Batuan Piroklastik

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Hiposentrum“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Batuan-Piroklastik

Piroklastik adalah kata yang dipungut dalam bahasa Yunani, dimana pyro berarti api dan klastos berarti pecah. Tekstur dari batuan itu yaitu mempunyai ciri ada butiran fenokris dan mempunyai massa dasar laksana batuan porfiritik. Struktur dari fragmennya bengkok dan terdeformasi, tekstur ini terjadi sebab erupsi dari ledakan material yang berukuran debu yang dihembuskan ke udara.

Pengertian Batuan Piroklastik

Jadi, batuan piroklastik ialah batuan yang didapatkan dari proses litifikasi bahan-bahan yang dihembuskan dari pusat vulkanik sekitar masa erupsi yang mempunyai sifat eksplosif. Dimana nantinya bahan-bahan itu akan jatuh ke permukaan bumi yang lantas akan merasakan litifikasi baik tersebut sebelum di transport maupun hasil dari reworking. Berdasarkan keterangan dari Williams, Turner dan Guillbert pada tahun 1954, batuan ini adalahbatuan yang tersusun atas fragmen-fragmen hasil dari erupsi vulkanik.


Tekstur dan Struktur

Tekstur dan struktur sebuah batuan ialah bagian terpenting guna mengetahui ciri khas dari sebuah batuan. Setiap batuan mempunyai tekstur dan struktur tersendiri, laksana halnya batuan sedimen kimiawi. Berikut ialah penjelasan mengenai tekstur dan struktur dari batuan sedimen kimiawi.


1. Tekstur

Tekstur dari batuan piroklastik ialah suatu parameter yang dipakai untuk mendeskripsikan apakah batuan itu adalahbatuan piroklastik atau tidak, berikut ialah hal-hal yang butuh diketahui mengenai tekstur umum dari batuan piroklastik:

  • Ukuran butirnya menurut pendapat dari Wentworth dan Fisher. Berdasarkan keterangan dari Wentworth, debu/tufanya mempunyai ukuran butir 0-2 mm, lapili mempunyai ukuran butir 2-32 mm, block/bom mempunyai ukuran butir 32-256 mm. Sedangkan menurut keterangan dari Fisher, debu/tufanya mempunyai ukuran butir <2 mm, lapili mempunyai ukuran butir 2-64 mm dan block/bomb mempunyai ukuran butir >64mm.
  • Bentuk butirnya bulat sempurna laksana bola dan mempunyai sudut di setuap permukaannya. Bentuk butir ini merupakan suasana dari batuan tersebut.
  • Kompaksinya terdiri atas kompaksi yang gampang hancur dan kompak, dimana kompaksi yang gampang hancur bila dipegang bakal meninggalkan serbuk di tangan, sementara kompaksi yang kompak mempunyai permukaan yang kuat, keras dan padat.
Artikel Terkait:  Patahan Memusat

Di samping tekstur umum yang ada pada batuan piroklastik, ada pun tektur beda yang ada pada tufa yang diantaranya merupakan:

  1. Weldered Tufa – Weldered tufa adalah tufa yang identik mempunyai aliran yang sama dengan aliran lavanya, urusan ini diakibatkan karena fusi yang berlangsung ke semua bagian pada tufa pada ketika proses pengendapan.
  2. Sindered Tufa – Sindered tufa terbentuk sebab adanya difusi dari bahan-bahan tufa panas yang berasal dari aliran lava pada ketika proses pengendapan.
  3. Pumiceous (Pumisan) – Pumiceous ialah jenis tufa yang mempunyai pori-pori vesikuler yang mempunyai sifat halus dengan permeabilitak yang buruk.

2. Struktur

Struktur dari batuan piroklastik mempunyai butiran yang kasar maupun halus, dimana struktur tersebut tidak jarang kali ada pada batuan sedimen laksana halnya perlapisan. Batuan piroklastik yang berbutir halus terkadang menunjukkan tekstur yang nyaris pada batuan beku lelehan. Butiran halus yang ada pada batuan piroklastik tidak jarang disebut sebagai tufa, dimana struktur tufa ini akan memprovokasi penamaan dari batuan piroklastik yang lantas terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Aglomerat – Aglomerat adalah jenis batuan sedimen klastik. Aglomerat adalah batuan piroklastik yang nyaris sama dengan batuan konglomerat, akan namun mempunyai komposisi yang berbeda. Dimana aglomerat berasal dari material vulkanik, sementara konglomerat berasal dari material sedimen. Aglomerat ini mempunyai ukuran butir >32 mm.
  • Breksi Vulkanik – Breksi vulkanik adalah breksi yang serupa batuan sedimen akan namun komposisinya berasal dari material vulkanik yang memiliki ukuran butir >32 mm.
  • Tufa Lapili – Tufa adalah batuan piroklastik yang berukuran halus, batuan ini terdiri atas material fragmen yang mengkristal atau berasal dari mneral. Berdasarkan komponen yang mempunyai kandungan fragmen kristal/mineral yang terkandung, tufa terbagi atas 3 jenis, yakni tufa vitric yang memiliki tidak sedikit fragmen gelas, tufa kristal yang memiliki tidak sedikit fragmen kristal dan tufa lithik yang memiliki tidak sedikit fragmen batuan.
Artikel Terkait:  Klasifikasi Endapan Bijih

Klasifikasi Endapan

Endapan piroklastik berawal dari adanya jatuhan saat gunung berapi meletus yang lantas pengendapan yang terjadi mempunyai ukuran yang tebal. Adapun pembagian endapan piroklastik terbagi atas 3 macam, yaitu:

  • Endapan Jatuhan Piroklastik – Merupakan endapan piroklastik yang didapatkan dari letusan eksplosif material vulkanik ke atmosfer yang lantas jatuh pulang dan terkumpul di dekat gunung berapi. Endapan ini mempunyai ketebalan endapan yang relatif berukuran sama.
  • Endapan Aluran Piroklastik – Merupakan endapan yang didapatkan dari proses pergerakan lateral di permukaan tanah dari fragmen-fragmen piroklastik yang di transport dalam format gas atau cairan, dimana material vulkanik ini bakal di transportasi jauh dari gunung berapi. Endapan ini pada lazimnya mempunyai aliran kebawah dari pusat letusan gunung berapi yang mempunyai kecepatan tinggi saat terjadi longsoran. Endapan ini seringkali mengandung batuan yang mempunyai ukuran bongkah.
  • Endapan Surge Piroklastik – Endapan ini didapatkan dari letusan gunung berapi yang lantas dialirkan sebab ada penyatuan dari jatuhan dan aliran. Karakteristik dari endapan ini ialah mempunyai stratifikasi yang bersilang, strukturnya berpasir, laminasi planar, mempunyai struktur pind and swell serta mempunyai endapan yang tidak banyak menebal pada unsur topografi yang rendah dan menipis pada unsur topografi yang tinggi.

Mekanisme Pengendapan

Proses bentukan batuan piroklastik bermula dari letusan gunung berapi yang menerbitkan magma dari perut bumi yang diakibatkan karena tenaga yang paling besar, yakni tenaga endogen. Mekanisme pengendapan batuan itu terbagi atas 3 macam, yaitu:

  • Fall Deposit adalah mekanisme pengendapan batuan piroklastik yang disusun dari jatuhan mineral halus yang terbawa oleh tenaga angin.
  • Flow Deposit adalah mekanisme pengendapan batuan piroklastik yang dibawa oleh media air, dimana saat diangkut bareng air terjadi pencampuran dari sekian banyak macam ukuran butiran.
  • Surge Deposite adalah mekanisme pengendapan batuan piroklastik yang terbentuk karena campuran antara pirkolastik yang disusun oleh jatuhan dan aliran.
Artikel Terkait:  Jenis Tanaman Pantai

Mineral Penyusun

Mineral penyusun batuan piroklastik nyaris sama dengan mineral pembentuk batuan beku. Hal ini diakibatkan karena zat yang terdapat dalam mineral penyusunnya sama, yakni tersusun dari magma. Bagi membedakannya maka dapat disaksikan dari format butirannya, pada batuan beku butirannya merupakan gabungan dari sejumlah butir sementara pada batuan piroklastik butirannya merupakan campuran dari butiran. Mineral penyusun batuan piroklastik terbagi atas 3 macam, yakni :

  1. Mineral Sialis – Mineral sialis adalah mineral yang terdiri atas mineral kuarsa, mineral feldspar dan mineral felspatoid.
  2. Mineral Femis – Mineral jenis ini paling kaya bakal kandungan besi magnesiumnya, yang terdiri atas olivin, melilit dan piroskin.
  3. Mineral Tambahan – Mineral ekstra ini terdiri atas biotit, amfibol dan hipersten.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Batuan Piroklastik adalah: Tekstur, Struktur, Klasifikasi, Mekanisme

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: