Konvensi Ramsar

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Ramsar“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Konvensi-Ramsar

Jadi pada tahun 1971, dicapai kesepakatan dari perjanjian yang membahas masalah lahan basah. Konvensi tentang Lahan Basah ini dikenal dengan Konvensi Ramsar, atau Konvensi Lahan Basah yang Penting Secara Internasional, khususnya sebagai habitat unggas air. Perjanjian tersebut ditandatangani dan disetujui di Ramsar, Iran pada tahun 1971 dan merupakan satu-satunya perjanjian internasional untuk menangani masalah lahan basah. Anggota perjanjian ini berasal dari negara-negara di seluruh dunia yang memiliki lahan basah di negaranya. Lahan basah ini tersebar di lebih dari 1.800 lokasi di seluruh dunia, dengan luas sekitar 1,8 juta km2.

Salah satu anggota Ramser Convention adalah Indonesia. Keikutsertaan Indonesia dalam Ramsar Convention dikarenakan terdapat sekitar 15 juta hektar lahan gambut yang tersebar di seluruh Indonesia. Peran Indonesia dalam menjaga stabilitas ekosistem, terutama di lahan gambut, pemanasan global, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan dampak selanjutnya.


Sejarah Konvensi Ramsar

Awal berdirinya Ramser Convention hanya difokuskan pada masalah unggas air dan burung migran. Seiring waktu, akhirnya diputuskan bahwa konservasi lahan basah sangat penting. Sebagaimana diketahui, habitat utama unggas air dan burung migran adalah pantai, hutan bakau, rawa, dan muara sungai. Ini juga menjadi dasar kesadaran untuk melindungi keanekaragaman hayati dan menggunakan lahan basah dengan bijak. Konvensi Ramsar bertujuan untuk mencegah perusakan dan invasi lahan basah, karena mereka adalah ekosistem yang sangat penting mengingat sangat bergantung pada cara pengelolaannya. ..

Penandatanganan kesepakatan pada Ramsar Convention pada tanggal 2 Februari 1971 dihadiri oleh 35 negara, terdiri dari 13 negara berkembang dan 21 benua Eropa. Akan tetapi, Konvensi hanya dapat berlaku pada tanggal 21 Desember 1975, setelah persyaratan persetujuan Konvensi dipenuhi. Konvensi Ramser tidak selalu independen. Konvensi Ramsar didukung oleh IUCN atau Persatuan Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam dan sekarang berganti nama menjadi Serikat Konservasi Dunia. Tanggal 2 Februari setiap tahun, atau hari penandatanganan Konvensi Ramsar, juga diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia atau Hari Lahan Basah Sedunia.

Artikel Terkait:  Negara Yang Bahasanya Mirip Indonesia

Seiring waktu, teks asli Konvensi Ramser (12 pasal) sebenarnya direvisi dua kali. Yang pertama dibuat melawan Protokol Paris pada tahun 1982 dan yang kedua dibuat di Regina pada tahun 1987. Protokol Paris tampaknya telah diadopsi pada Konferensi Para Pihak Luar Biasa (COP) yang diadakan di Markas Besar UNESCO di Paris pada tanggal 3 Desember 1982 Protokol Paris telah mengubah perjanjian dan memberikan prosedur untuk meratifikasi beberapa teks perjanjian. Bahasa: Inggris, Prancis, Arab, Rusia, Jerman, Spanyol. Sementara itu, amandemen yang dilakukan di Regina dilakukan pada konferensi luar biasa di Kanada pada tahun 1987. Hasil pertemuan di Regina tidak mengubah dasar-dasar, hanya membahas kewenangan COP, anggaran dan keputusan Ramsar dan Sekretariat, serta masalah operasional mengenai pembentukan komite tetap.


Isi Konvensi Ramsar

Isi Pasal 1 (1) Konvensi Ramser, pengertian lahan basah, meliputi lahan basah, air payau, lahan gambut, dan air mineral atau buatan manusia. Permanen atau sementara; dalam air tergenang atau cair, segar, payau atau air asin; termasuk badan laut dengan kedalaman 6 meter atau kurang saat air surut.

Ekosistem lahan basah merupakan ekosistem peralihan antara ekosistem darat dan perairan. Lahan basah dapat menjadi lahan yang penting bagi lingkungan, karena berbagai jenis keanekaragaman hayati dapat ditemukan di sini dan dapat berisi ekosistem yang cukup produktif. Salah satunya adalah ekosistem gambut yang dikenal sebagai lahan yang dapat menyimpan air, keanekaragaman hayati, dan penyimpanan karbon.

Berdasarkan Pasal 2, paragraf 4, setiap Negara Anggota berkewajiban untuk menentukan setidaknya satu lahan basah untuk dimasukkan dalam daftar lahan basah yang memiliki signifikansi internasional ketika Negara menandatangani atau menyetujui Konvensi. Namun, tidak semua lahan basah dapat dimasukkan dalam daftar konvensi. Menurut Pasal 2 ayat 2, ketentuan standar lahan basah yang termasuk dalam daftar berdasarkan kekuatan internasional harus dilihat dari perspektif botani, ekologi, zoologi, kapur dan hidrologi. ..

Artikel Terkait:  Lapisan Atmosfer dan Fungsinya

Selain itu, setiap Negara Anggota perlu menyiapkan beberapa dokumen yang menjelaskan mengapa penting untuk memasukkan lahan basah ini ke dalam daftar dan mengapa penting secara internasional. Oleh karena itu, Pasal 3 menyatakan bahwa setiap Negara Anggota akan mengembangkan dan melaksanakan rencana untuk mengembangkan konservasi lahan basah dalam daftar dan untuk mengembangkan penggunaan lahan basah yang bijaksana. Ada beberapa kriteria atau persyaratan untuk mengidentifikasi lahan basah dengan nilai universal yang tercatat di Daftar Situs Ramsar atau Situs Daftar Ramsar:

  1. Khas, tidak biasa atau unik. Lahan basah adalah contoh jenis lahan basah yang khas, langka atau unik, atau dekat dengan alam.
  2. Konservasi keanekaragaman hayati. Lahan basah mendukung berbagai spesies yang rentan, langka, atau terancam punah.
  3. Kriteria khusus untuk unggas air. Tanah tersebut secara teratur mendukung dan mendiami lebih dari 20.000 unggas air, dan individu dari satu atau subspesies unggas air juga merupakan 1% dari total populasi unggas air.
  4. Standar khusus untuk ikan. Mereka mendukung secara teratur dan merupakan rumah bagi sebagian besar spesies ikan asli atau subspesies atau famili, serta tempat makan yang sangat penting bagi ikan.
  5. Kriteria khusus untuk spesies lain. Lahan basah secara teratur mendukung 1% individu dari satu non-unggas / subspesies yang bergantung pada lahan basah.

Berdasarkan perlindungan Ramser, ekosistem lahan basah dibagi menjadi lima wilayah.

  1. Pesisir dan laguna seperti perairan, gugusan lahan basah dengan air asin, pantai berbatu, terumbu karang, padang lamun.
  2. Muara: muara sungai, delta, mangrove, lahan basah pasang surut air payau.
  3. Rawa (Pulse Trins): Rawa (air tenang atau lembab) seperti rawa air tawar, rawa gambut, dan rawa rumput.
  4. Area sungai (Liberin): Lahan basah di sepanjang sungai atau di perairan yang mengalir.
  5. Area danau (danau): Lahan basah yang berasosiasi dengan danau (air tawar).
Artikel Terkait:  Cara Mencegah Erosi Tanah

Lahan Basah Di Indonesia

Sejak 2011, setidaknya 1.971 situs Ramsar telah terdaftar oleh 160 negara anggota konversi. Jumlah ini terus bertambah hingga tahun 2018, dimana 2.303 situs didaftarkan oleh 169 anggota. Salah satu anggota konversi tersebut adalah Indonesia. Indonesia mulai berpartisipasi dalam konversi Ramsar pada 8 Agustus 1992. Di Indonesia, lahan basah didominasi oleh lahan gambut dan termasuk lahan gambut terluas di Asia Tenggara. Keikutsertaan Indonesia dalam menjadi anggota konversi Ramsar dijabarkan dalam Perintah Eksekutif No. 48 Tahun 1991, tanggal 19 Oktober 1991.

Saat itu, Indonesia mendaftarkan Taman Nasional Belbak Jambi sebagai tempat pertama di Ramsar. Sampai saat ini, tujuh situs lahan basah di Ramsar adalah milik Indonesia.

  • Taman Nasional Belbak di Provinsi Jambi
  • Taman Nasional Danau Centaram di Kalimantan Barat
  • Taman Nasional Wasur di Papua
  • Taman Nasional Rawa Aopawa Tomohai, Sulawesi Tenggara
  • Taman Nasional Sembiran di Sumatera Selatan
  • Suaka Margasatwa Lambert, DKI Jakarta
  • Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Berikut Penjelasan Lengkap Sejarah Konvensi Ramsar Beserta Isinya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Juga :