Alterasi Mineral

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Alterasi Mineral“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Alterasi-Mineral

Alam menyerahkan segala format sumber dayanya yang sangat diperlukan oleh manusia. Baik tersebut dalam format logam maupun bukan logam. Jika kita merundingkan mengenai logam, tentu mempunyai kebersangkutanan dengan alterasi. Alterasi sendiri adalah proses evolusi komposisi mineralogi batuan dalam situasi padat, sebagai dampak adanya pengaruh suhu dan desakan tinggi serta tidak dalam situasi isokimia, sampai-sampai menghasilkan mineral berupa lempung, oksida, kuarsa, atau sulfida logam. Proses alterasi ialah suatu langkah sekunder, sangat bertolak belakang dengan metamorfisme yang tergolong ke dalam langkah primer.

Sedangkan guna alterasi mineral yakni mengacu pada segala sesuatu yang bersangkutan dengan proses alam dalam mengolah komposisi kimia mineral atau kristalografi. Dalam urusan ini hukum – hukum termodinamika sangat urgen dan erat kaitannya dengan konservasi energi, relevan dengan lingkungan, terbentuk katalis, dan yang sangat sering ditemukan yakni pengaruh dalam format air. Seperti yang sudah di singgung di atas, andai alterasi mineral sangat bertolak belakang dengan alterasi batuan pada proses metamorfisme. Tidak melulu itu saja, proses alterasi mineral pun mempunyai perbedaan dengan proses pelapukan. Akan namun kedua proses itu sama – sama menolong dalam proses alterasi mineral.


Proses Alterasi Mineral

Beberapa misal proses alterasi mineral yakni:

  • Oksidasi, dapat ditemukan ketika mineral besi (Fe) yang ada di alam laksana FeS2 (pirit) merasakan oksidasi menjadi mineral goetit atau besi hidroksida.
  • Kaolinisasi, proses alterasi mineral alkali felspar yang merasakan perubahan menjadi mineral lempung kaolinit dan dapat diketahui dengan timbulnya larutan tidak banyak asam. Proses kaolinisasi tidak sedikit ditemukan pada batuan granitik dengan jumlah mineral alkali felspar lumayan tinggi.
  • Dolomitisasi, proses yang mengacu pada kumpulan batuan sedimen karbonat yang mempunyai kandungan kalsit paling tinggi laksana pada batu gamping. Batu gamping tersebut pulang menjadi batuan dolomit yang kaya bakal magnesium. Dalam urusan ini ada proses diagenesis yang menjadi penyebab utama dan melibatkan sebanyak air bersuhu tidak terlampau panas.
Artikel Terkait:  Negara Yang Kekurangan Pria

Contoh Alterasi Mineral

Berikut ini sejumlah contoh mineral yang bisa terbentuk dari proses alterasi yakni:


1. Actinolit/ Ca2(Mg,Fe)5Si8o22(OH)2

Actinolit ialah suatu mineral yang mempunyai warna hijau gelap, sistem kristal monoklin, memiliki belahan sempurna, mengkilap laksana kaca, ada cerat berwarna putih, dan berbentuk elongated. Mineral ini terbentuk pada suhu 800 – 900 derajat celcius. Actinolit berasal dari hasil alterasi piroken pada gabro serta diaba di dalam proses metamorfik green schist facies.


2. Adularia / KalSi3O8

Mineral satu ini mempunyai warna putih dengan tidak banyak merah muda, memiliki sistem kristal monoklin, belahan 2 arah, kilap laksana kaca, ada cerat putih dengan format prismatik. Adularia terbentuk pada suhu 700 derajat celcius sebagai dampak adanya proses hidrotermal dengan suhu rendah berupa urat.


3. Albite / NaAlSi3O8

Albite dapat diketahui dari warnanya yaitu putih dengan sistem kristal triklin, ada belahan 3 arah, pecahannya yang tidak rata – konkoidal, serupa kilap kaca dan cerat berwarna putih. Mineral ini terbentuk di dalam suhu 750 – 800 derajat celcius, dan diakibatkan adanya proses hidrotermal bersuhu rendah dan pun alterasi dari plagioklas. Sedangkan guna proses metamorfik dilangsungkan pada temperatur dan desakan rendah, serta proses magmatisme dan pun proses albitisasi.


4. Biotite / K(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2

Mineral ini memiliki karakteristik yaitu berwarna hitam dengan sistem kristal monoklin, memiliki belahan sempurna, format pecahan tidak rata dengan kilap kaca dan mutiara, ada cerat putih berbentuk tabular. Biotite terbentuk di suhu 700 – 800 derajat celcius dampak adanya proses magmatis, metamorf dan pun hidrotermal. Biasanya tidak sedikit ditemukan di wilayah sekitar magmatis.


5. Dolomite / CaMg(CO3)2

Hampir sama dengan minerl albite, dolomite pun mempunyai warna putih dengan tidak banyak warna merah jambu tetapi mempunyai sistem kristal heksagonal. Belahan tampak sempurna dengan pecahan subkonkoidal, kilap laksana kaca dan ada cerat putih. Dolomite terbentuk dari proses hidrotermal dengan suhu rendah berupa urat. Mineral ini pun dapat terbentuk di lingkungan laut sebagai proses dolomitisasi batu gamping serta proses metamorfik atau dolostone protoliths.

Artikel Terkait:  Kelebihan dan Kekurangan Masyarakat di Daerah Beriklim Muson Tropis

6. Epidote / Ca2Al2(Fe3+;Al)(SiO4)(Si2O7)O(OH)

Epidote memiliki warna khas yakni kehijauan dengan sistem kristal monoklin. Jika diacuhkan lebih seksama, mempunyai belahan lumayan jelas yakn 2 arah tetapi pecahan tidak rata. Terdapat kilap kaca bercerat putih dengan format prismatik. Epidote terbentuk di temperatur 900 – 1000 derajat celcius sebagai dampak dari proses metamorphisme pada fasies green schict dan pun glaucophane schist serta hidrotermal atau propylitic alteration. Pada proses magmatik sendiri paling jarang menghasilkan mineral epidote.


7. Garnet / X3Y2(SiO4)3

Mineral yang satu ini mempunyai warna yang estetis yaitu hijau gelap atau merah gelap dengan sistem kristal rhombic dodekahedron, format belahan tidak sempurna, pecahan konkoidal serta mengindikasikan kenampakan tabular. Garnet terbentuk di suhu yang lumayan tinggi yakni sekitar 1.600 – 1.800 derajat celcius dan tidak sedikit ditemukan pada zona kontak magmatic plutons bersuhu paling tinggi, yaitu mineralisasi skarn. Tidak melulu itu saja, mineral garnet pun dapat terbentuk dampak proses metamorfisme di lingkungan wilayah magmatisme.


8. Mikrocline (KalSi3O8)

Mikrocline berwarna berpengaruh putih dengan tidak banyak corak hijau, mempunyai sistem kristal triklin dengan belahan 2 arah, pecahan tidak begitu rata, memiliki kilap kaca mutiara, ada cerat putih serta menunjukan format prismatik. Mikrocline terbentuk di suhu 700 derajat celcius sebagai dampak adanya proses magmatik sampai-sampai menghasilkan plutonic rock yang dikenal dengan nama pegmatit. Tidak melulu itu saja mikrocline pun mengalami proses metamorfik bersuhu rendah yakni gneiss dan schict dan pun proses hidrotermal.


9. Wollastonite / (CaSiO3)

Mineral ini bisa diketahui dari warnanya yakni putih dengan sistem kristal triklin, kilap kaca, memiliki belahan sempurna 3 arah tetapi pecahan tidak rata, bercerat putih dengan format tabular. Wollastonite terbentuk di temperatur 1.100 derajat celcius, merasakan proses metamorfisem kontak pada calcareous dan marl rocks serta proses metamorfisme regional bertekanan rendah.

Artikel Terkait:  Penyebab Meteor Jatuh

10. Zeolite / Na2Al2Si3O10 – 2H2O

Zeolite berwarna abu – abu keputihan, mempunyai sistem kristal monoklin, format belahan sempurna dengan 3 arah, pecahan tidak rata, kilap kaca, ada kerat kaca berwarna putih berbentuk elongated – prismatik. Mineral zeolite terbentuk di suhu 600 – 700 derajat celcius sebagai dampak adanya proses hidrotermal yang memenuhi urat serta rongga yang ada pada batuan beku dan pun mengalami proses metamorpisme burial.


11. Prehnite / Ca2Al(AlSi3O10)(OH)2

Mineral dengan warna kehijauan ini memiliki sistem kristal orthorombic dengan belahan sempurna. Pecahannya tidak rata tetapi ada kilap kaca dengan cerat berwarna putih berbentuk tabular. Prehnite terbentuk di suhu 700 – 800 derajat celcius sebab merasakan proses metamorfisme dan pun proses hidrotermal yang memenuhi rongga – rongga yang ada pada batuan volkanik basalt.


Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Perbedaan Bijih Logam dan Bijih Besi Beserta Penjelasannya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Juga :