Materi Candi Borobudur

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Candi Borobudur“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Bangunan-Candi-Borobudur

Pengertian Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi budha terbesar di dunia. Candi ini merupakan salah satu keajaiban dunia yang merupakan salah satu icon kebanggan Indonesia. Bangunan candi memiliki wujud triangga yaitu kepala, badan dan kaki. Masing-masing bagian ini memiliki arti secara simbolis yaitu :

  1. Kepala melambangkan alam atas, yang merupakan alam para dewa;
  2. Badan melambangkan alam antara yang mempunyai makna sebagai tempat manusia yang telah meninggalkan tempat suci; dan
  3. Kaki yang melambangkan alam bawah yaitu tempat manusia biasa.

Sejarah Candi Borobudur

Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 sebelum masehi atau abad ke 9. Borobudur dibangun oleh pengikut Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Dinasti. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga dari atau dinasti dinasti dinasti. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 AD dan selesai sekitar 900 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani putri Samaratungga. Sementara arsitek yang membantu membangun candi ini untuk cerita turun-temurun bernama Gunadharma.

Baca Juga : Kerajaan Hindu Budha Di Indonesia


Penafsiran Nama Borobudur

Dari beberapa literarur yang ada, dapat disebutkan berbagai pendapat yang berbeda dari para ahli, antara lain:


  • Kitab negara kertagema

Naskah dari tahun 1365 M yaitu kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca, menyebutkan kata “Budur” untuk sebuah bangunan Agama Budha dari aliran Wajradha. Kemungkinan yang ada nama “Budur” tersebut tidak lain adalah Candi Borobudur. Karena tidak ada keterangan lain kiranya tak dapat diambilsuatu kesimpulan.


  • Sir Thomas Stamford Raffles

Penafsiran tentang Borobudur juga telah dilakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan dari masyarakat luas yang menafsirkan bahwa:

  1. Budur merupakan bentuk lain dari “Budo” yang dalam bahasa Jawa berarti Kuno. Tetapi bila dikaitkan dengan Borobudur berarti “Boro jaman Kuno” jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan Candi Borobudur Budha. Dengan demikian Borobudur berarti Sang Budha yang Agung.
  2. Namun kerana “Bhara” dalam bahasa Jawa Kuno dapat diartikan banyak,maka Borobudur dapat juga berarti “Budha yang Banyak”.
  3. Jika dikaji secara teliti,maka keterangan yang dikemukakan oleh Raffles memang tidak ada yang memuaskan.”Boro jaman Kuno” kurang mengena. ”Sang Budha yang Agung” maupun “Budha yang banyak”. Kurang mencapai sasaran. Perubahan kata “Budha menjadi Budur” misalnya perubahan demikian tidak dapat diterangkan dari segi ilmu bahasa, karena sukar dapat diterima. (Soekmono, 1981)

  • Poerbatjaraka

Menurut Beliau “Boro” berarti “Biara” dengan demikian Borobudur berati “Biara Budur”.Penafsiran ini memang sangat menarik karena mendekati kebenaran berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Penyelidikan dan penggalian yang dilakukan tahun 1952 di halaman sebelah barat laut bangunan Candi Borobudur telah berhasil menemukan fondasi batu-batu dan genta perunggu berukuran besar.Penemuan fondasi batu-batu dan genta ini memperkuat dugaan yaitu merupakan sisa-sisa dari sebuah biara.

Selanjutnya jika dihubungkan dengan Kitab Negara Kertagama mengenai “Budur” maka besar kemungkinan penafsiran Poerbatjaraka adalah benar dan tepat. Namun demikian masih merupakan suatu pertanyaan mengapa Biara dalam hal ini penamaan menggantikan Candinya, padahal Candi jauh lebih penting dari biaranya.


  • De Casparis

De Casparis menemukan kata majemuk dalam sebuah prasasti yang kemungkinan merupakan asal kata Borobudur.Dalam prasasti SRI KAHULUNAN YANG BERANGKA 842 Masehi dijumpai kata “Bhumi Sambhara Budhara” yaitu suatu sebutan untuk bangunan suci pemujaan nenek moyang atau disebut kuil.

Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam prasasti dan rekonstruksi yang teliti terhadap geografi daerah yang terjadinya peristiwa sejarah bertalian dengan prasasti tersebut,maka De Casparis itu menyimpulkan bahwa Bhumi Sambhara Budhara tidak lain adalah Borobudur.(Soekmono,1981)


  • Soediman

Didalam bukunya “Borobudur salah satu keajaiban Dunia”, menyebutkan bahwa arti nama Borobudur sampai sekarang masih belum jelas.Dijelaskan pula bahwa Borobudur berasal dari dua kata yaitu “Bara” dan “Budur”. Bara berasal dari bahasa sansekerta “Vihara”yang berarti kompleks Candi dan “Bihara”yang berati asrama.”Budur” dalam bahasa Bali  Beduhur yang artinya diatas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau Vihara dan kelompok Candi yang terletak diatas tanah yang tinggi atau bukit.


Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi (CA) dan Teknologi Arkeologi (TA).

Artikel Terkait:  Isi Perjanjian Jepara

Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu-batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu-batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan-pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan-bahan bangunan di tangani oleh kontraktor (PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE).

Bagian-bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.

Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

Baca Juga : Kerajan Majapahit


Bangunan Candi Borobudur

Berikut ini terdapat beberapa bangunan candi borobudur, yaitu sebagai berikut:


  1. Uraian Banguan Candi Borobudur

Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak-undak dengan tangga naik pada ke- 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.

Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M. Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M. Pada sudut yang membelok 113 M. Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M. Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.  Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar di antaranya:

  • Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang melukiskan hukum sebab akibat.
  • Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat.
  • Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.

  1. Patung

Di dalam bangunan Budha terdapat patung -atung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:

Patung Budha yang terdapat pada relung-relung : 432 Buah Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah. Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan-susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:

  1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
  2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
  3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
  4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
  5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
  6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
  7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
  8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha

Jumlah : 504 Patung Budha


  1. Patung Singa

Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah-olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.

Baca Juga : Arca Peninggalan Kerajaan Majapahit


  1. Stupa

yaitu sebagai berikut:


  • Stupa Induk

Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga terletak di garis Harmika.


  • Stupa Berlubang / Terawang

Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha. Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu:

  1. Teras I terdapat 32 Stupa
  2. Teras II terdapat 24 Stupa
  3. Teras III terdapat 16 Stupa

Jumlah 72 Stupa


  • Stupa kecil

Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah-olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung-relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.

Artikel Terkait:  Latar Belakang Gerakan Non Blok

  1. Relief

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli —– Karmawibhangga 160
Tingkat I dinding a. Lalitawistara 120
b. jataka/awadana 120
langkan a. jataka/awadana 372
b. jataka/awadana 128
Tingkat II dinding Gandawyuha 128
langkan jataka/awadana 100
Tingkat III dinding Gandawyuha 88
langkan Gandawyuha 88
Tingkat IV dinding Gandawyuha 84
langkan Gandawyuha 72
Jumlah 1460

  • Relief Karmawibhangga

bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai penutup. Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat.

Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung.

Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya. Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:

  1. Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan – perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
  2. Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan dapat pahala

  • Lalitawistara

merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.

Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu.

Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Baca Juga : Arca Peninggalan Kerajaan Majapahit


  • Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.


  • Gandawyuha

merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.


Letak Candi Borobudur

Candi Borobudur didirikan pada sebuah bukit pada ketinggian ± 15m di atas dataran di sekitarnya. Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur,  Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah, Negara Indonesia,  ± 41 km dari Yogyakarta. ±80km dari Kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Candi borobudur juga dikelilingi oleh pegunungan Menoreh di sisi Selatan, Gunung Merapi (2411m) dan Gunung Merbabu (3142m) di sisi Timur, serta Gunung Sumbing (2271m) dan Gunung Sindoro (3135m) di sisi Barat Laut. Disebelah Timur Candi Borobudur juga  terdapat Sungai Progo dan Sungai Elo.

Artikel Terkait:  Peninggalan Kerajaan Aceh

Fasilitas Candi Borobudur

yaitu sebagai berkut:


  1. Museum Karmawibangga / Borobudur

Museum ini menampilkan beragam informasi mengenai Candi Borobudur dari sudut pandang sejarah, arkeologi, arsitektur, lingkungan, dll. Beragam artifak yang ditemukan di sekitar Candi Borobudur juga didisplay secara aktif di museum ini.


  1. Museum Kapal Samudraraksa

 Kapal Samudraraksa merupakan satu dari dua museum yang ada di kawasan Candi Borobudur. Museum ini menjadi persinggahan terakhir Kapal Samudraraksa atau Kapal Borobudur yang telah mengarungi Samudera Hindia hingga ke wilayah Afrika. Museum yang diresmikan pada tanggal 31 Agustus 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono ini terdiri dari tiga bangunan. Bangunan pertama merupakan tempat informasi, display foto, poster, relief, serta pemutaran film. Bangunan kedua yang berbentuk rumah joglo merupakan tempat kapal Samudraraksa dipajang. Selain kapal, di bangunan kedua ini disimpan barang-barang yang dipergunakan oleh para awak kapalnya sewaktu berlayar mengarungi samudera, seperti: peralatan memasak, peralatan rumah tangga sehari-hari, buku, kaset, cd, vcd, dan obat-obatan. Sedangkan bangunan ketiga berfungsi sebagai kantor dan tempat penjualan suvenir.


  1. Kereta Mini

Berkeliling Candi dapat juga dilakukan dengan mengendarai kereta taman. Dapat melihart candi dari seluruh arah dan juga melihat taman serta museum yang tersedia di taman wisata candi.


  1. Visitor Center & Audio Visual

Tempat pengunjung memperoleh beragam informasi awal mengenai candi. Juga informasi mengenai beragam fasilitas yang ada di dalam Taman Wisata Candi Borobudur. Disini juga terdapat audio visual yang memutar film dokumenter mengenai candi Borobudur.


  1. Sepeda

Dengan Menaiki sepeda, pengunjung semakin mudah eksplorasi kawasan Taman Wisata Candi dengan lebih leluasa dan menyenangkan, sambil menghirup segarnya udara di sekitar taman.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerusakkan Pada Candi Borobudur

Ada 2 faktor  utama yang mempengaruhi kerusakkan bagian-bagian Candi Borobudur, yaitu faktor dari dalam dan faktor luar.

Faktor dari dalam adalah besarnya tekanan antarbatuan yang menyusun Candi Borobudur. Karena Candi Borobudur disusun dari banyak sekali batuan yang ditumpuk, maka sudah pasti batu yang di atas akan menekan batu yang berada di bagian bawah. Sedikit demi sedikit, batuitu akan retak dan lama kelamaan akan menjadi pecah.

Faktor dari luar yang mempengaruhi rusaknya bangunan Candi Borobudur diantaranya adalah faktor iklim, faktor lumut dan ganggang, serta faktor manusia.

  • Pada faktor iklim, yang mempengaaruhi adalah suhu dan curah hujan. Suhu yang panas ada siang hari meyebabkan batuan memuai, sedangkan suhu yang dingin pada malam hari menyebabkan batuan menyusut. Perubahan suhu yang  terjadi terus, menyebabkan batuan mengalami retak pad permukaan. Namun, paktor suhu hanyaberpengaruh pada bagian luar candi yangterkena sinar matahari. Curah hujan juga berpengaruh terhdap kerusakkan pada batuan. Curah hujan yang tinggi pada musim hujan, dapat mengikis permukaan batuan sedikit demi sedikit. Kondisibatuan yang lembap karena hujan, juga dapat memicu tumbuhnya lumut dan ganggang, serta jamur kerak.
  • Lumut, ganggang, serta jamur kerak akan tumbuh di permukaan batuan yang lambap, sehingga dapat menimbulkan pelapukkan pada batuan, dan mengurangi kekuatan batuan itu. Ketiga jenis tanaman ini biasanya hidup ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, ataupun pada batuan yang ada dibagian dalam Candi. Hal ini sangat menghawatirkan bagi Candi Borobudur.
  • Faktor yang terakhir adalah Manusia. Karena sifat Manusia itu berbeda-beda, maka perilaku seseorang terhadap benda bendapun berbeda-beda. Banyak tangan-tangan jahila manusia yang mengunjungi Candi Borobudur, mengambil sebagian kecil batuan penyusun candi borobudur, sekedar hanya sebagai buah tangan. Padahal kerusakkan sedikitsaja pada batuan akan mempengaruhi kualitas kekuatan batuan lainnya yang mengikat Candi Borobudur yang dibangun dengan sistem dry masony “tanpa perekat”. Ada pula yang tidak sekedar mengambil sebagian kecil bagian, tetapi banyak bagian terutama patung-patung Buda di Candi Borobudur. Harga yang mahal mengingat hal itu merupakan peninggalan sejarah, memicu para penjarah untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Daftar Pustaka:

  • Madhori. 2008. Borobudur Sepanjang MasaYogyakarta: Media Cipta Pustaka.
  • Samidi. 1975. Penelitian Pendahuluan Pemberantasan Lumut Pada Batuan Candi BorobudurJakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  •  MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993
  • Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Sejarah Candi Borobudur: Penafsiran, Pemugaran, Bangunan, Letak dan Fasilitas

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: