Amerika Utara. Akan namun kejadian itu tidak dilangsungkan lama dengan membuat kembali keyakinan publik di bulan Februari 1908.

Artikel Terkait:  Hutan Sabana

Untuk menangkal hal serupa terjadi di masa yang bakal datang, dibentuklah Kongress yang mengamini Undang-Undang Aldrich-Vreeland Act serta disusun pula Komisi Moneter Nasional.


4. Hiperinflasi Jerman (1918-1924)

Mungkin krisis ekonomi ini tidak dapat disebutkan terburuk tetapi memiliki akibat yang luar biasa. Di tahun 1914, nilai tukar USD terhadap Mark Jerman menjangkau 1 banding 4, akan namun pada tahun 1923 pulang menjadi 1 dollar Amerika menjadi 1 triliun Mark Jerman.

Berdasarkan Perjanjian Versailles (1919), Jerman dan sekutu mesti bertanggung jawab atas semua kehancuran yang terjadi di negara sekutu dan diketahui andai Jerman berhutang sebesar 269 miliar Mark Jerman sebagai dana perbaikan moneter dan material.

Di tahun 1922, Jerman mulai kendala membayar angsuran hutang, mengerjakan penghentian ekspedisi batu bara dan kayu ke Perancis, dan memaksa Prancis guna menduduki area Ruhr kepunyaan Jerman. Peristiwa tersebut menciptakan perjanjian Versailles lemah dan memandang kedua belah pihak tidak saling menghargai.

Untuk menanggulangi perekonomian yang terus menurun dan menunaikan hutang, pemerintah Jerman malah mencetak duit semakin tidak sedikit yang dominan terjadinya inflasi dan nila mata dana yang turun bahkan tidak berharga sama sekali.

Hingga pada kesudahannya pemerintah mengenalkan mata duit baru di tahun 1923 yaitu Rentenmark dan Reichsmark (1924) untuk menanggulangi masalah hiperinflasi.


5. The Great Depression (1929)

Dapat disebutkan jika The Great Depression adalahkrisis ekonomi terparah di dunia pada abad ke-20. Beberapa orang percaya andai The Great Depression diakibatkan oleh hancurnya Wall Street di tahun 1929 dan pun kebijakan yang dipungut oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pada tanggal 29 Oktober 1929, terdaftar ada selama USD10 miliar hilang dan kejadian The Great Depression dilangsungkan selama 10 tahun. Dampak dari kejadian itu yakni hilangnya pedapatan secara besar-besaran, penambahan jumlah pengangguran, serta tidak sedikit industri mesti berhenti.

Artikel Terkait:  Daerah Penghasil Nikel di Indonesia

6. Black Monday (1987)

Hingga ketika ini tidak terdapat yang memahami penyebab tentu terjadinya Black Monday yang terjadi pada 19 Oktober 1987. Peristiwa tersebut paling mengejutkan tidak sedikit pihak, bagaimana tidak secara tiba-tiba miliaran Dolar Amerika hilang dari pasar saham semua dunia.

Besarnya saham yang hilang lumayan bervariasi, tetapi yang lebih parah yaitu Inggris (26,4%), Australia (41,8%), Hong Kong (45,8%), dan Selandia Baru (60%). Namun terdapat yang mengasumsikan kejadian Black Monday terjadi dampak adanya perselisihan kepandaian moneter terhadap inflasi dan pun perdagangan.


7. Krisis Ekonomi Di Asia Tenggara (1997)

Banyak pihak menyebut andai Asia bisa menjadi area pembangkit ekonomi dan bisa mengganti kekuasaan ekonomi barat. Namun urusan itu gagal dan sudah dibuka sejak bulan Juli 1997 dengan bermula dari hilangnya keyakinan investor terhadap mata duit asia.

Krisis kesatu kali terjadi di negara Thailand dengan cepat menyebar sampai ke negara asia lain laksana negara Filipina, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Bahkan pemerintah Thailand mesti meninggalkan kepandaian nilai tukar tetap (fixed exchange rate) terhadap Dollar Amerika sebab kurangnya cadangan mata duit asing negara.


Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang 7 Krisis Ekonomi Terparah Di Dunia Beserta Penjelasannya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: