Materi Just In Time (Tepat Waktu)

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Ekonomi yaitu Tentang “Just In Time (Tepat Waktu)“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Just-In-Time-adalah

Pengertian Just In Time

Just In Time adalah sebuah teknik / sistem untuk menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah atau kontribusi bagi sebuah produk atau jasa.

Pengertian just in time dalam akuntansi manajemen adalah suatu kegiatan operasi manajemen dimana seluruh sumber daya akan dipakai hanya sebatas yang dibutuhkan saja tidak kurang dan tidak lebih. Dengan sistem Just In Time, perusahaan akan membuat sebuah produk hanya jika dibutuhkan saja dan hanya dalam jumlah yang diminta oleh para konsumennya dan tidak akan ada yang namanya timbunan barang.

Tujuan just in time atau manfaat just in time adalah untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Dengan kata lain, Just In Time adalah sistem yang berguna untuk mengurangi atau menghilangkan persediaan untuk memangkas biaya-biaya operasional perusahaan.


Konsep Just In Time

Konsep just in time adalah sebagai berikut :

  1. Berfokus pada simplicity / kesederhanaan & tepat waktu
  2. Standar mutu yang tinggi
  3. Memusnahkan segala aktivitas yang tidak memberikan manfaat
  4. Menjunjung upaya perbaikan yang selalu berkelanjutan.

Guna mencapai empat konsep ini maka diterapkan sistem dan metode sebagai berikut:

  •  Sistem kanban untuk mempertahankan produksi Just In Time (JIT).
  •  Metode pelancaran produksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
  • Penyingkatan waktu penyiapan untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
  • Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
  • Aktivitas perbaikan lewat kelompok kecil dan sistem saran untuk meningkatkan moril tenaga kerja.
  • Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan.

Sifat Dasar JIT

JIT, atau produksi just-in-time adalah suatu sistem tarikan permintaan (demand-pull system). Tujuan produksi JIT (JIT manufacturing) adalah untuk menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu produk hanya jika diperlukan dan hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan. Tarikan permintaan produk adalah melalui proses produksi. Setiap oprasi menghasilkan hanya apa yang diperlukan untuk memenuhi permintaan dari operasi berikutnya.

Tidak ada produksi yang dilakukan sampai ada sinyal dari proses berikutnya yang mengindikasikan kebutuhan untuk berproduksi. Komponen dan bahan tiba hanya pada saat hendak digunakan dalam produksi. JIT mengasumsikan bahwa semua biaya selain bahan langsung digerakan oleh waktu dan ruang. JIT kemudian memfokuskan pada eliminasi pemborosan dengan menekan waktu dan ruang, Keberhasilan implementasi JIT membawa perbaikan secara signifikan seperti kualitas yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, mengurangi tenggang waktu, mengurangi sebagian besar persediaan, mengurangi waktu persiapan (setup), menurunkan biaya produksi, dan meningkatkan produksi.

Sebagai contoh, Oregon Cutting Sytem (OCS), suatu pabrik bahan pemotong (untuk gergaji), peralatan penebangan kayu hutan, dan peralatan olahraga, dalam periode tiga sampai lima tahun telah mengurangi cacat hingga 80%, pemborosan hingga 50%, waktu setup atau persiapan dari jam menjadi menit (satu alat penekan memiliki waktu persiapan yang dikurangi dari 3 jam menjadi 4,5 menit), tenggang waktu dari 21 hari menjadi 3 hari, dan biaya produksi hingga 35%.

Artikel Terkait:  Materi Pemasaran

Elemen-Elemen Just In Time

Berikut ini terdapat beberapa elemen-elemen just in time, yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkat persediaan yang minimal
    Sistem JIT memotong biaya dengan mengurangi :

    • Ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan bahan baku
    • Jumlah penanganan bahan baku
    • Jumlah persediaan yang usang.
  2. Pembenahan Tata Letak Pabrik
  3. Arus Lini
    Jalur fisik yang dilewati oleh sebuah produk pada saat bergerak melalui proses pabrikasi dari penerimaan bahan baku sampai ke pengiriman barang jadi.
  4. Pengurangan Setup Time
    Masa pengesetan mesin (setup time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan mendapatkan formulir terkait dan bergerak cepat untuk mengakomodasikan produk unsure yang berbeda.
  5. Kendali Mutu Terpadu (Total Quality Control)
    TQC berarti bahwa perusahaan tidak akan memperbolehkan penerimaan penerimaan komponen dan bahan baku yang cacat dari para pemasok, pada BDp maupun pada barang jadi.
  6. Tenaga kerja yang fleksibel

Tujuan Just In Time

Berikut ini terdapat beberapa tujuan just in time, yaitu sebagai berikut:

  1. Meningkatkan laba
  2. Memperbaiki posisi persaingan perusahaan.

Tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara :

  1. Mengeliminasi atau mengurangi persediaan
  2. Meningkatkan mutu
  3. Mengendalikan aktivitas supaya biaya rendah  (sehingga memungkinkan harga jual rendah dan laba meningkat)
  4. Memperbaiki kinerja pengiriman.

JIT pemanufakturan didasarkan pada konsep :

  • Hanya memproduksi produk sejumlah yang diminta oleh konsumen (tepat  kuantitas)
  • Memproduksi produk bermutu tinggi
  • Memproduksi produk berbiaya rendah
  • Memproduksi produk berdaur waktu yang tepat
  • Mengirimkan produk pada konsumen tepat waktu

JIT pembelian  didasarkan pada konsep :

  • Hanya membeli sejumlah barang yang diperlukan untuk produksi
  • Membeli barang bermutu tinggi
  • Membeli barang berharga murah
  • Pengiriman barang yang dibeli tepat waktu

JIT mempunyai empat aspek pokok yaitu sebagai berikut :

  1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau kepuasan konsumen harus dieliminasi
  2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu menjadi lebih tinggi
  3. Selalu diupayakan penyempurnaan berkesinambungan
  4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan pemahaman terhadap aktivitas

Dampak Persediaan Pembelian JIT (JIT purchasing)

Mengharuskan pemasok untuk mengirim komponen dan bahan pada saat akan digunakan pada produksi. Keterkaitan pemasok adalah vital. Pasokan komponen harus berkaitan dengan produksi, yang berkaitan pula dengan permintaan. JIT mengeksploitasi keterkaitan pemasok dengan melakukan negosiasi kontrak jangka panjang dengan beberapa pemasok yang berlokasi sedekat mungkin dengan fasilitas produksi dan menetapkan keterlibatan yang lebih intensif dari para pemasok.

Salah satu dampak dari cara tersebut adalah berkurangnya semua persediaan ke tingkat yang jauh lebih randah. Sebagai contoh, Mercedes Benz U.S International merencanakan untuk membuat kendaraan jenis sport yang pertama bagi perusahaan yang akan dipasarkan secara massal di Pabriknya di Vence, Alabama. Kendaraan tersebut merupakan aplikasi dari “etika penggerak biaya” yang baru. Untuk menghemat baik uang maupun waktu, daftar pemasok telah dipangkas menjadi 100 (dibandingkan 1000 untuk sedan E-class). Mercedes Benz menawarkan kontrak tahunan kepada pemasok sebagai ganti potongan harga 5%.


Kelebihan dan Kekurangan Sistem Just In Time (Tepat Waktu)


  • Kelebihan Just In Time (Tepat Waktu)

  1. Seluruh system yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien
  2. Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para staffnya.
  3. Barang produksi tidak harus selalu di cek, disimpan atau diretur kembali.
  4. Kertas kerja dapat lebih simple
  5. Penghematan yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang lebih tinggi misalnya, dengan mengadakan promosi tambahan.

  • Kekurangan Just In Time (Tepat Waktu)

satu kelemahan sistem JIT adalah, tingkatan order ditentukan oleh data permintaan historis. Jika permintaan naik melebihi dari rata-rata perencanaan historis maka inventori akan habis dan akan mempengaruhi tingkat pelayanan konsumen.


Perbedaan Sistem JIT dan Sistem Tradisional

JIT TRADISIONAL
  1. Sistem tarikan
  2. Persediaan tidak signifikan
  3. Basis pemasok sedikit
  4. Kontrak jangka panjang dengan pemasok
  5. Pemanufakturan berstruktur seluler
  6. Karyawan berkeahlian ganda
  7. Jasa terdesentralisasi
  8. Keterlibatan karyawan tinggi
  9. Gaya manajemen sebagai penyedia fasilitas

10.  Total quality control (TQC)

  1. Sistem dorongan
  2. Persediaan signifikan
  3. Basis pemasok banyak
  4. Kontrak jangka pendek dengan pemasok
  5. Pemanufakturan berstruktur departemen
  6. Karyawan terspesialisasi
  7. Jasa tersentralisasi
  8. Keterlibatan karyawan rendah
  9. Gaya manajemen sebagai pemberi perintah

10.Acceptable quality level (AQL)

  1. Sistem tarikan dibanding sistem dorongan
    Sistem tarikan adalah system penentuan aktivitas-aktivitas berdasar atas permintaan konsumen, baik konsumen internal maupun konsumen eksternal. Sebagai contoh dalam perusahaan pemanufakturan permintaan konsumen melalui aktivitas penjualan menentukan aktivitas produksi, dan aktivitas produksi menentukan aktivitas pembelian.
    System dorongan adalah system penentuan aktivitas-aktivitas berdasar dorongan aktivitas-aktivitas sebelumnya. Pembelian bahan melalui aktivitas pembelian mendorong aktivitas produksi, dan aktivitas produksi mendorong aktivitas penjualan.
  2. Persediaan tidak signifikan dibanding persediaan signifikan
    Karena JIT menggunakan system tarikan maka dapat mengurangi persediaan menjadi tidak signifikan atau sangat sedikit dan bahkan mencita-citakan nol. Sebaliknya, dalam system tradisional, karena menggunakan system dorongan maka persediaan jumlanya signifikan sebagai akibat jumlah bahan yang dibeli melebihi kebutuhan produksi, jumlah produk yang diproduksi melebihi permintaan konsumen dan perlu adanya persediaan penyangga. Persediaan penyangga diperlukan jika permintaan konsumen melebihi jumlah produksi dan jumlah bahan yang digunakan untuk produksi melebihi jumlah bahan yang dibeli.
  3. Basis pemasok sedikit dibanding basis pemasok banyak
    JIT hanya menggunakan pemasok dalam jumlah sedikit untuk mengurangi atau mengeliminasi aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah, memperoleh bahan yang bermutu tinggi dan berharga murah. Sedangkan system tradisioanl menggunakan banyak pemasok untuk memperoleh harga yang murah dan mutu yang baik, tapi akibatnya banyak aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah dan untuk memperoleh harga yang lebih murah harus dibeli bahan dalam jumlah yang banyak atau mungkin dengan mutu yang rendah.
  4. Kontrak jangka panjang dibanding kontrak jangka pendek
    JIT menerapkan kontrak jangka panjang dengan beberapa pemasoknya guna membangun hubungan baik yang saling menguntungkan sehingga dapat dipilih pemasok yang memasok bahan berharga murah, bermutu tinggi, berkinerja pengiriman tepat waktu dan tepat jumlah serta dapat mengurangi frekuensi pemesanan. Sedangkan tradisional menerapkan kontrak-kontrak jangka pendek dengan banyak pemasok sehingga untuk memperoleh harga murah harus dibeli dalam jumlah yang banyak atau mungkin mutunya rendah.
  5. Struktur seluler dibanding struktur departemen
    Struktur seluler dalam JIT adalah pengelompokan mesin-mesin dalam satu keluarga, biasanya kedalam struktur semilingkaran atau huruf “U” sehingga satu sel tertentu dapat digunakan untuk melakukan pengolahan satu jenis atau satu keluarga produk tertentu secara berurutan. Setiap sel pemanufakturan pada dasarnya merupakan pabrik mini atau pabrik di dalam pabrik. Penggunaan struktur seluler ini dapat mengeliminasi aktivitas, waktu, dan biaya yang tidak bernilai tambah.  Sedangkan struktur departemen dalam system departemen adalah struktur pengolahan produk melalui beberapa departemen produksi sesuai dengan tahapan-tahapannya dan memerlukan beberapa departemen jasa yang memasok jasa bagi departemen produksi. Akibatnya struktur departemen menimbulkan aktivitas-aktivitas serta waktu dan biaya-biaya tidak bernilai tambah dalam jumlah besar.
  6. Karyawan berkeahlian ganda dibanding karyawan terspesialisasi
    System JIT yang menggunakan system tarikan waktu “bebas” harus digunakan oleh karyawan struktur seluler untuk berlatih agar berkeahlian ganda sehingga ahli dalam berproduksi dan dalam bidang-bidang jasa tertentu misalnya pemeliharaan pencegahan, reparasi, setup, inspeksi mutu. Sedangkan pada system tradisional system karyawan terspesialisasi berdasarkan departemen tempat kerjanya misalnya departemen produksi atau departemen jasa. Karyawan pada departemen jasa terspesialisasi pada aktivitas penangan bahan, listrik, reparasi, dan pemeliharaan, karyawan pada departemen produksi terspesialisasi pada aktivitas pencampuran, peleburan, pencetakan, perakitan, dan penyempurnaan.
  7. Jasa terdesentralisasi dibanding jasa tersentralisasi
    System tradisional mendasarkan pada system spesialisasi sehingga jasa tersentralisasi pada masing-masing departemen jasa. Sedangkan pada system JIT jasa terdesentralisasi pada masing-masing struktur seluler, para karyawan selain selain ditugaskan untuk berproduksi tapi juga harus ditugaskan pada pekerjaan jasa yang secara langsung mendukung produksi si struktur selulernya.
  8. Keterlibatan tinggi dibanding keterlibatan rendah
    Dalam system tradisional, keterlibatan dan pemberdayaan karyawan relative rendah karena karyawan fungsinya melaksanakan perintah atasan. Sedangkan dalam system JIT manajemen harus dapat memberdayakan para karyawannya dengan cara melibatkan mereka atau member peluang pada mereka untuk berpartisipasi dalam manajemen organisasi. Menurut pandangan JIT, peningkatan keberdayaan dan keterlibatan karyawan dapat meningkatkan produktviitas dan efisiensi biaya secara menyeluruh. Para karyawan dimungkinkan untuk membuat keputusan mengenai bagaimana pabrik beroperasi.
  9. Gaya pemberi fasilitas dibanding gaya pemberi perintah
    System tradisional umumnya menggunakan gaya manajemen sebagai atasan karena fungsi utamanya adalah memerintah para karyawannya untuk melaksanakan kegiatan. Sedangkan pada system JIT memerlukan keterlibatan karyawan sehingga mereka dapt diberdayakan, maka gaya maanjemen yang cocok adalah sebagai fasilitator dan bukanlah sebagai pemberi perintah.
  10. TQC dibanding AQL
    TQC (Total Quality Control) dalam JIT adalah pendekatan pengendalian mutu yang mencakup seluruh usaha secara berkesinambungan dan tiada akhir untuk menyempurnakan mutu agar tercapai kerusakan nol atau bebas dari kerusakan. Produk rusak haruslah dihindari karena dapat mengakibatkan penghentian produksi dan ketidakpuasan konsumen. AQL (Accepted Quality Level) dalam system tradisional adalah pendekatan pengendalian mutu yang memungkinkan atau mencadangkan terjadinya kerusakan namun tidak boleh melebihi tingkat kerusakan yang telah ditentukan sebelumnya.

Contoh Just In Time (Tepat Waktu)

  • Jika set up mesin lamanya 1 jam (60 menit), bisa disingkat menjadi 6 menit. Andaikata lot yang harus dibuat banyaknya 3000 buah yang setiap unitnya memakan waktu 1 menit, maka waktu produksinya =1 jam + (3000 x 1 menit)= 3060 menit= 51 jam.
  • Setelan waktu set up dikurangi menjadi 6 menit, maka waktu produksinya menjadi= 6 menit + (3000 x 1 menit)= 3006 menit.
  • Namun, dengan waktu yang sama (3060 menit) dapat dibuat lot sebanyak 300 buah dari berbagai jenis yang diulang  sebanyak 10 kali, yaitu: (6 menit + (300 x 1 menit) x 10= 3060 menit= 51 jam.
  • Hal ini berarti sistem produksi lebih tanggap terhadap perubahan.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Ekonomi Tentang Pengertian Just In Time: Konsep, Sifat, Contoh, Elemen, Tujuan, Dampak, Perbedaan, Kelebihan dan Kekurangan

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: